Insiden itu terjadi saat rombongan Persib U-18 dalam perjalanan pulang setelah mengikuti pertandingan Elite Pro Academy (EPA) di Lapangan Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.
Akibat kejadian tersebut, seorang personel media Persib dilaporkan mengalami kekerasan fisik. Bus rombongan tim juga mengalami kerusakan, sementara sejumlah koper milik ofisial dan pemain Persib U-18 diduga dijarah.
Yunus Nusi menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa para pemain muda tersebut. Menurutnya, keselamatan seluruh insan sepak bola, mulai dari pemain, ofisial, pekerja media, perangkat pertandingan, hingga suporter, harus menjadi prioritas.
“PSSI menegaskan bahwa keselamatan seluruh insan sepak bola, termasuk suporter tim nasional maupun klub, harus menjadi prioritas. Sejalan dengan komitmen bersama FIFA, setiap orang yang datang untuk menonton sepak bola harus dapat pulang ke rumah dengan selamat,” kata Yunus di Jakarta, Senin (12/10).
Ia menilai penyerangan terhadap pemain muda merupakan tindakan yang sulit diterima akal sehat. Para pemain Persib U-18, menurutnya, tidak seharusnya menjadi korban konflik atau rivalitas antarsuporter.
“PSSI sangat prihatin dan ini sesuatu hal yang sulit masuk di nalar akal sehat karena kejadian ini pertama menimpa anak-anak pemain muda, yaitu Elite Pro Akademi Persib Bandung. Anak-anak ini tidak tahu apa-apa tentang rivalitas. Mereka murni bermain bola dengan semangat untuk kepentingan pribadi, kepentingan klub, dan kepentingan sepak bola nasional yang seharusnya dihargai oleh siapa pun, walaupun itu suporter lawan,” ujarnya.
Yunus menegaskan tindakan kekerasan yang diduga terjadi dalam insiden tersebut tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. PSSI, lanjutnya, akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk membantu mengungkap kasus dan memastikan pihak yang terbukti bersalah mendapatkan sanksi sesuai ketentuan.
“Kami sangat menyayangkan. Ini sudah tidak masuk akal, apa yang dilakukan oleh mereka-mereka ini dengan begitu ganasnya melakukan tindakan kriminal. PSSI akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap, mencari, menangkap, serta memberikan sanksi yang seberat-beratnya,” tegas Yunus.
PSSI Minta I.League dan Klub Bertindak Tegas
Yunus mengingatkan sepak bola harus menjadi ruang yang aman bagi semua pihak. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan sepak bola, baik sebagai pemain maupun penonton, harus dapat menjalankan aktivitasnya tanpa ancaman kekerasan.Ia juga mempertanyakan sampai kapan kekerasan antarsuporter akan terus berulang apabila tidak ada kesadaran untuk menjaga sportivitas dan menghormati keselamatan sesama.
“Kalau seperti ini ulah-ulah suporter, tidak akan ada damai di sepak bola kita. Bayangkan saja, anak-anak Elite Pro Akademi yang masih usia dini dibuat seperti ini oleh suporter. Kami sangat menyayangkan. Sampai kapan ini akan berakhir kalau kita tidak saling sadar? Untuk apa kita melakukan hal-hal seperti itu?” katanya.
PSSI meminta I.League dan klub terkait mengambil tindakan tegas atas kejadian tersebut. Selain itu, kepolisian didorong segera melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi pihak yang terlibat, dan memproses dugaan tindak pidana sesuai hukum yang berlaku.
Yunus juga menegaskan rivalitas dalam sepak bola semestinya terbatas pada persaingan di lapangan. Kemenangan harus disyukuri, sedangkan kekalahan perlu diterima dengan sikap sportif.
“Kita juga berharap bahwa, ya, harus diakui rivalitas itu hanya 45 kali 2, itu pun cukup hanya ada di pemain. Suporter, ya, menang bersyukur, kalah harus diterima, dan tidak ada rivalitas yang ekstrem seperti ini,” tuturnya.
Ia kembali meminta kepolisian menangkap pihak yang terbukti terlibat dan menjatuhkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya.
“Kami sangat menyayangkan hal ini terjadi. Sekali lagi kami mohon kepada pihak kepolisian untuk memberikan hukuman yang berat, menangkap mereka-mereka ini, dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya,” pungkas Yunus.
PSSI berharap penanganan kasus tersebut menjadi langkah serius untuk mencegah terulangnya kekerasan dalam sepak bola Indonesia. Keselamatan pemain muda dan seluruh elemen sepak bola harus dilindungi agar rivalitas tidak berubah menjadi tindakan kriminal.