Pemain Bolton Wanderers tersebut mengatakan keputusannya didasarkan pada keyakinan pribadinya serta penolakannya terhadap kekejaman dan pembantaian warga sipil yang terus berlangsung di Gaza, Palestina.
Melalui pernyataan di media sosial, Bazunu menyebut bahwa membela tim nasional merupakan kehormatan tertinggi baginya. Namun, kiper berusia 24 tahun tersebut menilai bahwa prinsip kemanusiaan berada di atas segalanya.
"Menjadi bagian dari tim nasional dan mewakili negara saya berarti segalanya bagi saya. Saya sangat menghormati setiap rekan setim saya, pelatih, stafnya, dan masyarakat Irlandia,” tulis Bazunu melalui akun Instagram pribadinya.
Baca Juga :
Mbappe jadi Tumbal Kemenangan Prancis atas Turki
“Keputusan saya sepenuhnya didasarkan pada keyakinan pribadi bahwa membunuh orang yang tidak bersalah adalah tindakan yang salah. Sikap saya bukanlah bentuk penolakan terhadap rakyat Israel atau komunitas Yahudi, melainkan terhadap kekejaman yang terjadi di kawasan tersebut,” jelasnya.
FAI Pilih Tetap Berlaga demi Hindari Sanksi UEFA
Sebelumnya, CEO Football Association of Ireland (FAI), David Courell, mengonfirmasi skuad Irlandia tetap akan bertanding setelah mayoritas pemain menyetujui keputusan tersebut dalam rapat internal. FAI memilih tetap berlaga untuk menghindari ancaman sanksi disiplin dan denda berat dari UEFA.
Laga tersebut digelar di tempat netral tanpa penonton. FAI juga telah memindahkan laga kandang mereka ke Backa Topola, Serbia, sebagai bentuk protes sekaligus mengantisipasi gelombang boikot dari masyarakat dan politikus Irlandia.
Sebagai bentuk empati, para pemain Irlandia yang tampil dalam laga tersebut menyepakati sejumlah aksi simbolis. Mereka mengenakan pita hitam di lengan, menolak beberapa seremoni pra-pertandingan, serta menggalang donasi amal untuk korban konflik.
“Dengan bermain, kami tidak menerima apa yang sedang terjadi di Gaza. Kami memainkan pertandingan ini murni karena ini merupakan aturan kompetisi yang kami ikuti,” tegas sang pelatih.
(Ahmad Raul)