Sebagai turnamen dengan level tertinggi All England bukan sekadar ajang perebutan gelar, tetapi menjadi tolok ukur kualitas, konsistensi, dan mental juara seorang atlet. Persaingan di level ini menuntut kesiapan maksimal dari seluruh aspek fisik, teknik, taktik, hingga mental karena setiap pertandingan akan mempertemukan pemain-pemain terbaik dunia.
Sebanyak 24 atlet Indonesia akan berlaga pada turnamen ini. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, menegaskan bahwa persiapan dilakukan secara terukur dan menyeluruh dengan menitikberatkan pada kesiapan fisik, teknis, mental, serta adaptasi terhadap kondisi lokasi pertandingan yang berada di kawasan Eropa.
“Aklimatisasi menjadi faktor krusial. Tim akan menjalani program aklimatisasi pada 24–28 Februari 2026 di Milton Keynes, yang berjarak sekitar 120 kilometer di sebelah selatan Birmingham. Selanjutnya, pada 1 Maret, tim akan berpindah ke kota Birmingham agar para atlet memiliki waktu adaptasi yang optimal dengan venue pertandingan,” ujar Eng Hian.
Ia menambahkan bahwa pemilihan lokasi aklimatisasi dilakukan dengan mempertimbangkan fasilitas latihan, kenyamanan atlet, serta efektivitas adaptasi menuju turnamen dengan tingkat persaingan tertinggi. “Kami ingin pemain benar-benar siap saat memasuki arena, baik secara fisik, teknis, maupun mental,” tegasnya.
Baca juga: 74 Atlet Masuk Pelatnas PBSI, Klub Mana Sumbang Pemain Terbanyak?
Dari total 24 atlet yang diturunkan, sejumlah atlet akan menjalani debut di kejuaraan All England Super 1000 ini, yakni Alwi Farhan, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Rahmat Hidayat, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Meilysa Trias Puspitasari, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Pasaribu, serta Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Kehadiran para debutan ini diharapkan dapat memperkaya pengalaman bertanding sekaligus memperkuat fondasi prestasi jangka panjang bulu tangkis Indonesia.“Bertanding di level Super 1000 adalah ujian kualitas dan mental. Kami ingin mereka berani menghadapi tekanan, belajar dari sebuah pertandingan besar, dan menunjukkan permainan terbaiknya,” ujar Eng Hian.
Sebagai bagian dari upaya menjaga konsistensi dan dinamika tim, PP PBSI juga melakukan penyesuaian struktur kepelatihan di sektor ganda putra yang bertujuan untuk refreshing. Langkah ini diambil agar suasana latihan dan pendampingan tetap segar, adaptif, serta responsif terhadap tuntutan kompetisi level tertinggi.
Dalam struktur tersebut, Chafidz Yusuf akan bertugas sebagai asisten pelatih di sektor ganda putra utama untuk mendampingi Antonius, sementara Thomas Indratjaja dipercaya sebagai asisten pelatih sektor ganda putra pratama mendampingi Andrei Adistia.
Penyesuaian ini diharapkan menghadirkan sudut pandang baru tanpa mengubah arah pembinaan yang telah berjalan. Dengan persiapan menyeluruh dan fokus penuh, Indonesia menargetkan minimalkan satu gelar juara pada All England 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News