Wakil Ketua Umum PB Pelti Sutikno Muliadi (kedua dari kiri). (Foto: medcom.id/Muhammad Al Hasan)
Wakil Ketua Umum PB Pelti Sutikno Muliadi (kedua dari kiri). (Foto: medcom.id/Muhammad Al Hasan)

PB Pelti Keluhkan Minimnya Fasilitas Infrastruktur Tenis di Ibu Kota

Olahraga tenis
Muhammad Al Hasan • 12 Juli 2019 15:38

Fasilitas area tenis di Ibu Kota Jakarta dinilai belum cukup. PB Pelti menilai hal tersebut memengaruhi perkembangan tenis Indonesia di dunia internasional.

Jakarta: Induk olahraga tenis Indonesia PB Pelti mengeluhkan minimnya kondisi fasilitas infrastruktur tenis di Ibu Kota. Mereka bilang, banyak fasilitas tenis kini tereduksi kepentingan olahraga lain.
 
"Bahwasannya di sini (GBK) banyak area tenis yang berkurang karena ada alih fungsi. Dari 24 court turun ke 18 court, lalu tinggal dua kita tambah dua, jadi tinggal empat. Sekarang berubah jadi lapangan baseball," kata Wakil Ketua Umum PB Pelti Sutikno Muliadi saat ditemui di Senayan, Jakarta Selatan, Kamis 11 Juli 2019.
 
Belum lagi arena-arena dengan tipe lainnya seperti gravel ataupun grass. Indonesia khususnya di Jakarta minim fasilitas tersebut padahal keberadaannya sangat dibutuhkan. Ia bilang, itu berdampak pada peluang-peluang perkembangan tenis Indonesia di dunia internasional.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mungkin kalau gravel emang gak ada, meski perlu. Seperti Prieska dan Christo main di French open itu main di tanah liat kan dan itu susah," ujar Sutikno.
 
"Kita gravel cuman di Permata Hijau cuman dua, di permata hijau buat se-Jakarta raya. Dulu bahkan ada grass court di Surabaya, tapi habis juga,"sambungnya.
 
"Kalau saja kita masih ada gravel enam biji aja kita sudah ditawari sebagai penyelenggara Roland Garros Junior. Padahal dulu gravel kita ada sepuluh tapi habis," lanjut dia.

Baca: Pegolf Indonesia Berjaya di International Junior Championship 2019

Ia menyebut pemerintah bukan tidak peduli terhadap perkembangan tenis. Ia bilang, mungkin pemerintah ingin memberikan kesempatan untuk pemanfaatan arena-arena tenis di Jakabaring, Palembang. Namun, ia melihat hal itu masih susah diwujudkan mengingat sponsor lebih cenderung memilih venue tenis di kota-kota megapolitan seperti Jakarta karena kemudahan-kemudahanya.
 
"Event itu tergantung sponsor ya. Sponsor itu pasti seringkali inginnya di Jakarta kalau yang internasional. Karena harus kita akui, Jakarta itu headquarter multinational companied, semua ada di Jakarta rata-rata. Dan ironisnya di Jakarta tidak ada lapangan yang memadai," lanjut dia.
 
Selama ini, Pelti menyiasati dengan merangkul swasta untuk mencukupi ketersediaan venue pertandingan. Namun, seringkali upaya itu tidak se-fleksibel ketika memilki venue sendiri.
 
"Biasanya di tempat swasta gitu-gitu (untuk mencukupi kebutuhan court). Kendalanya di swasta kalau dia gak profitable mending dibuat yang lain seperti tower buat kamar, gimana?," tuturnya lagi.
 
Ia mengatakan, Pelti sudah menempuh beragam upaya untuk menyiasati kebutuhan court, salah satunya dengan mengomunikasikan permasalahannya kepada pemerintah dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Ia berharap, keluhannya bisa segera mendapat jalan keluar.
 
"Yang jelas, kita ada langkah-langkah berusaha menambah lapangan tetapi selama itu masih usaha kita gak berani untuk bikin statement ya, tapi langkah itu ada. Baik ke pemerintah maupun swasta," pungkas dia.
 
Video: Rivaldo Jagokan Messi Raih Ballon d'Or
 

(ASM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif