F1 Grand Prix Rwanda akan menjadi gelaran pertama balapan jet darat di Afrila sejak 1993. Nantinya venue balapan digelar di Sirkuit Bugesera yang saat ini masih dalam tahap pembangunan.
Presiden F1 Stefano Domenicali menyebut kesepakatan dengan Rwanda sebagai momen bersejarah. Kehadiran Rwanda di kalender F1 diharapkan memperluas jangkauan kejuaraan tersebut secara global.
"Dengan bergabungnya Rwanda dalam kalender mulai dekade mendatang, olahraga kami akan hadir di setiap benua berpenghuni," kata Domenicali dikutip dari AFP.
Presiden Rwanda Paul Kagame juga menyambut kesepakatan tersebut sebagai pencapaian penting bagi Rwanda maupaun regional Afrika. Rwanda telah berupaya menjadi tuan rumah F1 selama beberapa tahun dan secara resmi mengumumkan pencalonannya pada Desember 2024. "Selama lebih dari tiga dekade, kejuaraan balap utama dunia berlangsung tanpa kehadiran benua ini. Kini, hal itu berubah melalui kesepakatan ini," ujar Kagame.
Dukungan dari Lewis Hamilton
Rencana kembalinya F1 ke Afrika turut mendapat dukungan dari pembalap Lewis Hamilton. Juara dunia tujuh kali itu telah lama mendorong penyelenggaraan balapan di benua tersebut dan mendukung rencana Rwanda pada 2024.
Balapan F1 terakhir di Afrika berlangsung di Afrika Selatan pada 1993. Setelah lebih dari tiga dekade, Rwanda kini berpeluang membawa kembali ajang balap mobil paling bergengsi tersebut ke benua Afrika.