Untuk sesaat, semua orang percaya bahwa sejarah telah memilih pemenangnya. Lalu sejarah meminta waktu tambahan. Bukan karena bola keluar lapangan. Bukan karena peluit panjang berbunyi. Melainkan karena seseorang di sebuah ruangan meminta pertandingan berhenti sejenak. Ruangan itu bernama Video Assistant Referee. Kita mengenalnya dengan tiga huruf yang kini menjadi bagian dari kamus sepak bola modern, VAR.
Hari ini, sebuah gol ternyata tidak lagi cukup hanya dengan melewati garis gawang. Namun masih harus melewati satu pemeriksaan lagi. Bukan dari bek lawan. Bukan dari penjaga gawang. Melainkan dari teknologi.
Ironisnya, barangkali satu-satunya olahraga di dunia yang mampu membuat puluhan ribu orang menahan napas secara bersamaan adalah sepak bola. Namun hari ini mereka tidak lagi menahan napas karena bola meluncur ke arah gawang. Mereka menahan napas menunggu keputusan dari sebuah layar monitor.
Di situlah saya mulai bertanya. Apakah VAR benar-benar membuat sepak bola menjadi lebih adil? Atau tanpa kita sadari, VAR sedang mengubah cara manusia menikmati permainan yang selama lebih dari satu abad hidup dari drama, spontanitas, dan ketidakpastian?
Baca juga: Liberte, Egalite, Fraternite dan Sepak Bola
Salah satu momen yang paling menyita perhatian terjadi ketika Argentina menghadapi Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Mesir sempat merayakan gol yang diyakini membawa mereka unggul lebih jauh. Para pemain berlari. Suporter bersorak. Untuk sesaat, sejarah seolah telah memilih jalannya. Lalu, sejarah berhenti. Wasit dipanggil menuju monitor. VAR meninjau kembali fase awal serangan.
Alhasil, gol dianulir. Pertandingan berubah. Argentina bangkit. Mesir tersingkir bukan karena sihir tapi teknologi mutakhir. Perdebatan pun lahir. Sebagian menganggap keputusan itu tepat karena sesuai prosedur. Sebagian lain merasa ada sesuatu yang hilang dari sepak bola modern.
Bagi saya, perdebatan itu jauh lebih menarik daripada sekadar menentukan apakah keputusan wasit benar atau salah. Karena pertanyaan sesungguhnya adalah siapa yang sebenarnya sedang menulis sejarah sepak bola hari ini?
Selama lebih dari satu abad, sejarah sepak bola ditulis oleh kaki para pemain. Gol-gol yang sah. Gol-gol yang kontroversial. Blunder. Penyelamatan luar biasa. Bahkan kesalahan wasit. Semuanya menjadi bagian dari ingatan kolektif yang membuat sepak bola terasa begitu manusiawi.
Barangkali karena itulah sejarah sepak bola dipenuhi momen-momen yang tidak pernah benar-benar selesai diperdebatkan. Gol "Tangan Tuhan" Diego Maradona pada Piala Dunia 1986, misalnya. Gol itu tidak hanya mengubah hasil pertandingan, nyatanya juga mengubah cara dunia mengingat sepak bola. Sebagian melihatnya sebagai pelanggaran. Sebagian lain memaknainya sebagai bagian dari mitologi permainan ini.
Empat puluh tahun kemudian, dunia masih memperdebatkannya. Barangkali bukan karena gol itu benar. Bukan pula karena gol itu salah. Melainkan karena sepak bola selalu hidup dari cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan mungkin di era VAR, sepak bola akan menjadi lebih adil. Namun dunia mungkin tidak akan pernah lagi melahirkan kontroversi yang kemudian berubah menjadi mitologi.
Hari ini, sejarah seolah memiliki satu aktor baru, yaitu teknologi. Namun benarkah demikian? Sesungguhnya, VAR tidak pernah mengambil keputusan. VAR hanya memperlihatkan ulang sebuah peristiwa sedangkan yang tetap mengambil keputusan adalah manusia.
Ironisnya, teknologi yang diciptakan untuk mengurangi kontroversi justru melahirkan bentuk kontroversi yang baru. Dulu orang marah kepada wasit. Hari ini orang marah kepada garis offside digital. Dulu perdebatan berhenti ketika peluit panjang dibunyikan. Hari ini, perdebatan justru dimulai setelah tayangan ulang diputar berkali-kali dari berbagai sudut kamera.
Sepak bola tidak pernah menjanjikan keadilan yang sempurna. Dan mungkin memang tidak pernah diciptakan untuk itu. Selama lebih dari satu abad, sepak bola hidup dari ketidakpastian. Selama 90 menit, tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cerita akan berakhir.
Satu sentuhan. Satu blunder. Satu penyelamatan. Satu keputusan wasit. Atau bahkan satu bola yang membentur tiang gawang. Semuanya mampu mengubah sejarah hanya dalam hitungan detik. Justru di situlah letak keindahan sepak bola.
Drama yang dinikmati miliaran penonton bukanlah drama yang ditulis di ruang meeting. Melainkan drama yang lahir secara alami di atas rumput hijau. Ada tangis, tawa, euforia, dan kekecewaan. Ada harapan yang runtuh pada menit ke-90. Pula ada keajaiban yang lahir saat injury time.
Semuanya menjadi bagian dari pengalaman emosional yang membuat sepak bola lebih dari sekadar permainan. Kita tidak hanya menonton siapa yang menang. Kita menikmati perjalanan yang penuh ketidakpastian menuju kemenangan itu.
Namun hari ini, teknologi mulai menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Selebrasi gol tidak lagi selalu menjadi puncak emosi. Karena setelah bola masuk ke gawang, masih ada satu pertanyaan yang menggantung, "Tunggu dulu, bagaimana keputusan VAR?"
Dalam hitungan detik, stadion yang baru saja meledak oleh sorak-sorai bisa mendadak sunyi. Pemain menunggu. Suporter menunggu. Bahkan sejarah pun seolah ikut menunggu.
Di titik inilah industri sepak bola modern menemukan paradoksnya. Teknologi membuat keputusan semakin akurat. Namun sepak bola tidak pernah hidup hanya dari akurasi. Sepak bola hidup dari emosi. Hak siar menjual emosi. Media menjual emosi. Film dokumenter menjual emosi. Bahkan algoritma media sosial bekerja dengan logika yang sama.
Yang membuat miliaran orang rela duduk selama 90 menit bukanlah kepastian melainkan ketidakpastian. Karena tidak ada satu pun penonton yang benar-benar tahu bagaimana kisah itu akan berakhir.
Mungkin suatu hari nanti teknologi mampu menghilangkan hampir seluruh kesalahan wasit. Namun selama sepak bola masih dimainkan oleh manusia, selalu akan ada ruang bagi perdebatan. Sebab teknologi bisa membantu mengambil keputusan. Tetapi teknologi tidak akan pernah mampu menghilangkan perbedaan cara manusia memaknai sebuah keputusan.
Baca juga: Kita (Tidak) Sedang Kehilangan Messi dan Ronaldo
Mungkin, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah VAR baik atau buruk. Karena VAR telah menjadi bagian dari sepak bola modern. Pertanyaannya adalah apakah ketika teknologi membuat keputusan semakin akurat, pengalaman manusia menikmati sepak bola juga menjadi lebih baik?
Sebab sejak pertama kali dimainkan, sepak bola tidak pernah sekadar menawarkan kemenangan tetapi juga menawarkan ketidakpastian. Justru ketidakpastian itulah yang membuat miliaran orang rela kembali menonton, pekan demi pekan, turnamen demi turnamen. Mereka tidak membeli tiket hanya untuk melihat siapa yang menang. Mereka datang untuk merasakan harapan, kecemasan, euforia, kekecewaan. Dan, keajaiban yang hanya bisa lahir di dalam 90 menit pertandingan.
Hari ini, teknologi membantu membuat keputusan menjadi lebih akurat. Itu adalah kemajuan yang patut dihargai. Namun pada saat yang sama, teknologi juga mengubah ritme emosi yang selama ini menjadi denyut nadi sepak bola. Selebrasi kini sering tertahan. Sorak-sorai berubah menjadi penantian. Dan sebuah gol baru benar-benar menjadi gol setelah mendapat persetujuan dari layar monitor. Mungkin itulah harga yang harus dibayar demi mengejar keadilan yang lebih baik.
Tetapi ada satu hal yang tidak akan pernah mampu dihitung oleh teknologi. Yaitu, detak jantung jutaan penonton ketika bola meluncur ke arah gawang.
Teknologi mampu mengukur garis offside hingga hitungan milimeter. Teknologi mampu mendeteksi sentuhan bola yang nyaris tak terlihat. Namun teknologi tidak akan pernah mampu mengukur rasa lega ketika tim kesayangan mencetak gol. Tidak akan pernah mampu menghitung kecewa yang lahir dalam sepersekian detik ketika gol itu dianulir. Dan tidak akan pernah mampu menggantikan emosi yang membuat sepak bola menjadi olahraga paling dicintai di muka bumi.
Mungkin, yang membuat sepak bola abadi bukanlah kesempurnaan teknologinya. Melainkan drama yang lahir secara alami dari sebelas pemain yang mengejar satu bola selama 90 menit. Sedangkan VAR akan selalu menjadi alat. Bukan jiwa dari permainan itu sendiri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda