Solar B30 dapat meningkatkan performa dan rendah emisi gas buang. AntaraFoto/Aprillio akbar
Solar B30 dapat meningkatkan performa dan rendah emisi gas buang. AntaraFoto/Aprillio akbar

Bahan Bakar

Mengenal Solar B30, Campuran Solar dan Minyak Nabati

Otomotif bahan bakar gas Solar
Ekawan Raharja • 27 Desember 2019 12:32
Jakarta: Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, sudah meluncurkan Program Mandatori B30 pada Senin silam (23/12/2019) untuk diimplementasikan secara serentak di seluruh Indonesia mulai 1 Januari 2020. Solar B30 merupakan pengembangan dari Solar B20 yang sebelumnya sudah disebarkan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di seluruh Indonesia.
 
Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), meracik biodiesel yang merupakan BBN untuk mesin diesel berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi/transesterifikasi. Untuk saat ini, bahan baku biodiesel yang digunakan di Indonesia sebagian besar berasal dari minyak sawit (CPO). Selain dari CPO, tanaman lain yang berpotensi untuk bahan baku biodiesel antara lain tanaman jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, nyamplung dan lain-lain.
 
Solar B30 merupakan salah satu bentuk inovasi bahan bakar solar dengan perpaduan antara 70 persen minyak solar dengan 30 persen minyak nabati atau nama lainnya FAME. Saat ini Solar yang ada sebelumnya di Indonesia masih di tahap pencampuran 20 persen FAME atau yang lebih dikenal dengan nama Solar B20, sesuai dengan SK Dirjen Migas Nomor 28 tahun 2016.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemerintah melakukan inovasi dengan Solar B30 sebagai bentuk menyediakan BBM yang lebih ramah lingkungan. Karena Solar yang ada saat ini sudah tidak sepenuhnya dihasilkan dari minyak bumi yang tidak bisa didaur ulang. Selain itu pengembangan bahan bakar biodiesel merupakan program strategis pemerintah untuk meningkatkan ketahanan energi melalui diversifikasi energi dengan mengutamakan potensi energi lokal.
 
"Kita berusaha untuk mencari sumber-sumber energi terbarukan. Kita harus melepaskan diri dari ketergantungan kepada energi fosil yang suatu saat pasti akan habis. Pengembangan EBT (Energi Baru Terbarukan) juga membuktikan komitmen kita untuk menjaga bumi, menjaga energi bersih dengan menurunkan emisi gas karbon dan menjaga kualitas lingkungan," ungkap Joko Widodo saat peresmian.
 
Penerapan in tidak asal dilakukan oleh pemerintah karena sebelumnya sudah memulai Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 pada kendaraan bermesin diesel. Road test dilakukan dengan membandingkan kinerja penggunaan B30 dan B20 pada delapan unit kendaraan dengan berat kotor kendaraan di bawah 3,5 ton dan jarak tempuh 50 ribu kilometer (km).
 
Sementara untuk kendaraan dengan berat kotor kendaraan di atas 3,5 ton, road test dilakukan pada tiga unit kendaraan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah penggunaan B30 pada jarak tempuh 40 ribu km.
 
"Hasil road test B30 sejauh ini menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20, bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah," ujar Kepala Balitbang ESDM, Dadan Kusdiana, pada Kamis (29/08/2019).
 
Road test merupakan upaya Balitbang ESDM bersama-sama dengan BPDPKS, BPPT, APROBI, Pertamina dan Gaikindo dalam menyediakan data dan hasil uji guna mendukung implementasi kebijakan mandatori B30 pada Januari 2020.
 
"Parameter yang diukur selama road test adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi dingin, mutu bahan bakar dan pelumas. Salah satu output kegiatan road test ini adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30," ungkapnya.
 
Dadan memaparkan jarak yang telah ditempuh kendaraan uji per 21 Agustus adalah 35 ribu km untuk Mitsubishi Pajero Sport, 30 ribu km untuk Nissan Terra, 22 ribu km untuk Toyota Fortuner, 19 ribu km untuk DFSK Super Cab, 27 ribu km untuk truk Mitsubishi Fuso dan UD truck, serta 26 ribu km untuk truk Isuzu.
 
Sedangkan rute untuk kendaraan uji dengan bobot di bawah 3,5 ton adalah Lembang-Cileunyi-Nagreg-Kuningan-Tol Babakan-Slawi-Guci-Tegal-Tol Cipali-Subang-Lembang. Adapun rute untuk kendaraan uji dengan bobot di atas 3,5 ton adalah Lembang-Karawang-Cipali-Subang-Lembang.
 

(UDA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif