(Foto: AFP/Narinder Nanu)
(Foto: AFP/Narinder Nanu)

Kita (Tidak) Sedang Kehilangan Messi dan Ronaldo

Alfa Mandalika • 10 Juli 2026 12:19
Ringkasnya gini..
  • Apakah dunia masih mampu melahirkan rivalitas seperti Lionel Andrés Messi dan Cristiano Ronaldo? Menjelang final Piala Dunia 2026, pertanyaan itu terasa semakin relevan, terlebih Cristiano Ronaldo telah lebih dulu meninggalkan panggung Piala Dunia.
  • Selama beberapa tahun terakhir, dunia seolah berlomba mencari pewaris. Erling Haaland, Kylian Mbappé, hingga Lamine Yamal terus bermunculan sebagai nama-nama yang diyakini akan menjadi wajah baru sepak bola dunia. Setiap kali seorang pemain muda tampil gemilang, pertanyaan yang sama selalu kembali terdengar, apakah dia "Messi berikutnya"? Atau justru "Ronaldo berikutnya"?
  • Semakin sering saya mendengarnya, semakin saya merasa dunia sedang mencari jawaban untuk pertanyaan yang keliru. Barangkali yang tidak bisa diwariskan bukanlah pemainnya melainkan zamannya. Dan barangkali yang sedang kita kehilangan bukan dua pesepak bola. Tetapi yang sedang kita kehilangan adalah sebuah zaman.
Jakarta: Apakah dunia masih mampu melahirkan rivalitas seperti Lionel Andrés Messi dan Cristiano Ronaldo? Menjelang final Piala Dunia 2026, pertanyaan itu terasa semakin relevan, terlebih Cristiano Ronaldo telah lebih dulu meninggalkan panggung Piala Dunia.
 
Selama beberapa tahun terakhir, dunia seolah berlomba mencari pewaris. Erling Haaland, Kylian Mbappé, hingga Lamine Yamal terus bermunculan sebagai nama-nama yang diyakini akan menjadi wajah baru sepak bola dunia. Setiap kali seorang pemain muda tampil gemilang, pertanyaan yang sama selalu kembali terdengar, apakah dia "Messi berikutnya"? Atau justru "Ronaldo berikutnya"?
 
Semakin sering saya mendengarnya, semakin saya merasa dunia sedang mencari jawaban untuk pertanyaan yang keliru. Barangkali yang tidak bisa diwariskan bukanlah pemainnya melainkan zamannya. Dan barangkali yang sedang kita kehilangan bukan dua pesepak bola. Tetapi yang sedang kita kehilangan adalah sebuah zaman.

Selama hampir dua dekade, sepak bola tidak hanya memiliki dua pemain terbaik. Sepak bola memiliki dua pusat gravitasi. Setiap Ballon d'Or. Setiap El Clásico. Setiap Liga Champions.
 
Bahkan hampir setiap perdebatan tentang sepak bola modern selalu kembali kepada dua nama, Messi dan Ronaldo. Mereka tidak hanya mencetak gol. Mereka mengubah cara dunia bercerita tentang sepak bola.
 
Ironisnya, hari ini banyak orang berkata bahwa era Messi dan Ronaldo mulai memasuki senja. Saya justru belum yakin. Karena sebuah zaman tidak berakhir ketika para tokohnya menua. Sebuah zaman benar-benar berakhir ketika dunia berhenti mencari penggantinya.
 
Dan hari ini, kita masih sibuk mencari "The Next Messi" atau "The Next Ronaldo." Bukankah itu berarti kita sendiri belum benar-benar siap melepaskan mereka?
 
Barangkali ada sesuatu yang lebih besar daripada bakat. Selama ini kita mengira Messi menjadi Messi karena kejeniusannya. Ronaldo menjadi Ronaldo karena obsesinya. Semua itu benar. Tetapi rasanya belum lengkap.
  Ada satu unsur lain yang jarang dibicarakan. Mereka saling membentuk. Messi tidak hanya bermain melawan lawan-lawannya. Messi juga bermain melawan standar yang terus dinaikkan Ronaldo. Begitu pula sebaliknya.
 
Setiap rekor yang dipecahkan salah satunya menjadi tantangan bagi yang lain. Setiap trofi memaksa trofi berikutnya. Setiap Ballon d'Or melahirkan ambisi untuk memenangkan Ballon d'Or berikutnya.
 
Rivalitas itu bukan sekadar persaingan. Tetapi sekaligus menjadi mesin yang memaksa dua manusia terus melampaui batas dirinya sendiri. Dan mungkin di situlah letak kesalahan terbesar kita hari ini. Kita sibuk mencari Messi baru. Mencari Ronaldo baru. Padahal seorang legenda tidak pernah lahir sendirian. Legenda lahir ketika menemukan lawan yang memaksanya terus bertumbuh.
 
Barangkali yang paling sulit digantikan dari Messi dan Ronaldo bukanlah gol-gol mereka. Melainkan kebiasaan dunia untuk selalu memilih satu di antara keduanya.
 
Lalu mengapa rivalitas seperti itu terasa begitu sulit terulang? Mungkin karena rivalitas besar tidak pernah lahir hanya dari dua pemain hebat. Rivalitas lahir ketika dua bakat luar biasa muncul pada zaman yang sama. Ketika dua kepribadian yang bertolak belakang saling berhadapan. Ketika dua klub terbesar di dunia menjadi panggung mereka. Ketika Liga Champions berada di puncak pamornya. Ketika media digital mulai menghubungkan miliaran orang dalam satu percakapan yang sama. Semua itu bertemu pada satu titik waktu yang nyaris mustahil diulang.
 
Di sinilah saya mulai memahami mengapa era rivalitas Messi - Ronaldo terasa begitu sulit digantikan. Bukan semata-mata karena kualitas permainannya. Melainkan karena dunia tidak sedang kehilangan dua pemain. Dunia sedang kehilangan sebuah cerita. Dan setiap peradaban selalu hidup dari cerita-cerita besar.
 
Di titik inilah industri sepak bola memainkan perannya. Bukan, industri tidak menciptakan Messi dan Ronaldo. Bakat mereka lahir di lapangan, bukan di ruang rapat ber-AC.
 
Namun industri memahami satu hal yang telah lama diketahui manusia. Cerita jauh lebih kuat daripada statistik. Rivalitas jauh lebih mudah dikenang daripada sekadar daftar juara. Hak siar, sponsor, media, film dokumenter, hingga algoritma media sosial kemudian memperbesar kisah itu ke setiap sudut dunia. Namun mereka hanya memperbesar sesuatu yang memang telah lahir secara alami.
 
Hari ini kita telah memiliki Haaland, Mbappé higga Yamal. Mereka mungkin akan memenangkan Ballon d'Or. Mereka mungkin akan memecahkan rekor. Mereka mungkin akan menjadi legenda. Namun siapa yang akan membuat mereka menjadi lebih hebat?
 
Sejarah menunjukkan bahwa legenda-legenda terbesar tidak hanya dibentuk oleh bakat. Mereka juga dibentuk oleh rival yang menolak membiarkan mereka merasa cukup. Dan mungkin tidak semua zaman memang ditakdirkan untuk terulang.
 
Sejarah selalu melahirkan pemain yang lebih cepat, lebih kuat, dan lebih modern. Tetapi sejarah tidak pernah berjanji akan melahirkan cerita yang sama dua kali.
 
Karena itulah, menjelang final Piala Dunia 2026, mungkin pertanyaan terbesar bukan lagi siapa yang akan menjadi pemain terbaik dunia berikutnya. Melainkan apakah kita sedang menunggu lahirnya rivalitas baru atau sebenarnya kita sedang belajar mengucapkan selamat tinggal kepada rivalitas terbesar yang pernah dimiliki sepak bola modern.
 
Oleh: N.D Santoso
 
*Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan