Sejarah Piala Dunia 1994_Aksi Roger Milla, Paul Gascoigne, toto schilacci dan jerman juara (Ilustrasi: ChatGPT)
Sejarah Piala Dunia 1994_Aksi Roger Milla, Paul Gascoigne, toto schilacci dan jerman juara (Ilustrasi: ChatGPT)

Sejarah Piala Dunia 1990: Minim Gol, tapi Jadi Turnamen Paling Dramatis

Friko Simanjuntak • 11 Juni 2026 18:42
Ringkasnya gini..
  • Piala Dunia 1990 jadi edisi Piala Dunia paling minim gol karena hanya mencatatkan rasio 2,21 gol per pertandingan.
  • Roger Milla jadi sorotan di Piala Dunia 1990 lewat selebrasi uniknya menarik di sudut lapangan.
  • Striker Timnas Italia, Salvatore Schillaci menjadi kejutan besar di Piala Dunia 1990 karena tampil gemilang meski berstatus pemain cadangan.
Medcom.idPiala Dunia 1990 di Italia mungkin bukan edisi terbaik secara produktivitas gol. Karena, turnamen edisi ke-14 ini justru mencatatkan rekor gol paling sedikit, yakni hanya 2,21 gol per pertandingan. Namun, kalau kamu bertanya pada generasi yang menyaksikannya, hampir semua akan sepakat: Piala Dunia 1990 adalah edisi Piala Dunia yang paling ikonik, dramatis, dan penuh air mata.
 
Dimulai dari alunan magis lagu "Un'estate italiana" milik Giorgio Moroder, maskot kubus unik bernama "Ciao", hingga deretan drama di dalam lapangan, turnamen ini menyajikan narasi emosional yang mengubah wajah sepak bola modern selamanya. Mengapa turnamen ini begitu membekas? Mari kita putar kembali waktu.
 

Kejutan Kamerun dan Sihir Pinggul Roger Milla


Piala Dunia 1990 langsung dibuka dengan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola. Di laga pembuka, tim non-unggulan Kamerun sukses menumbangkan juara bertahan Argentina yang dipimpin oleh Diego Maradona dengan skor 1-0.
 
Bintang utama dari dongeng benua Afrika ini adalah Roger Milla. Striker yang kala itu sudah berusia 38 tahun dipanggil kembali dari masa pensiunnya atas permintaan khusus Presiden Kamerun. Hasilnya? Milla mencetak 4 gol yang membawa The Indomitable Lions menjadi tim Afrika pertama yang berhasil menembus babak perempat final.
 
Dan yang paling ikonik, setiap kali mencetak gol Milla akan berlari ke sudut lapangan lalu melakukan dansa pinggul ikonik sambil memegang tiang bendera corner. Aksi ini kemudian menginspirasi generasi pesepak bola modern dalam merayakan gol.
 

Tangisan Gazza di Turin yang Mengubah Sepak Bola Inggris


Bagi publik Inggris, Piala Dunia 1990 Italia adalah momen patah hati nasional terbesar sekaligus titik balik kultur sepak bola mereka. Dipimpin oleh talenta muda berbakat, Paul "Gazza" Gascoigne, The Three Lions berhasil melaju hingga semifinal untuk menghadapi musuh bebuyutan mereka, Jerman Barat.

Di tengah laga yang sengit, Gazza melakukan pelanggaran keras dan diganjar kartu kuning. Kamera televisi kemudian menangkap momen budaya pop sepak bola yang paling legendaris: mata Gazza berkaca-kaca, menyadari bahwa ia akan absen di laga final andai Inggris lolos.
 
Inggris akhirnya kalah lewat drama adu penalty -memulai "kutukan penalti" panjang yang menghantui mereka selama beberapa decade-. Namun, tangisan Gazza mengubah persepsi publik Inggris terhadap pesepak bola, mengubah citra olahraga ini dari yang sebelumnya lekat dengan kekerasan hooligan menjadi sesuatu yang emosional dan dicintai seluruh lapisan masyarakat.
 

Diego Maradona dan Pecahnya Publik Napoli


Sisi emosional Piala Dunia 1990 Italia juga melibatkan konflik loyalitas yang rumit, dan aktor utamanya tidak lain adalah Diego Maradona. Di babak semifinal, nasib mempertemukan sang tuan rumah Italia dengan Argentina. Apesnya bagi Italia, laga itu digelar di Stadion San Paolo, Napoli -kota tempat Maradona dipuja bak dewa karena berhasil membawa klub Napoli berjaya di Serie A.
 
Sebelum laga, Maradona memanaskan tensi dengan meminta warga Napoli untuk mendukung Argentina ketimbang negara mereka sendiri, mengingatkan mereka bagaimana pemerintah Italia sering menganaktirikan wilayah selatan.
 
Stadion terbelah. Argentina akhirnya menang lewat adu penalti, menyingkirkan sang tuan rumah di hadapan pendukungnya sendiri. Saat laga final di Roma, publik Italia membalas dengan mencemooh lagu kebangsaan Argentina, memicu isakan tangis kemarahan dari Maradona di akhir turnamen.
 

Dongeng Musim Panas Salvatore 'Toto' Schillaci


Jika Kamerun adalah tim underdog, maka Salvatore "Toto" Schillaci adalah pahlawan underdog dari tim tuan rumah. Datang ke turnamen hanya sebagai striker pelapis yang tidak diperhitungkan, Schillaci bertransformasi menjadi fenomena.
 
Setiap kali dimasukkan, ia mencetak gol-gol krusial bagi Italia. Ekspresi wajahnya yang ikonik -mata melotot lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan- menjadi simbol gairah murni sepak bola Italia. Schillaci mengakhiri turnamen dengan membawa pulang gelar Top Skor (Golden Boot) sekaligus Pemain Terbaik (Golden Ball). Piala Dunia 1990 Italia adalah puncak kariernya yang tak pernah bisa ia ulangi lagi.
 

Penebusan Dosa Jerman Barat dan Runtuhnya Tembok Berlin


Partai final di Roma mempertemukan Jerman Barat dan Argentina dalam laga yang berjalan kasar dan antiklimaks, diwarnai oleh dua kartu merah untuk Argentina. Namun, kemenangan Jerman Barat lewat penalti Andreas Brehme membawa makna emosional yang jauh lebih besar di luar sepak bola.
 
Turnamen ini digelar hanya beberapa bulan setelah Tembok Berlin runtuh. Di bawah asuhan sang legenda Franz Beckenbauer, trofi Juara Piala Dunia 1990 menjadi kado perpisahan sekaligus penyambutan yang manis bagi proses unifikasi Jerman yang sedang berlangsung secara politik.
 

Italia '90 Mengubah Sepak Bola Selamanya


Secara estetika permainan, Piala Dunia 1990 Italia mungkin dikritik karena terlalu defensif dan kasar. Namun, justru karena turnamen yang emosional inilah FIFA sadar bahwa sepak bola harus diselamatkan.
 
Pasca-1990, FIFA melahirkan aturan radikal back-pass (kiper dilarang menangkap bola dari operan kaki rekan setim) untuk memaksa tim bermain lebih menyerang. Era ini juga menjadi gerbang pembuka komersialisasi sepak bola modern, yang memicu lahirnya format baru UEFA Champions League dan Premier League Inggris pada tahun 1992.
 
Piala Dunia Italia bisa dikatakan akhir dari era sepak bola klasik yang romantis, sekaligus awal dari industri sepak bola modern yang kita kenal hari ini.
 

Fakta Piala Dunia 1990


Tuan Rumah: Italia
Juara: Jerman Barat (Gelar ke-3)
Runner-up: Argentina
Top Scorer: Salvatore 'Totò' Schillaci (Italia) – 6 Gol
 
Dongeng Pahlawan Lokal: Salvatore Schillaci awalnya hanyalah penyerang cadangan Italia yang tidak diperhitungkan. Namun, ia mendadak masuk dan terus mencetak gol tak terduga di setiap laga hingga menyabet gelar Top Scorer dan Pemain Terbaik, sebuah fenomena yang disebut publik Italia sebagai "Notti Magiche" (Malam-malam Ajaib).
 
Fakta Unik: Ini adalah Piala Dunia terakhir yang diikuti oleh negara Jerman Barat (sebelum penyatuan kembali dengan Jerman Timur beberapa bulan kemudian), Uni Soviet, dan Yugoslavia sebelum negara-negara tersebut bubar secara geopolitik.

Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ACF)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan