Ketidakhadiran Raphinha selama periode krusial ini dipandang sebagai kerugian besar bagi Blaugrana, mengingat peran vital sang pemain dalam skema permainan Flick. Kekecewaan yang awalnya hanya dirasakan di dalam internal klub kini merebak ke level tertinggi manajemen.
Presiden Barcelona, Joan Laporta, secara terbuka menyuarakan rasa frustrasinya. Ia menyinggung insiden yang menimpa Raphinha sebagai contoh nyata dari lemahnya koordinasi antara FIFA dan klub-klub papan atas Eropa dalam mengatur kalender kompetisi.
“Dalam situasi seperti ini, sudah sepatutnya kita menuntut FIFA untuk merancang kalender internasional yang lebih memperhatikan kepadatan jadwal klub-klub besar,” Kata Laporta kepada Món Esport, dikutip dari Mundo Deportivo.
Baca Juga :
Tolak Arab dan MLS? Douglas Costa Rayu Robert Lewandowski Pindah ke Juventus Akhir Musim
Laporta menegaskan bahwa klub tidak bisa menyalahkan pemain dalam situasi ini. Menurutnya, para pemain adalah profesional yang memiliki tanggung jawab besar dan rasa nasionalisme untuk memberikan segalanya saat membela negara mereka.
“Anda juga tidak bisa membebankan tanggung jawab itu kepada pemain dengan meminta mereka untuk tidak bermain. Karena mereka adalah professional. Yang lebih penting lagi, mereka bermain untuk negara mereka dan memberikan segalanya," jelasnya.
Kehilangan Raphinha menjadi tantangan berat bagi Barcelona dalam mempertahankan performa di liga domestik. Pihak klub berharap insiden ini menjadi momentum bagi otoritas sepak bola dunia untuk lebih memperhatikan beban kerja pemain demi meminimalisir risiko cedera di masa depan.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News