Suasana pertandingan Brasil vs Jepang (AFP/Yuichi Yamazaki)
Suasana pertandingan Brasil vs Jepang (AFP/Yuichi Yamazaki)

Piala Dunia 2026

Manifestasi Captain Tsubasa Jadi Nyata, Jepang Kembali Hadapi Brasil di Piala Dunia 2026, Kapan Indonesia Menyusul?

Gregorius Gelino • 29 Juni 2026 16:16
Ringkasnya gini..
  • Jepang lewat anime Captain Tsubasa menumbukan rasa cinta terhadap sepak bola di negara yang menggandrungi baseball.
  • Dengan konsistensi dan pembinaan jangka panjang, Jepang menjadi salah satu kekuatan besar sepak bola tak cuma di Asia tapi juga dunia.
  • Indonesia punya potensi asal bisa melakukan hal yang sama dengan Jepang dan punya kesabaran untuk melakukannya.
Jakarta: Apa yang dulu hanya menjadi cerita dalam anime kini benar-benar terjadi. Jepang kembali berhadapan dengan Brasil di panggung Piala Dunia, kali ini pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Momen ini seolah menjadi bukti bahwa mimpi besar yang dituangkan dalam karya fiksi dapat menjadi inspirasi untuk perubahan nyata.
 
Ketika menciptakan Captain Tsubasa pada 1981, mangaka Yoichi Takahashi memiliki satu impian sederhana namun besar, melihat Jepang menjadi negara yang disegani dalam sepak bola dunia dan mampu bersaing dengan raksasa seperti Brasil. Empat dekade kemudian, impian itu bukan lagi sekadar cerita di atas kertas.

Dari Anime Menjadi Kenyataan

Dalam serial Captain Tsubasa: Road to 2002, Jepang diceritakan bertemu Brasil pada pertandingan yang menjadi klimaks cerita. Menariknya, anime tersebut tidak pernah memperlihatkan hasil akhirnya karena episode ditutup tepat setelah pertandingan dimulai.
 
Kini, 24 tahun setelah anime itu dirilis, Jepang benar-benar menghadapi Brasil di Piala Dunia 2026. Bedanya, kali ini bukan lagi Tsubasa Ozora, Kojiro Hyuga, atau Genzo Wakabayashi yang berada di lapangan, melainkan generasi nyata sepak bola Jepang yang dibangun melalui sistem pembinaan selama puluhan tahun.

Momen tersebut seakan menjadi simbol bahwa sebuah mimpi besar dapat diwujudkan apabila diikuti dengan perencanaan, investasi, dan kerja keras yang konsisten.

Jepang Tidak Hanya Bermimpi

Kesuksesan Jepang bukan datang secara instan. Setelah berdirinya J.League pada 1993, Federasi Sepak Bola Jepang menjalankan pembinaan usia muda secara sistematis.

Baca juga: Jadwal Siaran Langsung Brasil Vs Jepang: Main di Mana & Jam Berapa?

Mereka membangun kompetisi berjenjang, meningkatkan kualitas pelatih, mengembangkan akademi, hingga mendorong pemain muda berkarier di Eropa.
 
Hasilnya kini terlihat jelas. Jepang bukan lagi sekadar peserta Piala Dunia, melainkan tim yang rutin lolos ke fase gugur dan mampu mengalahkan negara-negara besar seperti Jerman, Spanyol, bahkan kini kembali menantang Brasil di fase knockout.
 
Bagi Jepang, menghadapi Brasil bukan lagi mimpi, melainkan bagian dari perjalanan yang memang sudah mereka rancang sejak puluhan tahun lalu.

Indonesia Punya Modal yang tak Kalah Besar

Kisah Jepang menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Jika melihat potensi, Indonesia bahkan memiliki modal yang sangat besar. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa serta jutaan diaspora yang tersebar di berbagai negara, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang melimpah.
 
Antusiasme masyarakat terhadap sepak bola juga luar biasa. Stadion-stadion selalu dipenuhi suporter, kompetisi lokal mendapat perhatian besar, dan setiap pertandingan Timnas Indonesia mampu menyedot jutaan penonton.
 
Namun, potensi sebesar itu baru akan menghasilkan prestasi apabila dibarengi dengan pembinaan yang berkelanjutan.

Belajar dari Jepang, Bukan Sekadar Meniru

Perbedaan utama Jepang bukan hanya soal kualitas pemain, melainkan konsistensi dalam membangun ekosistem sepak bola. Mereka tidak bergantung pada satu generasi emas. Ketika satu angkatan selesai, sudah ada generasi berikutnya yang siap menggantikan.
 
Indonesia mulai menunjukkan arah yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Pembinaan kelompok umur semakin diperhatikan, kompetisi usia muda berkembang, dan semakin banyak pemain Indonesia yang mendapatkan kesempatan berkarier di luar negeri.

Baca juga: Prediksi Brasil Vs Jepang: Statistik, Head to Head, dan Perkiraan Skor

Namun, untuk mencapai level Jepang, proses tersebut harus terus dijaga selama bertahun-tahun tanpa terputus oleh pergantian kepengurusan maupun perubahan kebijakan.

Captain Tsubasa Memberi Satu Pesan Penting

Captain Tsubasa sebenarnya bukan sekadar cerita tentang sepak bola. Anime itu mengajarkan bahwa mimpi besar harus diiringi kerja keras, disiplin, keberanian, dan sistem yang mendukung.
 
Yoichi Takahashi tidak hanya membuat Jepang percaya diri melalui sebuah manga, tetapi juga ikut membangun budaya sepak bola yang menginspirasi jutaan anak-anak Jepang untuk bercita-cita menjadi pemain profesional. Kini, ketika Jepang kembali menghadapi Brasil di Piala Dunia 2026, dunia melihat bahwa mimpi tersebut telah menjadi kenyataan.
 
Pertanyaan berikutnya adalah, kapan Indonesia bisa mengikuti jejak Jepang? Jawabannya mungkin bukan dalam satu atau dua tahun.
 
Namun, jika pembinaan usia muda, kompetisi nasional, kualitas pelatih, dan tata kelola sepak bola terus berkembang secara konsisten, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Indonesia juga mampu berdiri sejajar dengan negara-negara elite dunia.
 
Seperti yang diperlihatkan Jepang, perjalanan menuju panggung terbesar sepak bola dunia selalu dimulai dari satu hal yang sederhana: berani bermimpi, lalu bekerja keras untuk mewujudkannya.
 
Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan