Mereka memanggilnya La Pulga. Artinya sederhana: si kutu. Julukan yang terdengar kecil. Nyaris seperti ejekan.
Sulit dipercaya bahwa tubuh mungil itulah yang selama hampir dua dekade membuat bek-bek terbaik dunia kehilangan arah.
Sebagian mengenalnya sebagai The Magician. Sebagian lagi menyebutnya The GOAT.
Dunia menghafal gol-golnya. Menghitung assist-nya. Mengoleksi trofi dan Ballon d'Or-nya.
Namun menurut saya, dunia tetap melakukan satu kesalahan besar ketika melihat Lionel Andrés Messi. Kita terlalu lama mengagumi apa yang dilakukan oleh kaki kirinya. Sampai lupa bertanya bagaimana cara kepalanya bekerja.
Padahal, jika ada satu alasan mengapa pemain bernomor 10 asal Rosario itu mampu bertahan di level tertinggi selama bertahun-tahun, jawabannya mungkin bukan karena pemain paling cepat. Bukan karena paling kuat. Bukan pula karena paling atletis.
Justru sebaliknya. Messi adalah bukti bahwa dalam hidup, kecepatan berpikir jauh lebih berharga daripada kecepatan berlari.
Baca Juga :
Update Klasemen Peringkat 3 Terbaik Piala Dunia 2026: Swedia Teratas, Ekuador dan Paraguay di Zona Aman
Lihatlah satu pertandingan Sang Maestro. Jangan ketika mencetak gol atau ketika melewati tiga hingga enam pemain. Tapi lihatlah ketika sedang tidak menguasai bola.
Saat pemain lain berlari tanpa henti, La Pulga justru sering berjalan. Banyak yang menganggapnya malas.
Padahal mungkin saat itulah, bintang Argentina yang genap berusia 39 tahun pada 24 Juni lalu, sedang bekerja paling keras. Bukan dengan ototnya. Tetapi dengan otaknya.
Mata dan otaknya memindai lapangan. Menghitung jarak antarpemain. Mengamati bek yang mulai kehilangan fokus. Mencari ruang yang belum disadari siapa pun.
Sementara pemain lain sibuk bereaksi terhadap pertandingan, Messi seolah memainkan pertandingan itu lebih dulu di dalam kepalanya.
Lalu, begitu celah itu muncul, cukup satu atau dua sentuhan. Satu umpan. Satu keputusan. Dan BOOM... Pertandingan pun berubah.
Pertandingan tidak dimenangkan ketika Messi menguasai bola. Pertandingan sering kali dimenangkan beberapa detik sebelum bola itu datang.
Banyak orang mungkin hanya akan mengingat bahwa pada Piala Dunia 2026 Messi mencetak hattrick pertamanya di ajang Piala Dunia saat menghadapi Aljazair. Beberapa hari kemudian, gol-gol berikutnya membuatnya melampaui rekor gol Piala Dunia milik Miroslav Klose dan berdiri sendirian sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen itu.
Tetapi menurut saya, sejarah sedang mencatat hal yang kurang lengkap.
Orang mengingat gol-golnya. Saya justru lebih tertarik pada ribuan keputusan kecil yang membuat gol-gol itu mungkin terjadi.
Orang mengingat sentuhan terakhirnya. Saya justru mengagumi bagaimana Leo mampu membaca pertandingan sebelum sentuhan itu terjadi.
Karena gol hanyalah akhir dari sebuah proses. Keputusan adalah awal dari segalanya.
Tetapi sebenarnya, tulisan ini bukan tentang sepak bola namun tentang bagaimana kita menjalani hidup. Lapangan hijau hanyalah panggung. Yang sedang dipertontonkan Messi sesungguhnya adalah cara manusia mengambil keputusan.
Messi seperti seorang pemain catur yang kebetulan berada di lapangan sepak bola. Ketika pemain lain baru memikirkan langkah pertama, ia seolah telah menghitung beberapa langkah berikutnya.
Bukankah hidup juga seperti itu? Di kantor, organisasi, dunia usaha, pemerintahan bahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebanyakan dari kita sibuk bereaksi. Sedikit sekali yang benar-benar membaca permainan.
Kita baru bergerak ketika masalah sudah muncul. Baru rapat ketika krisis terjadi. Baru berpikir ketika keadaan memburuk.
La Pulga mengajarkan kebalikannya, yang mampu mengambil keputusan bahkan sebelum orang lain sadar bahwa keputusan itu harus diambil.
Sayangnya, dunia modern justru memuja kesibukan. Kalender yang penuh dianggap produktif. Lembur dianggap dedikasi. Rapat tanpa henti dianggap bekerja keras. Seolah semakin sibuk, semakin sukses. Padahal sibuk belum tentu berdampak.
Messi menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda, tidak bergerak agar terlihat bekerja dan bergerak ketika gerakan itu benar-benar mengubah pertandingan.
Energi, bagi Messi, bukan untuk dihabiskan. Energi adalah investasi yang hanya dikeluarkan pada momen yang paling menentukan.
Banyak orang menyebutnya pemain yang penuh improvisasi. Padahal jika diamati, banyak gerakannya justru merupakan pola yang terus diulang.
Body feint. Cut inside. One-two. Diulang ribuan kali. Ratusan ribu kali. Sampai tubuhnya tidak lagi berpikir.
Yang kita sebut bakat sering kali hanyalah disiplin yang berlangsung sangat lama. Barangkali itulah sebabnya orang biasa mengejar motivasi. Sedangkan orang luar biasa membangun kebiasaan.
Lalu ada satu pelajaran yang menurut saya paling relevan untuk siapa pun. Selama bertahun-tahun, dunia tidak pernah berhenti membandingkan Messi dengan Cristiano Ronaldo alias CR7.
Yang menarik, Messi sendiri tidak pernah terlihat sibuk menjadi Ronaldo. Messi tidak mengubah identitasnya. Tidak memaksa dirinya menjadi orang lain. Melainkan memilih mengenali kekuatannya sendiri, lalu memaksimalkannya.
Banyak orang gagal bukan karena kurang berbakat. Mereka gagal karena terlalu sibuk menjadi salinan orang lain.
Ketika akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia, ada satu perubahan yang sering luput. Sang Kapten Argentina tetap menjadi pusat permainan. Tetapi Messi tidak lagi berusaha menjadi pusat segalanya. Ia justru memberi ruang kepada rekan-rekannya dan mempercayai timnya. Sang Kapten memimpin tanpa harus selalu menjadi pahlawan tunggal.
Ironisnya, justru ketika egonya mengecil, pencapaiannya menjadi yang terbesar. Barangkali memang begitulah kepemimpinan bekerja. Semakin besar seseorang, semakin sedikit merasa perlu membuktikan bahwa dirinya besar.
Pada akhirnya, saya tidak melihat Messi sebagai sekadar pesepak bola. Saya melihatnya sebagai studi tentang cara manusia mengambil keputusan.
Tentang bagaimana mengelola energi. Tentang pentingnya membangun pola, bukan mengejar sensasi. Tentang keberanian menjadi diri sendiri ketika dunia memaksa kita menjadi orang lain.
Dan tentang memahami bahwa kemenangan terbesar sering kali lahir bukan dari kekuatan, melainkan dari ketepatan membaca momentum.
Itu sebabnya Messi bukan sekadar legenda sepak bola. Lionel Andrés Messi adalah studi kasus tentang strategi hidup. Banyak orang bekerja lebih keras. Sang Maestro justru menunjukkan bahwa bekerja dengan arah, waktu, dan kesadaran sering kali menghasilkan dampak yang jauh lebih besar.
Mungkin itulah mengapa julukan The GOAT tidak pernah benar-benar cukup untuk menjelaskan siapa dirinya. Karena warisan terbesarnya bukanlah Ballon d'Or, rekor, trofi, atau lemari yang penuh dengan penghargaan.
Semua itu hanyalah akibat. Penyebabnya adalah cara berpikirnya.
Warisan terbesar Messi bukanlah apa yang dilakukan dengan kaki kirinya. Warisan terbesarnya adalah cara Messi menggunakan pikirannya.
Kini saya justru percaya, Messi tidak dikenang karena kaki kirinya. La Pulga dikenang karena mengajarkan bahwa keputusan terbaik selalu lahir dari pikiran yang tenang, bukan dari kaki yang tergesa-gesa.
Karena yang mengubah sejarah bukanlah siapa yang berlari paling cepat. Sejarah lebih sering ditulis oleh mereka yang melihat masa depan beberapa langkah lebih dulu daripada yang lain.
Lalu, bagaimana dengan CR7? Tunggu saja.a
*Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
( N.D. Santoso)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda