Kisah Inspiratif Peraih Bonus Terbanyak Asian Para Games 2018
Atlet para catur Tati Karhati sukses menyumbang tiga medali emas untuk Indonesia di Asian Para Games 2018. (Foto: medcom.id/Kautsar Halim)
Jakarta: Tati Karhati tidak instant begitu saja untuk memastikan diri sebagai peraih bonus terbanyak Kemenpora untuk event Asian Para Games 2018. Meski memiliki kekurangan sebagai tunanetra, prestasi itu tetap ia raih dengan kerja keras dan perjalanan panjang.

Tati menyumbang tiga emas dan satu perak lewat cabang olahraga catur. Satu emas diraih lewat nomor individu, dua emas lewat nomor beregu dan sekeping perak dari nomor individu.

Emas untuk nomor individu dihargai Kemenpora sebesar Rp1,5 miliar, emas nomor beregu dibanderol Rp750 juta dan perak nomor individu bernilai Rp500 juta.
 

Baca: Egy & Witan Bawa Timnas U-19 Bungkam Taiwan


Total, terdapat Rp3,5 miliar yang sudah dikantongi Tati. Jumlah tersebut belum termasuk bonus pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Kemenpan-RB serta satu unit rumah dari Kemen PU-Pera.


Masa Kecil
Tidak ada yang menyangka apresiasi itu bisa didapat, termasuk oleh Tati sendiri. Sebab, dia bukan berasal dari keluarga berada dan terdapat empat saudaranya yang juga tunanetra. Seluruh kondisi fisik Tati normal, hanya matanya saja yang mengalami kebutaan total sejak masih bayi.

Beruntung, Tati punya orang tua yang tabah dan tidak pernah berhenti memberi semangat kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, Tati tetap kuat menerima ejekan atau cibiran orang-orang normal pada umumnya sejak kecil.

"Dulu, mana bisa masuk koran dan masuk TV. Pokoknya saya  benar-benar dikucilkan dan disepelekan. Tapi, sekarang enggak usah malu karena sudah dipermudah segalanya," kata Tati. 

Fokus Catur
Lambat laun, kehidupan Tati mulai berubah ketika dia duduk di Sekolah Luar Biasa Tingkat Pertama. Bakatnya terhadap catur mulai tersalurkan dan prestasinya pun mulai terlihat. Kendati demikian, peran keluarga masih sangat besar untuknya.

"Sebetulnya, saya sudah kenal catur dari kecil. Pertama-tama diajarkan Bapak dan sering main juga sama saudara dan teman-teman. Hanya ibu dan kakak perempuan saya yang enggak bisa main catur," terang Tati.

"Prestasi pertama saya menjadi juara dua Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Tapi, baru serius menggeluti catur menjelang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2010 karena memang ada hadiahnya," tambah Tati yang murah senyum.

Setahun setelah keberhasilan di Peparda, Tati langsung go international dengan menjuarai ASEAN Para Games 2011 di Solo. Prestasi itu mengantarkannya menjadi pemain andalan Indonesia di ajang ASEAN Para Games 2013 Myanmar, ASEAN Para Games 2015 Singapura, ASEAN Para Games 2017 Malaysia, hingga Asian Para Games 2018. Medali emas selalu Tati raih lewat semua event. 

"Alhamdulillah, saya bisa bangun rumah lewat hasil di Malaysia saja," ujar Tati yang saat itu menyumbang tiga emas lewat nomor standard individu, standard beregu dan rapid beregu.  

Kehidupan Pribadi
Tati yang kini berusia 26 tahun sudah berkeluarga dan dianugerahi satu orang anak laki-laki. Kata dia, anaknya sengaja diberi nama Avargedha agar bisa menegakkan amal kebaikan. Apabila tidak ada agenda turnamen, Tati juga hanya ibu rumah tangga biasa.

Meski begitu, Tati rela meninggalkan keluarga jika dihadapkan dengan tugas negara untuk bermain catur. Buktinya ia jelaskan ketika pergi selama sembilan bulan ke Solo untuk menjalani Pelatnas Asian Para Games 2018. Dalam kurun waktu itu, Tati hanya berkomunikasi lewat telepon dengan anak dan keluarganya.

"Saya kangen banget sama anak yang sudah ditinggal selama sembilan bulan. Dia dan orang tua adalah penyemangat hidup saya," kata Tati.
 

Baca juga: Marcus/Kevin Rebut Tiket Perempat Final


Penggunaan Bonus
Banyak hal yang bisa dilakukan lewat bonus sebesar Rp3,5 miliar. Namun, Tati bukan tipikal orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Ia lebih memilih mensyukuri pencapaian dengan membangun indekos, membiayai pengobatan orang tua dan menabung demi masa depan.

"Paha kiri ibu saya patah akibat kecelakaan beruntun pada 2005 silam. Harusnya sudah diobati tapi dia takut operasi. Mudah-mudahan dia mau dioperasi kali ini. Kemudian, saya juga ingin mengobati mata Bapak yang katarak," aku Tati yang menyebutkan bahwa ibunya berusia 58 tahun.

Pesan Tati
Tati berharap, ke depannya bakal muncul lebih banyak lagi kaum disabilitas Tanah Air yang meniru dirinya untuk berprestasi. Bagi Tati, kekurangan fisik bukan hambatan untuk tetap menjadi manusia yang berkualitas dan bermanfaat.

"Jangan minder dan tetap semangat. Apapun yg diciptakan Allah pasti ada manfaatnya. Kondisi saya seperti ini pasti ada manfaatnya. Apalagi, sekarang, pemerintah dan masyarakat mulai terbuka terhadap kaum disabilitas," tutup Tati.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Awal Gemilang Garuda Nusantara




(ACF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id