Selain merusak pemandangan, limbah ban bekas bisa  mengotori lingkungan dan menimbulkan penyakit. (foto dok Newatlas)
Selain merusak pemandangan, limbah ban bekas bisa mengotori lingkungan dan menimbulkan penyakit. (foto dok Newatlas)

Mengubah Ban Bekas Menjadi BBM Hemat Energi

Hilman Haris • 01 Desember 2016 18:21
medcom.id: Peningkatan jumlah kendaraan bermotor berbanding lurus dengan jumlah limbah ban bekas. Sialnya, bak bekas memberikan sederet hal negatif jika tidak dikelola dengan baik. Selain merusak pemandangan, limbah ban bekas bisa  mengotori lingkungan dan menimbulkan penyakit.
 
Persoalan itu coba dibenahi oleh Green Distillation Technologies (GDT). Caranya sangat unik. Mereka menciptakan Bahan Bakar Minyak (BBM) biofuel yang dianggap hemat energi dan bisa menjalankan mesin diesel turbo, serta mengurangi emisi sebesar 30 persen.
 
GDT yang diluncurkan pada tahun 2009, telah mempelopori teknologi daur ulang yang dinamakan distilasi untuk memecahkan masalah ini. Prosesnya tidak menimbulkan emisi sama dan minyak yang didaur ulang ini sebagian digunakan sebagai bahan bakar dalam proses produksi.

GDT bisa memproduksi 3 ribu liter bio-oil dari sebuah ban truk yang digunakan di pertambangan yang memiliki berat 7 ton. Mereka berharap produksi akan meningkat menjadi sekitar 8 juta liter setiap tahunnya pada medio 2017.
 
Proses dimulai dengan memasukkan ban bekas ke tempat pembakaran. Ban bekas dihancurkan melalui panas tinggi di ruang kedap udara. Lewat cara itu, GDT mengubah ban menjadi minyak yang bisa dijual, karbon, dan baja.
 
Lalu, apa hasil dari eksperimen GDT? 
 
"Kami sudah melakukan serangkaian tes. Hasilnya sangat menjanjikan. Bahkan ban bekas bisa menghasilkan bahan bakar hemat energi," klaim Queensland University of Technology (QUT)
 
"Kami menguji minyak yang dihasilkan GDT baik dari bahan alami dan ban sintetis dengan takaran 10 persen dan 20 persen dalam minyak disel," ujar Farhad Hossain, seorang kandidat doktor di QUT yang merupakan bagian dari studi ini.
 
"Campuran ban-minyak diuji dalam turbocharged, common rail, direct injection, mesin enam silinder. Percobaan kami dilakukan dengan kecepatan konstan dan empat beban yang berbeda," tambah Farhad.
 
Para peneliti menemukan ada penurunan sebanyak 30 persen dalam hal oksida nitrogen, gas rumah kaca, polutan udara, serta massa partikel yang lebih rendah. Artinya lebih sedikit masalah untuk sistem pengolahan emisi. Selain itu, minyak ini juga bisa digunakan sebagai bahan bakar pemanas. Bahkan, GDT berambisi menjadikan minyak ini menjadi bahan bakar jet otomotif atau penerbangan.
 
GDT, yang memenangkan penghargaan dalam pengelolaan sumber daya atau sumber daya terbarukan kategori di Edison Awards tahun lalu, telah menerima tawaran dari perusahaan. Nantinya, perusahaan tersebut ingin membeli sebanyak delapan juta liter minyak yang sudah didaur ulang oleh GDT. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HIL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan