Bahan Bakar Ethanol dan Gas, Realistis untuk Indonesia
Bahan bakar paling realistis untuk Indonesia adalah ethanol dan gas. dok medcom.id
Jakarta: Berbicara tentang teknologi otomotif yang berkembang semakin pesat, teknologi mobil listrik disinyalir paling sesuai dikembangkan untuk kendaraan ramah lingkungan. Namun Gabungan Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) punya pandangan berbeda soal itu.

Menurut Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara saat berbicara kepada Medcom.id beberapa waktu lalu, bahwa penentuan teknologi otomotif juga harus disesuaikan dengan negara itu. Pengembangan teknologi otomotif harus memihak ke masyarakat dan dapat menghidupkan bangsa sendiri.

"Kalau berbicara tentang mobil listrik, ya memang ramah lingkungan karena zero emisi. Tapi kan kita berbicara ramah lingkungan harus melihat prosesnya secara utuh untuk menghasilkan listrik. Pembangkit listrik di Indonesia masih banyak yang menggunakan batu bara yang notabene menghasilkan emisi jauh lebih besar dari pada kendaraan konvensional itu sendiri," ujar Kukuh.


Solusi yang diungkapkan oleh pejabat teras di asosiasi industri otomotif nasional itu adalah memanfaatkan bahan bakar yang diproduksi secara nasional. Dan salah satunya sudah diterapkan pemerintah untuk mesin-mesin diesel saat ini yaitu biodiesel. Bahan bakar ini merupakan bahan bakar yang dihasilkan dari pencampuran ethanol 20 persen dan solar.

"Ada dua yang menurut saya realistis untuk Indonesia, yaitu bahan bakar ethanol dan gas. Keduanya bisa kita hasilkan di negara ini, petaninya banyak dan memang melimpah produksinya. Kemudian yang kedua adalah bahan bakar gas, industri otomotif sudah banyak yang punya mobil yang bisa menggunakan bahan bakar gas. Jadi harusnya ini yang digalakkan."

Kukuh bergarap bahwa saat ini memang teknologi kendaraan listrik terus digaungkan. Tapi Ia sangat menyayangkan karena teknologinya produksi listrik nasional belum stabil. Belum lagi teknologi baterai yang produsennya mayoritas dari Tiongkok dan Amerika. Hal lain soal itu adalah masalah pengolahan limbahnya.

"Saat ini baru Belgia yang bisa melakukan pengolahan limbah khusus baterai mobil listrik. Itu pun kita harus bayar sedemikian besar kalau mau membuang limbah untuk diolah di sana. Jadi rasanya sangat kompleks. Makanya itu alasan saya katakan paling masuk akal untuk bahan bakar ethanol dan gas.



(UDA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id