Pengalaman tersebut diceritakan Rio saat ditemui Medcom.id dalam kunjungan ke program CSR Perahu Sekolah Waecicu yang diinisiasi oleh perusahaan Samudera Indonesia di Pulau Gili Gede, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Selasa, 13 Oktober 2026.
"Saya pernah bolong pipi karena terkena ujung papan surfing," tutur Rio.
Peselancar berusia 26 tahun itu menjelaskan, insiden tersebut terjadi pada 2020, ketika dirinya tengah berburu ombak di perairan sekitar Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Saat itu, Rio sendiri mengaku tidak menyadari bahwa ujung papan selancarnya telah menembus pipi akibat kerasnya gulungan ombak.
"Itu terjadinya kemarin saat Covid 2020 di Sumbawa," paparnya.
Rio mengungkapkan, insiden tersebut bermula ketika dirinya terhempas gulungan ombak hingga penglihatannya tertutup. Awalnya, ia hanya merasakan benturan seperti pukulan sebelum menyadari bahwa ujung papan selancar telah menusuk dan menembus pipinya hingga bolong mencapai lidah.
"Papannya kan tajam & lancip ya, jadi mungkin kena tertusuk. Tapi nggak tahu yaa karena saya terkena gulungan ombak, mata saya ketutup. Pertama sih rasanya kayak dipukul gitu ya, tapi ternyata (bolong) tembus sampai ke lidah saya," cerita Rio.
Akibat cedera tersebut, Rio harus mendapatkan puluhan jahitan untuk menutup luka yang cukup dalam.
"Iya lumayan dalam, akhirnya sampai 20 jahitan," terangnya.
Meski pernah mengalami cedera serius, Rio tetap menekuni olahraga selancar yang telah membawanya berkiprah di kancah internasional. Ia juga menyoroti pentingnya perlengkapan keselamatan untuk meminimalkan risiko cedera saat menghadapi ombak.
Salah satu perlengkapan yang kini mulai digunakan para peselancar adalah helm pelindung. Menurut Rio, penggunaan helm menjadi penting mengingat papan selancar dapat menimbulkan cedera serius apabila menghantam kepala saat terjadi kecelakaan di laut.
"Tapi sekarang sudah ada helmet ya untuk safety," tutur Rio.
Ia menambahkan, benturan di kepala dapat menyebabkan gegar otak atau concussion. Dalam kondisi tertentu, peselancar juga berisiko kehilangan kesadaran saat berada di dalam air, sehingga keselamatan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
"Karena banyak ya surfer-surfer papannya terkena kepalanya, terus jadi concussion (gegar otak). Banyak kejadian (surfer) tidak keluar dari air karena pingsan saat di dalam air dan banyak juga (surfer) yang tidak selamat," tutupnya.
Segudang Prestasi Rio Waida di Kancah Surfing Internasional
Bagi Sobat Medcom yang belum kenal dan familiar, Rio Waida merupakan peselancar Indonesia pertama yang berhasil menembus divisi utama World Surf League (WSL) Championship Tour, kompetisi selancar profesional paling bergengsi di dunia.
Nama Rio semakin dikenal setelah berhasil melaju hingga babak 16 besar cabang olahraga selancar Olimpiade Tokyo 2020. Ia kemudian kembali mewakili Indonesia di Olimpiade Paris 2024, sekaligus memperkuat kiprahnya di panggung olahraga internasional.
Tak hanya itu, Rio juga meraih medali perak di ajang ISA World Surfing Games 2022. Sebelumnya, ia turut menyumbangkan medali perak nomor Men's Open Shortboard pada SEA Games Filipina 2019.
Di ajang WSL Championship Tour, Rio mencatatkan pencapaian dengan menembus posisi sembilan besar peselancar dunia pada akhir musim 2024. Ia juga berhasil menjadi runner-up di Corona Fiji Pro 2024 dan Surf Abu Dhabi Pro 2025.
Berbagai pencapaian tersebut menjadikan Rio sebagai salah satu atlet yang berperan penting dalam mengangkat nama Indonesia di dunia selancar.