Keputusan tersebut memperpanjang kerinduan pendukung untuk menyaksikan duel klasik tersebut di ibu kota sejak terakhir kali digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Juli 2019.
Ketua Umum Jakmania, Dicky Soemarno, mengungkapkan bahwa anggota suporter adalah pihak yang paling merasakan dampak kekecewaan tersebut. Sejak era 2020, pertemuan kandang Macan Kemayora selalu menemui kendala perizinan yang berujung pada pemindahan lokasi pertandingan.
"Sudah tujuh tahun kami tidak menggelar Persija vs Persib di Jakarta. Terakhir itu 2019. Memang pada akhirnya kami harus menghormati keputusan ini demi keamanan," ujar Dicky.
Kemenangan Jadi Obat Kekecewaan
Meskipun kecewa, Dicky menegaskan bahwa Jakmania tetap menghormati keputusan pihak berwenang. Namun, ia menekankan bahwa satu-satunya cara untuk mengobati rasa kecewa suporter adalah dengan raihan poin penuh.
Persija diharapkan mampu mengubah energi kekecewaan tersebut menjadi semangat juang di lapangan.
"Harapan kami sederhana, Persija harus menang. Persija harus membawa kekecewaan kami menjadi energi sehingga mereka bisa pulang membawa poin tiga," tegasnya.
Persaingan Gelar Juara
Laga ini memiliki nilai strategis karena menjadi penentu dalam perebutan gelar juara Super League musim ini. Persib saat ini memuncaki klasemen sementara dengan 72 poin, unggul tiga poin dari Borneo FC di posisi kedua.
Persija membuntuti di peringkat ketiga dengan koleksi 67 poin. Dengan sisa tiga pertandingan, kemenangan atas Persib menjadi harga mati bagi anak asuh Thomas Doll jika ingin menjaga asa meraih trofi kasta tertinggi sepak bola tanah air tersebut.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News