Kronologi Insiden di Stadion Citarum
Kericuhan pecah pada matchday ke-33 saat Bhayangkara FC U-20 menjamu Dewa United U-20. Diduga tidak mampu membendung emosi akibat kekalahan di kandang sendiri, sejumlah pemain dan staf tim tuan rumah terlibat perselisihan fisik dengan penggawa Dewa United.
Dalam video yang viral di media sosial, Fadly Alberto Henga terlihat berlari kencang dan melayangkan tendangan keras ke arah punggung bagian atas pemain lawan. Aksi berbahaya tersebut hampir mengenai area kepala belakang dan mengakibatkan pemain Dewa United tersungkur seketika di lapangan.
Dari Pahlawan Piala Dunia U-17 Menjadi Sorotan Negatif
Nama Fadly Alberto Henga sebelumnya sempat dipuji sebagai calon penyerang masa depan Timnas Indonesia. Pemain yang pernah berada di bawah asuhan Coach Nova Arianto ini sempat mencuri perhatian publik saat berhasil mencetak gol ke gawang Honduras dalam gelaran Piala Dunia U-17.
Tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh Hengga tersebut terjadi di saat karirnya sedang kembali menanjak. Sebelumnya, striker muda ini sempat dipanggil kembali ke skuad Timnas Indonesia U-20 untuk menjalani pemusatan latihan intensif di Surabaya pada tanggal 2-15 Maret 2026. Pemanggilan tersebut merupakan persiapan strategis dalam menghadapi dua agenda besar, yakni turnamen ASEAN Boys U-19 Championship dan Kualifikasi AFC U-20 Asian Cup 2027.
Namun, tindakan tidak terpuji yang dilakukan Hengga dinilai telah mencoreng reputasi profesionalnya. Banyak pihak menyayangkan sikap emosional tersebut, mengingat statusnya sebagai jebolan tim nasional yang seharusnya menjadi teladan bagi pemain muda lainnya di level akademi.
Desakan Netizen dan Ancaman Sanksi PSSI
Reaksi beragam dari netizen segera membanjiri jagat media sosial tak lama setelah video kekerasan tersebut tersebar luas. Sebagian besar warganet menyampaikan kecaman keras dan mendesak PSSI untuk segera menjatuhkan sanksi larangan bermain seumur hidup bagi Hengga karena tindakannya dinilai sangat membahayakan nyawa lawan.
Netizen menegaskan bahwa langkah tegas ini sangat diperlukan sebagai contoh bagi para pemain muda lainnya agar tidak melakukan tindakan serupa di masa depan, mengingat kekerasan fisik dan rasisme tidak memiliki tempat dalam olahraga apa pun. Jika PSSI tidak mengambil tindakan yang nyata, publik khawatir kejadian brutal seperti ini akan terus bermunculan dan merusak ekosistem sepak bola nasional.
Kini, nasib karier sepak bola Hengga berada di tangan Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Jika terbukti bersalah melakukan pelanggaran berat, impian untuk kembali mengenakan seragam Merah Putih di level senior diprediksi akan sirna sepenuhnya.
(Muhammad Zaidan Rizky)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News