Sejarah Piala Dunia 1986: Gol Tangan Tuhan Maradona yang bawa Argentina juara (Ilustrasi: ChatGPT)
Sejarah Piala Dunia 1986: Gol Tangan Tuhan Maradona yang bawa Argentina juara (Ilustrasi: ChatGPT)

Sejarah Piala Dunia 1986: Misteri “Tangan Tuhan” dan Gol Terbaik Persembahan Maradona

Friko Simanjuntak • 10 Juni 2026 22:27
Ringkasnya gini..
  • Piala Dunia 1986 jadi panggung bagi Maradona menunjukkan kejeniusannya sebagai pesepak bola sekaligus penipu ulung.
  • Selain mencetak gol yang dinobatkan sebagai gol terbaik abad ini, Maradona juga mencetak gol kontroversial yang dikenal dengan istilah gol tangan tuhan.
  • Di luar kesuksesan Maradona dan Argentina keluar sebagai juara, Piala Dunia 1986 juga dikenal menjadi awal dari lahirnya Mexican Wave oleh penonton.
Medcom.id - Piala Dunia 1986 merupakan salah satu edisi Piala Dunia yang boleh dikatakan sebagai panggung pertunjukan tunggal satu pemain alias one-man show. Siapa aktor utamanya?
 
Dia adalah Diego Armando Maradona. Striker Timnas Argentina ini tampil sangat mencolok pada turnamen Piala Dunia edisi ke-13 yang digelar di Meksiko. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh soal sepak terjang Maradona, menarik juga untuk diketahui bahwa terpilihnya Meksiko sebagai tuan rumah bukan karena sudah dijadwalkan FIFA.
 
Jadi, Piala Dunia 1986 awalnya bakal diselenggarakan di Kolombia. Akan tetapi, karena negara yang dikenal luas lewat bos kartel Pablo Escobar itu, mengalami krisis ekonomi, maka, FIFA menunjuk Meksiko sebagai tuan rumah. Penunjukkan in sekaligus menempatkan Meksiko sebagai negara pertama yang jadi tuan rumah Piala Dunia sebanyak dua kali.

Baik, sekarang kita kembali ke Maradona. Seperti dijelaskan di atas, Piala Dunia 1986 adalah panggung bagi seorang Maradona menunjukkan sihirnya sebagai pesepakbola. Tak hanya lewat liukannya dalam melewati pemain-pemain lawan, tapi, bintang Napoli itu sukses menyihir seluruh dunia lewat golnya ke gawang Inggris, yang kemudian dilabeli dengan sebutan “Gol Tangan Tuhan”.
 

Tensi Politik di Luar Lapangan Hijau


Momen magis sekaligus culas yang dilakukan Maradona itu tersaji di babak perempat final di mana Argentina harus bersua Inggris. Laga di Stadion Azteca pada 22 Juni 1986 ini sejatinya bukan sekadar pertandingan biasa. Tensi pertandingan ini membubung tinggi akibat latar belakang politik yang sangat sensitif: Perang Falkland (Malvinas) yang terjadi empat tahun sebelumnya, di mana Inggris dan Argentina terlibat kontak senjata memperebutkan wilayah kepulauan di samudra Atlantik.
 
Bagi skuad Argentina, laga ini adalah misi kehormatan untuk membalas luka nasional mereka. Maradona, yang mengenakan ban kapten, memikul ekspektasi seluruh negaranya di pundaknya. Apa yang terjadi dalam rentang waktu empat menit di babak kedua laga tersebut mengubah jalannya sejarah olahraga selamanya.
 

Skandal Gol Tangan Tuhan


Awalnya, pertandingan berjalan cukup normal, kendati benturan-benturan keras antar pemain kerap jadi sajian di atas rumput. Skor 0-0 bertahan hingga turun minum.
 
Memasuki babak kedua, tepatnya menit ke-51, Maradona melakukan tusukan ke jantung pertahanan Inggris dan mengoper bola ke Jorge Valdano. Bek Inggris, Steve Hodge, mencoba menghalau bola, namun sepakannya justru membuat bola melambung tinggi ke arah kotak penalti sendiri.
 
Maradona terus berlari mengejar bola gantung tersebut. Di hadapannya, kiper Inggris yang berpostur tinggi kekar, Peter Shilton, melompat maju untuk meninju bola. Kalah tinggi badan, Maradona secara cerdik melompat dengan tangan kiri yang diangkat tinggi di dekat kepalanya. Gol. Dalam waktu sepersekian detik, Maradona berhasil menyentuh bola lebih dulu untuk membobol gawang Peter Shilton.
 
Namun yang jadi pertanyaan kemudian, apakah Maradona menyentuh bola dengan kepala atau dengan tangan kirinya? Inilah yang kemudian menjadi kontroversi untuk waktu yang lama.
 
Peter Shilton dan para pemain Inggris, langsung berlari memprotes wasit, menunjuk-nunjuk tangan mereka sendiri untuk menegaskan adanya handball. Sementara Maradona dan pemain Argentina sibuk berselebrasi.
 
Wasit Ali Bin Nasser asal Tunisia terlihat cukup kesulitan mengambil Keputusan karena ia tidak bisa melihat dengan jelas insiden tersebut karena terjadi begitu cepat. Tanpa bantuan teknologi Video Assistant Referee (VAR) seperti yang ada saat ini, wasit pada akhirnya mengesahkan gol tersebut. Argentina memimpin 1-0.
 
Dalam sebuah konferensi pers usai pertandingan, Maradona yang mendapatkan pertanyaan terkait golnya itu, memberikan jawaban yang ambigu yang kemudian membuat golnya itu disebut “Gol Tangan Tuhan”
 
"Gol itu dicetak sedikit oleh kepala Maradona, dan sedikit oleh Tangan Tuhan (La Mano de Dios)."
 

Mahakarya Gol Terbaik Abad Ini


Di luar kontroversi Gol Tangan Tuhan, pada laga ini Maradona juga menunjukkan kualitasnya sebagai pemain yang luar biasa. Hanya berselang empat menit setelah mencetak gol yang paling dibenci publik Inggris, Maradona membayar lunas kontroversinya dengan mempersembahkan sebuah keindahan sepak bola murni dalam bentuk tertinggi.
 
Menerima bola di area pertahanannya sendiri, Maradona melakukan putaran magis untuk mengecoh dua pemain Inggris (Peter Beardsley dan Peter Reid). Ia kemudian melesat layaknya peluru, mendribel bola sejauh 60 meter dalam waktu 10 detik, membelah lini tengah dan meruntuhkan pertahanan Inggris.
 
Sebelum menceploskan bola ke gawang yang kosong untuk mengubah skor menjadi 2-0, Maradona bahkan sempat melakukan gerak tipu yang membuat kiper Peter Shilton jatuh terduduk. Gol aksi individu spektakuler ini kemudian secara resmi dinobatkan oleh FIFA sebagai "Goal of the Century" (Gol Terbaik Abad Ini).
 

Akhir Sempurna Sang Maestro di Azteca


Setelah menyingkirkan Inggris 2-1, langkah Argentina tidak lagi tertahankan. Di babak semifinal, Maradona kembali memborong dua gol indah saat membungkam Belgia 2-0.
 
Pada laga final yang dihadiri 114.000 penonton di Stadion Azteca, Argentina berhadapan dengan taktik disiplin Jerman Barat. Laga berjalan luar biasa sengit.
 
Argentina sempat memimpin 2-0 lewat gol Jose Brown dan Jorge Valdano. Namun, Jerman Barat dengan mental bajanya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 hanya dalam waktu tujuh menit lewat dua situasi tendangan sudut yang diselesaikan Karl-Heinz Rummenigge dan Rudi Völler.
 
Pada momen krusial, Maradona kembali menunjukkan kejeliannya. Pada menit ke-84, ia melepaskan operan satu sentuhan yang sangat jenius membelah pertahanan lawan, memberikan assist matang yang diselesaikan dengan dingin oleh Jorge Burruchaga.
 
Argentina menang 3-2 dan keluar sebagai juara dunia untuk kedua kalinya. Foto Maradona yang digendong di atas pundak suporter sambil mengangkat tinggi trofi Piala Dunia di Stadion Azteca menjadi visual paling ikonik yang menegaskan bahwa tahun 1986 adalah tahun milik sang anak emas, El Pibe de Oro.
 

Fakta Piala Dunia 1986


Tuan Rumah: Meksiko
Juara: Argentina (Gelar ke-2)
Runner-up: Jerman Barat
Top Scorer: Gary Lineker (Inggris) – 6 Gol
 
Fenomena Mexican Wave: Edisi 1986 menjadi populer karena memasyarakatkan gerakan bersorak bergelombang di tribun stadion yang dikenal di seluruh dunia dengan nama "The Mexican Wave".
 
Fakta Unik: Kanada dan Denmark mencatatkan debut bersejarah mereka di Piala Dunia pada edisi ini, di mana tim Dinamit Denmark tampil mengejutkan dengan menyapu bersih fase grup, termasuk membantai Uruguay 6-1.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ACF)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan