Jakarta: Tim redaksi Medcom.id kemarin sudah membahas keunggulan dan kekurangan dari sasis monokok untuk mobil penumpang. Selain sasis monokok, di dunia otomotif juga dikenal model sasis lainnya yang biasa dikenal dengan nama Ladder frame.
Nama ladder frame diambil karena bentuk sasisnya memang desainnya menyerupai anak tangga. Jika jenis monocoque menyatukan rangka dan bodi, maka pada ladder frame sasis dan body dibuat terpisah. Di model ladder frame, body mobil diletakkan di atas rangka atau sasis.
Dikutip dari berbagai sumber, sasis ladder frame memiliki karakteristik yang kuat, tangguh, dan sanggup menopang beban yang berat. Sasis ladder frame digunakan pada mobil-mobil berukuran besar seperti truk dan kendaraan niaga lainnya seperti double cabin.
Sasis model ini biasanya banyak digunakan di mobil-mobil offroad. Desain antara sasis dan body yang terpisah membuatnya mudah untuk diperbaiki jika mengalami kerusakan, dan kemampuan sasis ladder frame untuk membawa muatan juga lebih baik dibandingkan sasis monokok.
Department Head After Sales Field Region I Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Abdul Rauf, menjelaskan untuk mobil dengan basis ladder frame bisa saja melakukan penggantian sasis jika mengalami kerusakan. Hal ini akan lebih baik dibandingkan memperbaikinya yang menelan biaya yang besar serta waktu pengerjaan yang lama.
"Kalau penanganan terhadap sasis, tinggal lihat kerusakannya. Misalnya bengkok atau patah, tinggal pilih ditarik atau disambung. Nantinya ada resiko karena kekuatannya sudah berbeda. Dari pada risiko, mending diganti," ujar Abdul Rauf beberapa waktu lalu di dealer Mitsubishi Tebet.
"Harga sasisnya mungkin Rp10-20 juta. Biaya ketuk (nomor) sasisnya tak sampai Rp1 juta. Biaya totalnya tergantung berapa suku cadang yang harus diganti dan biaya pengerjaan, tak sampai Rp100 juta," beber Abdul Rauf.
Jika ada keunggulan, tentu saja ada kelamahan ketika menggunakan sasis ladder frame. Harus diakui bahwa mobil-mobil dengan sasis ladder frame akan lebih boros untuk urusan konsumsi bahan bakar, dibandingkan mobil dengan sasis monokok. Hal ini dikarenakan bobot sasis ladder frame dengan body lebih berat dibandingkan sasis monokok, sehingga berpengaruh terhadap kinerja mesin dan konsumsi bahan bakar.
Beberapa mobil yang dipasarkan di Indonesia masih menggunakan sasis model ladder frame. Sebut saja Toyota fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, Isuzu MU-X, atau bahkan multi purpose vehicle Toyota Kijang Innova dan Isuzu Panther.
Jakarta: Tim redaksi
Medcom.id kemarin sudah membahas keunggulan dan kekurangan dari sasis monokok untuk mobil penumpang. Selain sasis monokok, di dunia otomotif juga dikenal model sasis lainnya yang biasa dikenal dengan nama Ladder frame.
Nama ladder frame diambil karena bentuk sasisnya memang desainnya menyerupai anak tangga. Jika jenis monocoque menyatukan rangka dan bodi, maka pada ladder frame sasis dan body dibuat terpisah. Di model ladder frame, body mobil diletakkan di atas rangka atau sasis.
Dikutip dari berbagai sumber, sasis ladder frame memiliki karakteristik yang kuat, tangguh, dan sanggup menopang beban yang berat. Sasis ladder frame digunakan pada mobil-mobil berukuran besar seperti truk dan kendaraan niaga lainnya seperti double cabin.
Sasis model ini biasanya banyak digunakan di mobil-mobil offroad. Desain antara sasis dan body yang terpisah membuatnya mudah untuk diperbaiki jika mengalami kerusakan, dan kemampuan sasis ladder frame untuk membawa muatan juga lebih baik dibandingkan sasis monokok.
Department Head After Sales Field Region I Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Abdul Rauf, menjelaskan untuk mobil dengan basis ladder frame bisa saja melakukan penggantian sasis jika mengalami kerusakan. Hal ini akan lebih baik dibandingkan memperbaikinya yang menelan biaya yang besar serta waktu pengerjaan yang lama.
"Kalau penanganan terhadap sasis, tinggal lihat kerusakannya. Misalnya bengkok atau patah, tinggal pilih ditarik atau disambung. Nantinya ada resiko karena kekuatannya sudah berbeda. Dari pada risiko, mending diganti," ujar Abdul Rauf beberapa waktu lalu di dealer Mitsubishi Tebet.
"Harga sasisnya mungkin Rp10-20 juta. Biaya ketuk (nomor) sasisnya tak sampai Rp1 juta. Biaya totalnya tergantung berapa suku cadang yang harus diganti dan biaya pengerjaan, tak sampai Rp100 juta," beber Abdul Rauf.
Jika ada keunggulan, tentu saja ada kelamahan ketika menggunakan sasis ladder frame. Harus diakui bahwa mobil-mobil dengan sasis ladder frame akan lebih boros untuk urusan konsumsi bahan bakar, dibandingkan mobil dengan sasis monokok. Hal ini dikarenakan bobot sasis ladder frame dengan body lebih berat dibandingkan sasis monokok, sehingga berpengaruh terhadap kinerja mesin dan konsumsi bahan bakar.
Beberapa mobil yang dipasarkan di Indonesia masih menggunakan sasis model ladder frame. Sebut saja Toyota fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, Isuzu MU-X, atau bahkan multi purpose vehicle Toyota Kijang Innova dan Isuzu Panther.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)