Rencana kontroversial itu mencakup pembentukan anak perusahaan komersial FIFA dengan valuasi sekitar 20 miliar dolar AS yang akan mengelola sejumlah aset utama, termasuk Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, dan Piala Dunia Antarklub.
Dalam skema yang diusulkan, sekitar 20 persen saham perusahaan tersebut akan dijual kepada investor swasta, termasuk perusahaan investasi asal New York yang didirikan oleh Joshua Kushner.
Proyek Tidak Transparan
Kevin Lamour yang telah bekerja bersama Infantino sejak masih di UEFA, secara terbuka meminta agar proyek tersebut dihentikan. Menurutnya, rencana itu merupakan inisiatif pribadi Infantino yang tidak dijalankan secara transparan.
"Para staf telah dikelabui oleh kurangnya keterbukaan dalam proses perencanaan penjualan ini selama beberapa bulan terakhir. Ini adalah proyek satu orang dan tidak boleh dilanjutkan," tulis Lamour dalam pernyataan yang dikirim kepada Associated Press (AP).
“Ini adalah saatnya para pemimpin politik sepak bola mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan yang tepat,” tegasnya.
Lamour Siap Jika Dipecat
Kevin Lamour mengaku siap menerima segala konsekuensi, termasuk kemungkinan dicopot dari jabatannya sebagai Chief Operating Officer (COO) FIFA, setelah secara terbuka mengkritik rencana Presiden FIFA Gianni Infantino.
"Jika itu berarti saya harus kehilangan pekerjaan, biarlah demikian. Saya akan memahami dan menghormati keputusan tersebut. Setidaknya malam ini saya bisa tidur dengan tenang," tutup surat pernyataan tersebut.
Kontroversi ini mencuat menjelang Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang. Dengan pendaftaran calon presiden yang ditutup pada 18 November, polemik penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia berpotensi memengaruhi dinamika politik di internal FIFA, termasuk posisi Infantino yang sebelumnya diperkirakan melaju tanpa penantang.
(Ahmad Raul)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda