Cokorda Raka Satrya Wibawa (Foto: ist)
Cokorda Raka Satrya Wibawa (Foto: ist)

ASEAN Basketball League (ABL) 2018

Eks Pelatih Satria Muda Beri Dukungan Moril kepada CLS Knights

Krisna Octavianus • 17 Januari 2018 15:48
Surabaya: Dukungan moril kepada tim CLS Knights Indonesia disampaikan mantan pelatih tim Satria Muda dan juga Indonesia Warriors, Cokorda Raka Satrya Wibawa. Pria yang akrab disapa Wiwin tersebut mengatakan, bahwa Kompetisi ASEAN Basketball League (ABL) sangat berbeda dengan IBL yang dua level di atasnya.
 
Mengamati kiprah CLS Knights di kancah ABL, Wiwin yang juga pernah merasakan gelar juara sebagai pemain di Indonesia Warriors pada 2012, menyampaikan dukungannya kepada CLS Knights dan coaching staff untuk tetap sabar dan terus bekerja keras.
 
Dalam sudut pandangnya, tim yang bermarkas di GOR Kertajaya itu tidak kalah dengan tim lainnya. Akan tetapi, dia mengerti bahwa di musim pertama ini, perjuangan Sandy Febiansyakh dan rekan-rekannya pasti akan berat. Apalagi tim kebanggaan warga Surabaya ini, baru melakukan transisi pergantian pelatih dan para pemain juga merasakan atmosfer liga baru, di mana sebagian besar pemainnya baru pertama kali berlaga di ABL.

"Mereka sebenarnya sudah bagus dan bisa melawan dengan tim lainnya. Tinggal konsistensinya khususnya pada kuarter akhir dan jangan banyak melakukan tunovers karena di level ABL jika kita buat kesalahan, 90% jadi poin buat musuh. Tim pelatih juga harus bisa memaksimalkan potensi pemain yang ada. Hal lain yang tidak bisa dipungkiri adalah perekrutan pemain asing dan Asia keturunan yang tepat untuk tim, karena mereka merupakan salah satu faktor X yang bisa mendongkrak performa tim di liga ABL,” komentar Wiwin.
 
Selama berkarier menjadi pelatih, ia juga akrab dengan tekanan baik dari fans, media, maupun manajemen. Untuk itu ia menyampaikan pesan kepada coach Koko untuk tetap fokus menatap sisa pertandingan selanjutnya dan turut menyampaikan pesan kepada para fans CLS Knights serta pencinta basket di Indonesia agar sabar dengan proses dan progress tim, mengingat ini merupakan musim pertama CLS Knights di kancah ABL yang kompetisinya cukup ketat dan berat.
 
"Jabatan pelatih memang rentan dengan isu pemecatan dan tekanan. Istilahnya ready for hire and ready for fired. Tapi semua balik lagi ke visi dan misi tim itu sendiri dan hubungan antara pelatih dengan manajemen serta pemilik. Kalau semuanya saling memahami dan mem-back up, pemecatan akan menjadi hal yang paling terakhir untuk mereka putuskan. Contoh di NBA, Greg Popovich (San Antonio Spurs) dan Rick Carlisle (Dallas Mavericks), mereka tidak selalu berhasil jadi juara malah kadang gagal masuk play-off, tapi jabatan pelatih masih tetap mereka pegang. Kepercayaan manajemen dan owner sudah sangat tinggi untuk mereka, terlebih keduanya sempat memberikan gelar juara untuk timnya. Tapi risiko pemecatan dan tekanan sudah menjadi part of the job. Saya yakin semua pelatih sudah paham dengan hal ini," papar Wiwin.
 
Tidak lupa ia memberikan apresiasi kepada manajemen CLS Knights, khususnya untuk fans mereka yang selalu memberikan dukungan langsung kepada timnya, meski saat ini CLS Knights masih berada dalam pusaran dasar klasemen ABL.
 
"Saya salut dan respek kepada manjemen CLS Knights yang saya anggap sebagai salah satu yang terbaik. Juga untuk fans mereka yang sangat luar biasa dan fanatik. Hampir setiap pertandingan kandang GOR Kertajaya full dan itu jarang terjadi di kompetisi basket lokal kita. Bahkan ketika game final Indonesia Warriors tidak sepenuh seperti Surabaya," pungkasnya.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ACF)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan