Karateka Indonesia Rifki Ardiansyah Arrosyiid menunjukkan medali emas yang diraihnya setelah menang melawan karateka Iran Amir Mahdi Zadeh (biru) pada Kumite kelas -60 kg putra Asian Games di Jakarta Convention Center, Komplek GBK, Minggu (26/8). Rifki be
Karateka Indonesia Rifki Ardiansyah Arrosyiid menunjukkan medali emas yang diraihnya setelah menang melawan karateka Iran Amir Mahdi Zadeh (biru) pada Kumite kelas -60 kg putra Asian Games di Jakarta Convention Center, Komplek GBK, Minggu (26/8). Rifki be

Asian Games 2018, Kemilau Emas Indonesia

Olahraga asian games asian games 2018 IndonesiaKalahkanBatas
Gregah Nurikhsani Estuning • 28 Agustus 2018 19:33
Jakarta: Bangga. Itu tampaknya menjadi kata paling tepat mewakili perasaan kita melihat perjuangan para atlet Indonesia di Asian Games 2018. Mereka mampu mengalahkan batas, melampaui target yang 'dibebankan' kepada mereka, bahkan sanggup mengukir rekor baru di rumah sendiri.
 
Jauh hari sebelum Asian Games 2018 dimulai, sejumlah pihak menaruh harapan dan membebankan para atlet dengan target. Pemerintah misalnya, mengusung misi 10 besar. Ada juga DPR RI yang meminta target tujuh besar.
 
Atlet jet ski Indonesia, Aero Aswar bahkan mengatakan, "Memalukan kalau kita cuma target 10 besar, kita kan tuan rumah, harusnya lebih dari itu".
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain dari segi peringkat, pemerintah juga membebani kontingen Indonesia dengan target 16 medali emas, jumlah yang terbilang 'sedikit' jika melihat kesuksesan Merah Putih di Asian Games 2018 ini. Sebab, pada tanggal 27 Agustus, bukan cuma melebihi target, tinta emas tergoreskan pada lembaran sejarah olahraga Tanah Air.
 
Terhitung sejak 27 Agustus kemarin, koleksi 64 medali adalah yang terbaik, mengalahkan raihan sebelumnya yang mencapai 51 medali (11 emas, 12 perak, 28 perunggu) pada Asian Games 1962 silam - dan ini belum berakhir. Inikah momen kebangkitan olahraga Indonesia?
 
Rakyat Indonesia patut berbangga. Jangankan level Asia, untuk setingkat Asia Tenggara saja prestasi Indonesia acap kali mengalami pasang surut, kembang kempis, terang redup, apapun itu istilahnya. SEA Games 2017 misalnya, kita hanya mampu bercokol di posisi lima klasemen medali (medals tally) di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.
 
Di Asian Games 2018, Indonesia mampu mengalahkan batas untuk bersaing di level Asia. Lupakan 10 besar, atau tujuh besar. Sumbangan 10 keping emas yang diraih Indonesia pada 27 Agustus kemarin menerbangkan Sang Garuda ke posisi empat sementara, meninggalkan Iran yang sejak awal menempel ketat Merah Putih.
 
Hebatnya, delapan dari 10 emas yang diraih kontingen Indonesia berasal dari pencak silat, olahraga yang katanya dianggap sebagai cabor hiburan alias tidak diunggulkan. Yola Primadona, sang peraih emas, sampai menggebu-gebu menegaskan bahwa olahraga yang ia geluti bukanlah cabor penggembira semata.
 
"Pencak silat ini bukan entertainment belaka. Saya tidak ingin cabor ini dikotak-kotakkan. Kalau tidak percaya, datang saja kemari untuk melihat perjuangan kami," kata Yola seusai pengalungan medali di venue Padepokan Silat TMII, Jakarta Timur, Senin 27 Agustus.
 
"Saya juga punya banyak teman di karate dan kami pun berjuang sama kerasnya dengan mereka," tambahnya.
 
Masih di kategori bela diri, karate juga punya goresan manis di Asian Games 2018. Kemarau prestasi di cabang olahraga tersebut usai sudah ketika Rifki Ardiansyah Arrosyiid menyumbangkan satu emas.
 
Yang spesial mengenai keberhasilan Rifki meraih emas adalah karena karate terakhir kali meraih emas adalah pada tahun 2002 silam. Adalah Hasan Basri, legenda karate Indonesia yang turut hadir di final nomor kumite 60kg yang dimenangi Rifki yang menjadi karateka terakhir peraih emas untuk Indonesia ada Asian Games di Busan, Korea Selatan.
 
Tenis lebih miris lagi. Cabor ini terakhir kali mendulang emas adalah di Asian Games Beijing, Tiongkok, pada 1990 lalu. Kala itu, nomor ganda putri Yayuk Basuki/Suzanna dan ganda campuran Yayuk/Suharyadi meraih dua emas. Namun, rasa haus akan prestasi dari cabor tenis akhirnya sirna setelah pasangan Chistopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi menyumbangkan emas.
 
Kemilau emas ini menunjukkan Indonesia punya semangat yang mampu mengalahkan batas. Selaras dengan apa yang ada pada semangat Combiphar selaku pemasok resmi (Official Supplier) Asian Games 2018. Serta bangga mendukung atlet Indonesia untuk mengalahkan batas di Asian Games 2018.
 
Berikan dukungan untuk atlet Indonesia melalui games #IndonesiaKalahkanBatas, persembahan OBH Combi dan dukung Indonesia menjadi posisi #1. Menangkan juga tiket nonton Asian Games 2018 atau Voucher belanja setiap harinya dari OBH Combi! Klik di sini.
 
Video: Emas Jojo Jadi Bukti Kualitas Tunggal Putra Indonesia

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif