Penjualan Mobil Diprediksi Stagnan di 2019
Sektor otomotif tahun depan diprediksi masih stagnan. Dok Medcom
Jakarta: Target penjualan kendaraan roda empat atau lebih yang dipatok sebanyak 1,1 juta unit pada tahun ini diprediksi akan tercapai. Ketua Satu Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongki Sugiarto mengungkapkan, hingga Oktober, angka penjualan sudah mencapai 960 ribu unit, tumbuh 7 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kalau dihitung rata-rata, setiap bulan terjual 80 ribu unit. Sekarang tersisa dua bulan. Kalau sesuai hitungan, bisa ada 160 ribu unit lagi akan terjual sampai akhir tahun. Jadi akan sesuai target," ujar Jongkie di Jakarta, Senin (3/12).

Ia mengungkapkan, pada tahun ini, kenaikan penjuala signifikan hingga 30 persen terjadi pada kendaraan niaga seperti truk. Masifnya pembangunan infrastruktur menjadi pendorong utama terjadinya hal tersebut.


"Banyak truk yang digunakan untuk mengangkut bahan baku pembangunan infrastruktur. Truk juga digunakan untuk mengangkut hasil tambang dan perkebunan dan keperluan logistik lainnya," jelas Jongkie.

Sementara, penjualan kendaraan jenis sedan turun 22 persen dan low cost green car (LCGC) juga turun 3 persen. Memprediksi tahun berikutnya, Ia mengatakan kondisi tidak akan berbeda. Pasalnya, penjualan kendaraan bermotor tidak akan bergerak jauh dari pertumbuhan ekonomi.

"Industri ini bergantung terhadap beberapa hal seperti pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi diprediksi stagnan, pertumbuhan penjualan juga begitu," ucapnya.

Hal lainnya yang mempengaruhi penjualan adalah tingkat suku bunga. Jika bank sentral terus melakukan eskalasi suku bunga acuan, penjualan kendaraan bermotor pasti akan terganggu. "Sebanyak 70 persen penjualan itu dibiayai kredit. Kalau cicilan naik, masyarakat akan menahan diri membeli kendaraan," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia sudah menaikan suku bunga sebanyak 175 basis poin atau 1,75 persen sebagai salah satu cara menjaga stabilitas nilai tukar. Meski di sisi lain, hal itu juga bisa menyebabkan penyaluran kredit perbankan kian ketat.



(UDA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id