Kamera pengawas atau CCTV terpasang di JPO Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. MI/Pius Erlangga
Kamera pengawas atau CCTV terpasang di JPO Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. MI/Pius Erlangga

Tilang Elektronik

Besaran Denda Tilang Elektronik

Otomotif lalu lintas tilang elektronik
M. Bagus Rachmanto • 27 Januari 2020 17:16
Jakarta: Sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (e-TLE) telah menjaring ribuan pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Bagi pengendara yang melanggar harus siap dengan sanksi tilang dan denda yang harus dibayarkan.
 
Pelanggaran lalu lintas diatur dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Seluruh pelanggaran lalu lintas yang terekam tilang elektronik (e-TLE) akan dikenakan denda sesuai jenis pelanggaran. Denda maksimal itu dapat dikenakan pada pengendara yang menggunakan telepon genggam saat mengemudi mobil.
 
"Setiap pelanggaran beda-beda dendanya sesuai aturan perundang-undangan. Namun, denda maksimal capai Rp750 ribu," kata Kepala Seksi STNK, Kompol Arif Fazrulrahman di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada sejumlah jenis pelanggaran yang mampu direkam oleh kamera canggih itu di antaranya pelanggaran marka jalan, lampu merah, traffic light (TL). Kemudian pelanggaran ganjil genap, tidak menggunakan sabuk pengaman (safety belt), menggunakan handphone saat berkendara dan kecepatan maksimal 40 km per jam.
 
Aturan itu terdapat dalam Pasal 106 ayat 1. Dalam pasal itu menyebutkan bahwa, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan dapat dipidana.
 
"Ancamannya, bisa dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu," ujar Arif.
 
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), bagi pengendara yang terkena sanksi tilang karena melanggar aturan lalu lintas harus membayar denda. Adapun besaran dendanya berbeda-beda sesuai dengan jenis pelanggarannya.
 
Salah satu contohnya, pengendara yang melanggar rambu-rambu lalu lintas atau aturan batas kecepatan, akan dipidana dengan kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu.
 
Sementara pengendara atau penumpang yang duduk disamping pengemudi, tidak menggunakan sabuk pengaman, akan dipidana dengan kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250 ribu.
 
Hukuman ini juga berlaku sama untuk pengendara yang kendaraannya tidak memenuhi persyaratan teknis seperti spion, lampu utama, kaca depan, serta penghapus kaca. Bermain ponsel pintar saat berkendara termasuk pelanggaran lalu lintas karena mengganggu konsentrasi pengemudi. Pelanggar jenis ini terancam dikenakan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu.
 
Sementara itu, lanjut Arif, bagi pengendara yang melanggar rambu lalu lintas dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu. Hal ini terdapat pada Pasal 287 ayat 1.
 
"Pelanggar ganjil genap bisa dikenakan Rp500 ribu," tambahnya.
 
Kemudian, bagi pengendara yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah juga bisa dipidana. Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya mengatur kecepatan kendaraan dalam kota maksimal 40 km per jam.
 
"Pelanggar bisa dikenakan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu, sesuai Pasal 287 ayat 5," imbuh Arif.
 
Arif mengatakan, denda paling rendah dikenakan pada penumpang atau pengemudi yang tidak mengenakan sabuk pengaman. Hal ini diatur dalam Pasal 289.
 
"Setiap pengemudi atau penumpang yang tak mengenakan sabuk keselamatan dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250 ribu," pungkas Arif.
 
Denda tilang elektronik ini dapat dibayarkan melalui Bank BRI. Pelanggar diberi waktu 14 hari untuk membayarkan denda. Jika melebihi batas waktu, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) otomatis terblokir.
 
Saat ini, Ditlantas Polda Metro Jaya telah mempunyai 12 kamera tilang elektronik. Dua kamera telah diterapkan sejak 1 November 2018 lalu. Sementara 10 kamera baru saja diterapkan sejak 1 Juli.
 
Dua belas kamera ini ditempatkan di kawasan Sudirman-Thamrin. Di antaranya, JPO MRT Senayan, JPO MRT Semanggi, JPO Kemenpar, JPO MRT Kemenpan RB, Fly Over Sudirman, Simpang Bundaran Patung Kuda, Fly Over Thamrin, Simpang Sarinah, Simpang Sarinah Starbucks, dan JPO Plaza Gajah Mada.
 
Tilang elektronik ini dinilai mampu menurunkan jumlah pelanggar hingga 40 persen. Ke depan, tilang elektronik ditargetkan dapat menekan jumlah pelanggaran di atas 50 persen.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif