Ramos menjadi pemain termahal sepanjang sejarah Il Diavolo Rosso setelah diboyong dari Paris Saint-Germain dengan banderol 74 juta euro atau setara dengan Rp1,5 triliun. Ia memecahkan rekor Rafael Leao yang diboyong Milan dari Lille dengan harga 50 juta euro atau sekitar Rp1 triliun.
Ekspektasi Klub Lebih Penting
Bagi Ramos, tekanan terbesar yang ia rasakan bukan berasal dari label harga diri, melainkan ekspektasi tinggi untuk membawa klub sekelas AC Milan meraih trofi. Ramos mengungkapkan pandangannya terkait tekanan media dan publik sepak bola yang kerap menyoroti nilai transfernya."Sejujurnya, saya tidak merasa tertekan menjadi pemain termahal sepanjang masa Milan. Tentu saja ada tekanan, tapi saya pikir itu karena saya membela klub hebat dengan tekanan untuk memenangkan gelar," kata Gonçalo Ramos.
Baca Juga :
Hasil Lazio vs AC Milan: Sempat Tertinggal, AC Milan Bangkit Dramatis Berkat Dua Gol Moreira
"Saya tidak berpikir ada tekanan yang lebih besar dari itu. Tidak ada waktu untuk memikirkan label pemain termahal, seberapa mahal seorang pemain, atau biaya lainnya. Yang terpenting adalah kami menang setiap pekan dan pada akhir musim itu yang diinginkan tifosi kami," tegasnya.
Target Trofi untuk Milanisti
Fokus utama striker berusia muda ini adalah konsistensi performa tim demi membahagiakan para pendukung setia Rossoneri, Milanisti. Menurutnya, pencapaian kolektif jauh lebih berharga daripada status individu di dalam skuat."Kami dan semua orang di sekitar kami menginginkan sesuatu untuk dirayakan pada akhir musim. Jika kami bisa menang, jika kami bisa juara, jika kami bisa menjalani kampanye yang hebat, saya pikir itu adalah hal terpenting," pungkas Ramos.
Dengan mentalitas yang matang dan komitmen tinggi terhadap kemenangan tim, Ramos optimistis bisa menjawab kepercayaan manajemen dan fans lewat deretan gelar juara di akhir musim.