Ketika Argentina buntu, ia menjadi jalan keluar. Ketika Argentina kehilangan harapan, ia menjadi alasan untuk kembali percaya.
Seolah-olah, setiap kali negeri itu berada di persimpangan, selalu ada satu nama yang harus memikul beban seluruh bangsa. Begitulah kisah yang berulang kali diceritakan kepada kita.
Namun momen saat melawan Mesir, saya justru melihat sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, pertanyaannya bukan lagi apa yang bisa dilakukan Messi untuk Argentina. Melainkan apa yang bersedia dilakukan Argentina untuk Messi.
Baca Juga :
LAMINE YAMAL, (BUKAN) PENERUS MESSI DAN CR7
Ketika Mesir unggul dua gol, waktu terasa berjalan lebih cepat daripada biasanya. Kamera berkali-kali menyorot wajah Messi. Seolah-olah seluruh jawaban kembali diletakkan di pundak seorang pria yang telah memberikan hampir separuh hidupnya kepada seragam biru langit. Apalagi, kaki kiri Messi sempat gagal melesakkan kulit bundar dari ttik putih yang berjarak 11 meter.
Barangkali begitulah cara kita memperlakukan seorang legenda. Kita terbiasa meminta mereka menyelamatkan kita. Hingga lupa bertanya, siapa yang akan menyelamatkan sang legenda ketika mimpinya sendiri terancam runtuh?
Lalu pertandingan berubah. Bukan karena satu keajaiban. Bukan karena satu keputusan. Bukan pula karena satu orang. Argentina mulai berlari lebih jauh. Menekan lebih tinggi. Bertahan lebih keras. Mereka menolak percaya bahwa perjalanan itu harus berakhir malam itu.
Dan di situlah saya menyadari, Argentina tidak menunggu Messi menyelamatkan mereka. Namun sebaliknya, Argentina memilih menyelamatkan Messi. Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan. Namun sepak bola terkadang memperlihatkan kebenaran dengan cara yang sederhana.
Baca Juga :
CR7, Tidak Dilahirkan Tapi Diciptakan
Selama bertahun-tahun kita mengatakan bahwa Messi membawa Argentina menuju kejayaan. Namun ada saatnya pula ketika sebuah bangsa memutuskan bahwa kini giliran mereka mengantar sang legenda. Bukan dengan pidato. Bukan dengan upacara.
Melainkan dengan berlari sedikit lebih jauh ketika tenaga mulai habis. Dengan bertahan sedikit lebih keras ketika harapan mulai memudar. Dengan memastikan bahwa jika suatu hari Messi benar-benar memainkan pertandingan terakhirnya bersama Argentina, ia tidak akan berjalan sendirian.
Di lain sisi, selama hampir dua puluh tahun, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo berdiri di puncak yang sama. Perdebatan tentang siapa yang lebih hebat mungkin tidak akan pernah selesai. Namun sejarah ternyata tidak hanya memilih pemain terbaik. Sejarah juga memilih bangsa yang paling mampu memahami pemain terbaiknya.
Di sinilah Argentina tampak berbeda. Mereka tidak lagi membangun permainan yang menunggu Messi menciptakan keajaiban. Mereka membangun sebuah tim yang membuat keajaiban tidak selalu harus datang dari Messi. Perbedaannya tampak kecil. Padahal sangat besar. Menunggu adalah ketergantungan. Mempercayai adalah berbagi beban.
Dalam beberapa tahun terakhir, Argentina semakin terlihat sebagai tim yang rela berbagi beban dengan pemain terbaiknya. Ketika Messi dijaga, pemain lain membuka ruang. Ketika ia kehilangan bola, rekan-rekannya segera menutupnya. Ketika pertandingan menjadi rumit, mereka tidak lagi menoleh kepada satu orang. Mereka bergerak bersama.
Perbandingan dengan Cristiano Ronaldo hampir selalu muncul. Bukan untuk menentukan siapa yang lebih besar. Melainkan untuk menunjukkan bahwa setiap bangsa memiliki perjalanan yang berbeda dalam merawat pemain terbesarnya.
Portugal memiliki generasi yang hebat dan telah meraih berbagai gelar. Namun dalam beberapa fase, mereka masih terus mencari keseimbangan terbaik antara memaksimalkan kualitas Ronaldo dan membangun permainan kolektif yang sepenuhnya menyatu. Argentina tampaknya lebih dahulu menemukan keseimbangan itu.
Mungkin karena mereka memahami satu hal yang sering luput dari perhatian. Seorang legenda memang mampu mengubah pertandingan. Tetapi sebuah bangsa yang percaya kepada legendanya mampu mengubah sejarah.
Apakah Argentina akan kembali menjadi juara dunia? Belum ada yang tahu. Piala Dunia belum selesai. Misi dan sihir Messi untuk mengakhiri pengabdiannya bersama tim nasional dengan satu mahkota terakhir juga belum selesai.
Namun momen epik melawan Mesir telah memberikan pelajaran yang rasanya akan bertahan jauh lebih lama daripada hasil pertandingan itu sendiri. Bahwa pada akhirnya trofi memang dapat mengabadikan seorang legenda. Tetapi yang membuat seorang legenda benar-benar utuh adalah ketika bangsanya memilih memperjuangkan dirinya, sebagaimana selama ini ia memperjuangkan bangsanya.
Jadi, siapa sebenarnya yang menyelamatkan sang legenda? Bukan satu, dua atau tiga gol. Bukan rentetan assist. Bukan pula keputusan wasit. Melainkan sebuah bangsa yang akhirnya menyadari bahwa orang yang selama ini selalu menyelamatkan mereka juga pantas diselamatkan.
(N.D. Santoso)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda