Menurut Andhi, Indonesia selama ini mampu menunjukkan dominasi pada kelas Asia Production 250 (AP250). Namun, situasi berbeda terjadi di kelas motor berkapasitas besar yang masih didominasi pembalap Malaysia, Thailand, dan Jepang.
Minim Pembalap Jadi Kendala
Andhi menjelaskan salah satu faktor utama yang membuat pembalap Indonesia belum mampu bersaing secara konsisten di kelas SS600 dan ASB1000 adalah minimnya jumlah pembalap yang berkompetisi pada kategori tersebut.
Menurutnya, tingginya harga motor, biaya modifikasi, perawatan, hingga operasional balap membuat kelas 600 cc dan 1.000 cc belum berkembang seperti kelas AP250.
"Di Indonesia, jumlah motor dan pembalap yang berkompetisi di kelas 600 cc maupun 1000 cc masih sangat sedikit. Faktor utamanya adalah harga motor yang sangat mahal, ditambah biaya modifikasi, perawatan, serta operasional balap yang jauh lebih tinggi dibanding kelas 250 cc. Akibatnya, kelas ini belum menjadi kategori yang populer di Indonesia sehingga jam terbang pembalap dalam mengendarai motor berkapasitas besar juga masih terbatas," ujar Andhi.
Indonesia Tertinggal dari Jepang, Thailand, dan Malaysia
Andhi menilai kondisi tersebut berbeda dengan Jepang, Thailand, dan Malaysia yang telah memiliki kejuaraan nasional kelas 600 cc dan 1.000 cc dengan jumlah peserta jauh lebih banyak.
Persaingan yang kompetitif di level domestik membuat pembalap dari ketiga negara tersebut lebih siap ketika tampil pada kelas besar 600 cc dan 1.000 cc di ajang ARRC.
"Kondisi tersebut sangat berbeda dengan negara seperti Jepang, Thailand, dan Malaysia yang memiliki kejuaraan nasional kelas 600 cc dan 1000 cc dengan jumlah peserta jauh lebih banyak. Kompetisi yang lebih kompetitif membuat pembalap mereka terbiasa menghadapi persaingan ketat sejak level domestik sebelum tampil di ARRC," katanya.
Sebagai contoh, Andhi menyebut kelas Supersport 600 pada Pertamina Mandalika Racing Series (MRS) hanya diikuti sekitar enam pembalap. Jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk menciptakan persaingan yang mampu meningkatkan kemampuan racecraft, yaitu teknik dan strategi bertarung saat balapan, serta pengembangan set-up motor.
"Sebagai gambaran, pada Pertamina Mandalika Racing Series (MRS), kelas Supersport 600 hanya diikuti sekitar enam pembalap. Jumlah peserta yang sedikit tentu membuat intensitas persaingan tidak seketat yang dialami pembalap Thailand, Jepang, maupun Malaysia di kompetisi nasional mereka. Hal ini berdampak pada pengalaman racecraft, kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi balapan, hingga pengembangan set-up motor," jelasnya.
Mandalika Jadi Modal Pembalap Indonesia
Meski menghadapi tantangan besar, Andhi menilai pembalap Indonesia tetap memiliki modal penting saat tampil di Pertamina Mandalika International Circuit. Menurutnya, faktor pemahaman terhadap karakter lintasan, kondisi cuaca, dan karakter aspal dinilai dapat membantu pembalap Indonesia memperkecil selisih performa dengan para rival.
"Meski demikian, pembalap Indonesia tetap memiliki modal penting saat tampil di Mandalika. Mereka lebih memahami karakter lintasan, kondisi cuaca, serta karakter aspal Pertamina Mandalika International Circuit."
Namun, ia menegaskan Indonesia tetap membutuhkan kompetisi domestik kelas 600 cc dan 1.000 cc yang lebih kompetitif agar pembalap memperoleh jam terbang dan pengalaman bertanding setara dengan negara-negara pesaing.
"Keuntungan tersebut dapat membantu memangkas selisih performa dengan para rival. Namun, untuk mampu bersaing secara konsisten di barisan depan, Indonesia juga membutuhkan kompetisi domestik kelas 600 cc dan 1000 cc yang lebih ramai agar pembalap memperoleh jam terbang dan pengalaman bertarung yang setara dengan rival-rival Asia," tambahnya.
Indonesia Masih Kejar Posisi Teratas
Andhi juga menyoroti klasemen sementara ARRC 2026 yang menunjukkan pembalap Indonesia masih berupaya mengejar dominasi Malaysia, Thailand, dan Jepang pada dua kelas tersebut.
Di kelas SS600, Herjun Atna Firdaus menjadi pembalap Indonesia terbaik dengan menempati posisi keempat klasemen sementara. Sementara di kelas ASB1000, Andi Farid Izdihar berada di peringkat ketiga dan Mohammad Adenanta Putra menghuni posisi ketujuh.
"Data klasemen sementara ARRC 2026 juga memperlihatkan bahwa pembalap Indonesia masih berupaya mengejar dominasi pembalap Malaysia, Thailand, dan Jepang di kedua kelas tersebut. Di SS600, Herjun Atna Firdaus menjadi pembalap Indonesia terbaik di posisi keempat klasemen, sedangkan di ASB1000 Andi Farid Izdihar berada di posisi ketiga sementara Mohammad Adenanta Putra menempati posisi ketujuh," pungkasnya.
(Muhammad Zaidan Rizky)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda