Ilustrasi Pelari. Foto: Pexels
Ilustrasi Pelari. Foto: Pexels

Mengenal Teknik Japanese U-Turn ala Pelari Jepang, Benarkah Bikin Lari Lebih Cepat?

Muhammad Syahrul Ramadhan • 15 Oktober 2026 16:38
Ringkasnya gini..
  • Japanese U-Turn atau Tsurutani turn merupakan teknik putar balik saat berlari yang dikenal karena gerakannya berbeda dari cara berbelok biasa.
  • Teknik ini diklaim dapat membantu mempertahankan momentum saat melewati titik putar, tetapi efektivitasnya masih diperdebatkan.
  • Pelari perlu melatih koordinasi dan keseimbangan sebelum mencoba Japanese U-Turn, terutama di lintasan yang sempit atau ramai.
Jakarta: Pelari biasanya akan memperlambat langkah, berbelok, lalu kembali mempercepat larinya ketika menghadapi putaran tajam dalam sebuah lomba. Namun, ada teknik lain yang menarik perhatian komunitas lari, yakni Japanese U-Turn atau putar balik ala Jepang.

Teknik ini terlihat tidak biasa karena pelari melakukan putaran dengan posisi tubuh yang berbeda dari cara berbelok pada umumnya. Gerakannya dikenal pula dengan sebutan Tsurutani turn dan menjadi bahan perbincangan di kalangan pelari setelah sejumlah video demonstrasinya beredar di media sosial.

Dilansir dari Runner's World UK, teknik ini menjadi salah satu pendekatan yang menarik untuk dibahas ketika pelari menghadapi titik putar dalam lintasan. Meski begitu, teknik tersebut tidak otomatis membuat waktu tempuh lebih cepat karena hasilnya bergantung pada pelaksanaan dan kondisi lintasan.

Apa Itu Japanese U-Turn?

Japanese U-Turn merupakan teknik untuk melewati putaran tajam atau titik balik saat berlari.

Berbeda dari cara biasa yang mengarahkan tubuh mengikuti lengkungan tikungan, teknik ini melibatkan gerakan memutar dengan posisi punggung menghadap arah lintasan yang akan ditempuh sesaat sebelum pelari menyelesaikan putaran dan kembali berlari ke depan.

Gerakan tersebut membuat pelari terlihat seolah-olah berlari membelakangi arah tujuan untuk sesaat. Setelah putaran selesai, pelari kembali menghadap ke depan dan melanjutkan langkahnya.

Menurut laporan media olahraga Prancis L'Équipe, teknik ini dikenal sebagai Tsurutani turn. Salah satu alasan teknik tersebut menarik perhatian adalah klaim bahwa gerakan putar yang berbeda dapat membantu pelari mempertahankan momentum dan mengurangi kebutuhan untuk mempercepat langkah secara berlebihan setelah berbelok. 

Teknik ini kembali menjadi sorotan usai salah satu member NMB48 Sakashita Makoto melakukan Japanese U-Turn dalam event lari All-Star Thanksgiving Festival '26 Autumn: 70th Anniversary Special.
 

Meski disebut teknik Jepang, bukan berarti semua pelari di negara tersebut menggunakan cara yang sama. Teknik ini lebih tepat dipahami sebagai salah satu variasi gerakan yang digunakan sebagian pelari ketika menghadapi putaran tertentu.

Cara Melakukan Japanese U-Turn

Pada dasarnya, Japanese U-Turn mengandalkan koordinasi tubuh saat melewati titik balik. Berikut gambaran umum gerakannya.

1. Dekati titik putar dengan langkah terkendali
Sebelum mencapai tikungan, pelari perlu memperhatikan posisi tubuh, kecepatan, dan kondisi permukaan lintasan. Jangan memaksakan kecepatan jika titik putar terlalu sempit.

2. Atur posisi tubuh untuk memulai putaran
Alih-alih hanya mengikuti lengkungan tikungan, pelari memutar tubuh dengan pola gerakan khas teknik ini. Pada bagian tertentu, punggung dapat menghadap arah lintasan yang akan dituju.



3. Selesaikan putaran dan kembali menghadap ke depan
Setelah melewati titik balik, pelari menyelesaikan rotasi tubuh hingga kembali menghadap arah lari. Keseimbangan dan koordinasi langkah penting agar gerakan tidak membuat tubuh kehilangan kendali.

4. Lanjutkan lari secara bertahap
Setelah putaran selesai, pelari kembali melanjutkan langkah. Hindari langsung memaksakan akselerasi apabila posisi kaki belum stabil.

Teknik ini sebaiknya dipelajari terlebih dahulu di area latihan yang luas, datar, dan tidak ramai. Pelari juga perlu menyesuaikan gerakan dengan kemampuan serta kenyamanan tubuh masing-masing.

Apakah Japanese U-Turn Benar-Benar Lebih Cepat?

Salah satu alasan teknik ini menarik perhatian adalah dugaan bahwa gerakannya bisa membantu mempertahankan kecepatan ketika melewati titik putar. Namun, efektivitasnya belum bisa dianggap sebagai fakta yang berlaku untuk semua pelari.

L'Équipe melaporkan bahwa teknik tersebut masih memunculkan perdebatan di kalangan pelari. Keuntungan yang mungkin dirasakan ketika melewati tikungan perlu dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang digunakan untuk menyelesaikan putaran. 

Hasilnya juga dapat dipengaruhi oleh lebar lintasan, sudut putaran, kecepatan saat mendekati titik balik, serta kemampuan pelari menjaga keseimbangan. Gerakan yang terlihat efisien dalam video belum tentu memberikan hasil serupa ketika diterapkan dalam situasi lomba yang sebenarnya.

Karena itu, Japanese U-Turn tidak perlu langsung dijadikan teknik wajib saat berlari. Pelari pemula sebaiknya mengutamakan kontrol gerakan, pijakan yang stabil, dan keselamatan ketika berbelok.
(Ellen Octovia Suherman)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan