Fight For A Cure 2026 (dok. Nuanu Creative City)
Fight For A Cure 2026 (dok. Nuanu Creative City)

Tinju

Fight For A Cure 2026 di Bali Galang Dana Riset Kanker, Libatkan 40 Petarung dan 30 Gym

Gregorius Gelino • 04 Oktober 2026 19:23
Ringkasnya gini..
  • Fight For A Cure 2026 digelar di Nuanu Creative City, Bali, melibatkan lebih dari 30 gym, 40 petarung, dan 1.500 pendukung untuk menggalang dukungan bagi riset kanker.
  • Nuanu Social Fund meningkatkan kontribusinya menjadi hampir Rp117 juta, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2025, untuk mendukung inisiatif Germ Cell.
  • Germ Cell telah menyalurkan sekitar Rp1,5 miliar untuk riset kanker, dengan dukungan bagi penelitian terkait deteksi dini, kekambuhan, dan pengembangan terapi kanker yang lebih efektif.
Tabanan: Semangat melawan kanker kembali menyatukan komunitas kebugaran Bali melalui Fight For A Cure 2026. Digelar di Block 42, Nuanu Creative City, acara amal tinju tahunan ini memasuki edisi keempat dengan melibatkan lebih dari 30 gym di seluruh Bali, 40 petarung, dan lebih dari 1.500 pendukung.

Namun, pertarungan di atas ring bukanlah satu-satunya kemenangan yang dicari. Fight For A Cure hadir dengan misi yang lebih besar: menggalang dukungan untuk riset kanker dan mengubah energi komunitas menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan perawatan pasien kanker.

NSF Tingkatkan Dukungan untuk Fight For A Cure

Komitmen terhadap gerakan ini semakin kuat pada 2026. Nuanu Social Fund (NSF) meningkatkan dukungannya untuk inisiatif tahunan Germ Cell menjadi hampir Rp117 juta atau sekitar US$6.500. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontribusi NSF pada 2025 yang mencapai sekitar Rp45 juta atau US$2.500.

Peningkatan dukungan ini menjadi kelanjutan dari momentum yang dibangun pada penyelenggaraan sebelumnya, sekaligus mencerminkan komitmen Nuanu Social Fund terhadap berbagai inisiatif berbasis komunitas yang memiliki tujuan sosial yang jelas dan dampak yang dapat diukur. Bagi NSF, Fight For A Cure menunjukkan bagaimana kekuatan komunitas dapat diarahkan menjadi dukungan konkret bagi riset kanker.

“Kami meningkatkan dukungan karena Fight For A Cure telah membuktikan kemampuannya dalam menggerakkan komunitas dan mengubah partisipasi tersebut menjadi dukungan yang nyata,” kata Ida Ayu Astari Prada, Head of Nuanu Social Fund.

Menurutnya, inisiatif tersebut telah berhasil membangun partisipasi konsisten dari komunitas kebugaran di Bali sekaligus menghubungkan semangat gotong royong dengan dukungan bagi riset kanker.

“Bagi NSF, ini merupakan model dampak yang kuat—bagaimana partisipasi dari komunitas lokal dapat diwujudkan menjadi dukungan bagi riset yang relevan dan berdampak bagi pasien,” lanjutnya.

Germ Cell Telah Salurkan Sekitar Rp1,5 Miliar untuk Riset Kanker

Dukungan terhadap Fight For A Cure juga memperkuat kiprah Germ Cell, organisasi yang menginisiasi kegiatan tersebut.

Hingga saat ini, Germ Cell telah menyalurkan sekitar Rp1,5 miliar atau US$83.000 untuk riset kanker. Pendanaan tersebut mendukung berbagai penelitian dan kegiatan di Chris O'Brien Lifehouse, serta penelitian yang dipimpin oleh Dr. Kim Alexander dan Profesor Jeremy Crook.

Riset yang didukung Germ Cell berfokus pada sejumlah tantangan penting dalam penanganan kanker, mulai dari deteksi dini, pemantauan kekambuhan, hingga pengembangan terapi yang lebih efektif untuk kanker agresif.

Salah satu penelitian yang mendapat dukungan adalah penelitian Dr. Kim Alexander yang mengkaji apakah tes darah sederhana dapat digunakan untuk mendeteksi kembalinya glioblastoma sekaligus memantau respons pasien terhadap pengobatan.

Sementara itu, Profesor Jeremy Crook meneliti cara meningkatkan kemampuan obat kanker dalam mencapai sel tumor secara lebih efektif. Dukungan terhadap Chris O'Brien Lifehouse juga mencakup riset serta layanan perawatan kanker yang lebih luas.

Berawal dari Pengalaman Pribadi Penyintas Kanker

Germ Cell didirikan oleh Kai Suteja, seorang penyintas kanker yang telah dua kali berhasil melewati penyakit tersebut. Pengalaman personal tersebut menjadi salah satu alasan Kai membangun sebuah gerakan yang mengubah pengalaman menghadapi kanker menjadi aksi bersama.

Berawal dari komunitas kebugaran di Bali, Germ Cell kemudian berkembang menjadi gerakan penggalangan dana tahunan melalui pertandingan tinju. Fight For A Cure mempertemukan komunitas gym, petarung, pelaku usaha, dan masyarakat Bali untuk mendukung riset kanker.

Bagi Kai, setiap pertandingan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menang atau kalah. Ia menambahkan bahwa sejumlah petarung bahkan naik ring untuk mewakili orang-orang yang tidak dapat berjuang sendiri.

“Bagi banyak orang yang terlibat dalam Fight For A Cure, kanker adalah sesuatu yang sangat personal. Banyak dari mereka yang pernah kehilangan orang terdekat, atau melihat orang yang mereka sayangi berjuang melawan kanker. Fight For A Cure menjadi salah satu cara untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berarti,” ujar Kai Suteja, Founder Germ Cell.

“Menang atau kalah, kemenangan yang sebenarnya adalah dana yang berhasil kami kumpulkan untuk mendukung riset kanker. Dengan sains yang lebih baik, kita bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, dan saya rasa itu adalah sesuatu yang bisa didukung oleh semua orang,” katanya.

Para Petarung Membawa Cerita Personal ke Atas Ring

Semangat Fight For A Cure 2026 juga terlihat dari cerita pribadi para petarung yang berpartisipasi. Anatoli dari Lions MMA, misalnya, kehilangan bibinya akibat kanker darah ketika masih kecil.

Pengalaman tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya ke dunia tinju. Dalam Fight For A Cure tahun ini, ia bertanding untuk mengenang sang bibi.

Sementara itu, Jake dari The Block mendedikasikan pertandingannya untuk kedua orang tuanya yang sama-sama telah berhasil melewati kanker. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa Fight For A Cure bukan hanya tentang olahraga atau kompetisi.

Bagi banyak peserta, pertandingan menjadi bentuk penghormatan, dukungan, sekaligus cara untuk ikut berkontribusi dalam perjuangan melawan kanker.

Fight For A Cure 2026 Satukan Komunitas Bali

Memasuki edisi keempat, Fight For A Cure terus berkembang sebagai salah satu kegiatan komunitas yang menghubungkan olahraga, solidaritas, dan dukungan terhadap riset kanker di Bali.

Dengan keterlibatan lebih dari 30 gym, 40 petarung, dan lebih dari 1.500 pendukung, penyelenggaraan tahun ini menunjukkan bahwa kekuatan komunitas dapat menghasilkan dampak yang melampaui arena pertandingan.

Fight For A Cure 2026 digelar pada 3 Oktober 2026 di Block 42, Nuanu Creative City, Bali. Melalui kolaborasi antara Germ Cell, Nuanu Social Fund, komunitas kebugaran, para petarung, pelaku usaha, dan masyarakat, acara ini kembali membawa satu pesan utama: setiap pertarungan dapat menjadi bagian dari perjuangan yang lebih besar untuk mendukung riset kanker.

Pada akhirnya, kemenangan Fight For A Cure bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memenangkan pertandingan. Kemenangan sesungguhnya adalah ketika semangat komunitas berhasil diubah menjadi dukungan yang dapat membantu para peneliti menemukan cara yang lebih baik untuk mendeteksi, memahami, dan menangani kanker.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan