Para pelatih menyambut positif program aklimatisasi yang digagas PP PBSI jelang bergulirnya turnamen tertua di dunia All England pada 3-8 Maret mendatang. Dengan tiba lebih awal, proses adaptasi terhadap perubahan waktu, kondisi suhu serta cuaca diharapkan bisa lebih maksimal.
“Menurut saya sangat bagus kita bisa berangkat lebih awal. Pengaruhnya cukup besar untuk anak-anak,” ucap pelatih ganda putra Antonius Budi Ariantho.
“Dengan begini, saat bertanding nanti kendala seperti jetlag atau perubahan cuaca yang ekstrem bisa teratasi. Di sana kan cuacanya dingin sementara di Jakarta panas, ada waktu penyesuaian lah,” lanjut Anton.
Baca juga: Adaptasi dengan Cuaca jadi Kunci Sukses di All England 2026
Antonius menambahkan bahwa akan ada program latihan di tiga hari program aklimatisasi berjalan akan masuk pada prakompetisi di mana dititikberatkan pada simulasi game. “Undian kan sudah keluar jadi nanti sambil menjalankan program aklimatisasi, menu latihannya sudah masuk ke prakompetisi yang banyak game,” sahut Anton.Senada dengan Antonius, Indra Widjaja juga mendukung penuh langkah PP PBSI menggelar mini training camp. “Saya rasa ini positif terutama masalah penyesuaian waktu dan juga perjalanan panjang dari Indonesia ke Inggris, recovery-nya bisa lebih bagus,” kata Indra.
“Membawa Alwi (Farhan) pertama kali ke All England, saya berpesan bahwa ini melalui proses-proses pertandingan yang belum dan baru akan dilalui. Memang kata orang All England itu suasana atau atmosfernya angker tapi apapun juga, saya rasa ini pengalaman yang baik untuk dia,” pesan Indra.
Dari 20 atlet pelatnas yang akan turun di All England 2026, tercatat hanya pasangan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi yang absen dari program aklimatisasi ini. Fadia/Tiwi saat ini sedang berlaga di turnamen German Open.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News