Selama hampir satu abad, Piala Dunia seolah mengajarkan satu rumus yang sederhana. Jika ingin menjadi juara, miliki seorang legenda.
Sebut saja Pele, Franz Beckenbauer, Diego Maradona, Zinedine Zidane dan Ronaldo Nazario. Nama-nama itu begitu besar hingga kita sering lupa bahwa mereka tidak pernah mengangkat trofi sendirian. Mereka menjadi wajah dari kemenangan. Tetapi mereka bukan seluruh cerita tentang kemenangan itu.
Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk mengagumi pohon yang paling tinggi. Kita berdiri di depannya, memotretnya dan menghafal namanya. Lalu mengira seluruh hutan hidup karena pohon itu.
Baca Juga :
So, VAR (Not) Good?
Padahal tidak pernah ada hutan yang bertahan hanya karena satu pohon. Hutan bertahan karena akar-akarnya saling terhubung. Karena tanahnya tetap subur. Karena kehidupan di dalamnya terus beregenerasi. Dan ketika satu pohon tumbang, hutan tidak ikut mati.
Mungkin, selama gelaran Piala Dunia 2026, kita sedang menyaksikan sebuah perubahan yang sangat pelan. Perubahan yang tidak lahir dari satu gol spektakuler. Bukan pula dari satu pemain yang tampil luar biasa. Melainkan perubahan tentang cara sebuah negara membangun kemenangan.
Sejak fase grup hingga perempat final, ada satu kecenderungan yang terus berulang. Tim-tim yang terus bertahan bukanlah tim yang hanya memiliki satu pemain hebat. Mereka adalah tim yang memiliki banyak jalan menuju kemenangan.
Prancis masih memiliki Kylian Mbappé. Argentina masih memiliki Lionel Messi. Spanyol memiliki Lamine Yamal. Inggris memiliki Jude Bellingham.
Baca Juga :
Liberte, Egalite, Fraternite dan Sepak Bola
Namun, semakin jauh turnamen berjalan, semakin jelas bahwa kemenangan tidak pernah hanya datang dari mereka. Selalu ada pemain lain yang mengambil tanggung jawab. Selalu ada solusi lain ketika rencana pertama gagal. Selalu ada sistem yang membuat tim tetap hidup.
Di situlah saya mulai memahami, barangkali selama ini kita juga keliru memahami arti seorang superstar. Kita menganggap pemain terbaik adalah mereka yang harus menyelamatkan tim pada setiap pertandingan.
Padahal pemain terbaik justru adalah mereka yang bermain di dalam sebuah sistem yang membuat pemain lain ikut bertumbuh. Superstar tetap penting, bahkan sangat penting. Namun, mereka bukan lagi satu-satunya jawaban.
Dan di situlah Piala Dunia memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sepak bola. Piala Dunia juga memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa membangun keberlanjutan.
Karena turnamen empat tahunan tidak pernah dimenangkan hanya oleh sebelas pemain yang berada di lapangan. Melainkan dimenangkan oleh keputusan-keputusan yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya.
Oleh akademi yang membina. Oleh pelatih yang menanamkan identitas bermain. Oleh keberanian melakukan regenerasi. Oleh itu, kesediaan menempatkan sistem di atas individu.
Itulah yang membedakan sebuah pohon dengan sebuah hutan. Pohon bisa menjulang sangat tinggi. Semua orang mengenalnya, namun tetap rapuh ketika berdiri sendirian.
Sebaliknya, hutan mungkin tidak selalu memiliki pohon tertinggi. Tetapi memiliki akar yang saling menguatkan. Ruang bagi kehidupan baru untuk tumbuh. Dan kemampuan untuk tetap hidup ketika pohon terbesar akhirnya tumbang.
Mungkin masih terlalu dini untuk menyimpulkan siapa yang akan mengangkat trofi Piala Dunia 2026. Turnamen ini bahkan belum mencapai garis akhirnya. Namun, sejauh perjalanan yang telah kita saksikan, ada satu pelajaran yang terasa semakin jelas.
Sepak bola modern tidak lagi hanya menguji negara yang memiliki pemain terbaik. Pula menguji negara yang mampu membangun ekosistem terbaik agar pemain-pemain hebat terus lahir.
Adalah keniscayaan bahwa setiap legenda akan menua. Pele, Beckenbauer dan Maradona telah tiada. Zidane dan Ronaldo Nazario telah lama pensiun. Dan suatu hari nanti, Messi, Mbappe, Yamal, dan siapa pun yang datang setelah mereka juga akan mengalami nasib yang sama. Itulah hukum alam.
Pertanyaannya bukan lagi siapa pohon yang paling tinggi. Pertanyaannya adalah apakah ketika pohon itu tumbang, hutannya tetap hidup?
Barangkali, di situlah makna sesungguhnya dari judul tulisan ini. Kutukan bukanlah ketika sebuah bangsa memiliki seorang legenda.
Kutukan dimulai ketika sebuah bangsa berhenti membangun karena merasa telah memiliki seorang legenda. Sebab seorang legenda dapat memenangkan pertandingan. Tetapi hanya ekosistem yang mampu memenangkan generasi berikutnya.
(N.D. Santoso)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda