Lorenzo membuat keputusan berani saat meninggalkan Yamaha, tim yang sudah dibelanya selama sembilan tahun dan memberikannya lima gelar juara dunia (3 di kelas MotoGP), untuk bergabung dengan Ducati mulai musim depan.
Pembalap Spanyol berusia 28 tahun dinilai telah melakukan perjudian besar lantaran dalam beberapa musim terakhir Ducati kerap jadi 'kuburan' para pembalap top.
Nicky Hayden, Cal Cruthclow, bahkan Valentino Rossi yang punya pengalaman segudang, tidak mampu mendongkrak performa tim pabrikan Italia itu. Pembalap Australia, Casey Stoner adalah orang terakhir yang sukses membuat Ducati berjaya ketika dia merebut gelar juara MotoGP pada 2007 atau hampir satu dekade silam.
Namun faktor inilah yang diakui Lorenzo membuatnya tertantang untuk bergabung dengan Ducati. Pembalap berjuluk Porfuera ini ingin menuliskan namanya dalam buku sejarah Ducati.
"Ferrari adalah Ferrari dan Ducati sama seperti Ferrari. Karena fan mereka sangat loyal kepada brand (lokal). Mereka adalah keluarga dan hanya ada sedikit tim yang seperti ini," ujar Lorenzo.
"Jika Anda jadi pembalap Ducati, Anda harus mencoba membuat sejarah. Bersama Yamaha, saya bisa saja memenangi gelar (juara MotoGP) keempat atau kelima. Tapi, itu hanyalah gelar juara yang lain. Sementara jika saya berhasil melakukannya bersama Ducati, saya akan masuk buku sejarah," tandasnya.
Kendati musim depan akan membela tim rival, Lorenzo menegaskan masih memegang komitmen penuh bersama Yamaha di sisa musim ini. Sinyal itu ditunjukkannya saat tampil sebagai yang tercepat pada dua sesi latihan bebas jelang seri keempat MotoGP di Jerez, Spanyol, Minggu 24 April 2015. (Gazzetta World)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News