Mengalami penyakit stroke dan gangguan infeksi paru-paru membuat kondisi Sarengat terus menurun. Dan sampai pada akhirnya, Senin 13 Oktober di Rumah Sakit Pondok Indah, Sarengat wafat di usia 74 tahun.
Pihak keluarga juga merasakan kehilangan Sarengat. Andung Sarengat, anak bungsu dari tiga bersaudara itu menuturkan bahwa sang ayah itu selalu memberikan contoh-contoh positif.
"Terima kasih pak sudah diberi kesempatan untuk melihat kehidupan yang indah ini, terima kasih sudah mengajari kami banyak hal, mohon maaf belum bisa memperlihatkan kehidupan Andung yang indah, tapi Andung akan selalu menjaga mama dan keluarga,"papar Andung saat memberikan sambutan setelah pemakaman ayahnya selesai.
Usai memberikan sambutan, pria yang mengaku menyukai olahraga basket itu mencoba menceritakan masa-masa indah dengan Sarengat.
"Dulu kan bapak pengurus PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia, red), pulang sekolah dulu nongkrong di PASI, lihat atlet-atlet latihan, kan bapak jadi pembina saat itu. Lalu, teman-temannya suka ngomong, bapak lo hebat nih. Memang kita sering ke situ dan kita lingkupnya di situ," ujar Andung saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Selasa (14/10/2014)
"Bapak enggak banyak bicara orangnya, tapi bapak banyak kasih lihat, kalau kita ga melihat baru dia ngomong, apalagi sama saya anak laki-laki satu-satunya. Tapi, dulu saya sama bapak seperti anjing sama kucing tidak bisa langsung ngomong harus ada mediasinya, sama ibu. Bapak sempat enggak mau bicara sama saya, mungkin karena saya badung. Lalu, beliau suka nulis di kertas dan ditempel di lemari dengan tulisan, ini kewajiban seorang anak. Jadi dia kasih nasihatnya dengan cara seperti itu, jadi kita harus berpikir sendiri, dia modelnya begitu. Keluarga kita dulu biasa sama sidang, jadi kalau ada masalah pasti ada sidang dikumpulin anak-anak," tutur pria satu anak itu.
Ketika disinggung adakah kenangan yang paling berkesan selama beliau hidup, Andung mengaku cukup banyak. Akan tetapi, yang masih segar dalam ingatan adalah saat menjaga ayahnya di rumah sakit.
"Kenangan banyak ya, tapi saya cukup puas karena selama tiga minggu ini saya selalu ada di rumah sakit. Tiga hari sebelum bapak meninggal, saya sempat buat playlist di Ipod pasang lagu kesukaannya beliau, beliau kayak nikmatin gitu, beliau suka lagunya Julio Iglesias 'Cant't help falling in love' dan 'My Way' itu favoritnya dia,"terang Andung.
"Bapak itu selalu berkesan dengan teman-temannya. Tapi, bagi anak-anaknya justru jadi momok, tapi buat temen-temennya badut banget. Tapi, seiring kita semakin dewasa, dia mulai berubah. Hal itu kelihatan kuno sih, kan bapak orang kampung, bapaknya penjual batik di Pekalongan. Kalau ibu saya kan memang orang Jakarta, bapak juga sering dihina karena dianggap cuma bisa lari doang, tapi dia mengatakan bahwa hinaan itu adalah modal,"urainya.
Sarengat telah pergi keharibaan-Nya, meninggalkan seorang istri bernama Nani, tiga orang anak, Meidy Sarengat, Sari Sarengat, dan Andung Sarengat, dan empat orang cucu. (Alfa Mandalika)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News