Pada game pertama, Dhinda sebenarnya mampu memberikan perlawanan dan mengimbangi permainan Yamaguchi di awal pertandingan. Namun, situasi berubah setelah interval. Yamaguchi meningkatkan tempo permainan sehingga Dhinda kesulitan mengantisipasi serangan maupun mengembalikan bola dengan baik.
"Di awal game pertama, saya bisa mengimbangi dia tapi setelah poin 11 dia mempercepat tempo dan jauh meninggalkan saya. Saya kurang bisa menahan bola-bola dia jadi mudah mati sendiri," ujar Dhinda.
Memasuki game kedua, Dhinda mencoba bangkit dan memberikan perlawanan lebih ketat. Bahkan, ia sempat mengumpulkan beberapa poin secara beruntun menjelang akhir pertandingan. Sayangnya, momentum tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan. Yamaguchi tetap mampu menjaga konsistensi permainan hingga akhirnya mengunci kemenangan dengan skor 21-18.
Dhinda mengakui salah satu kesulitan terbesar yang dihadapinya adalah mengantisipasi pengembalian lob Yamaguchi yang memiliki jangkauan sangat dalam. Hal tersebut membuatnya kesulitan mengembangkan permainan dan kerap berada dalam posisi tertekan.
"Di game kedua ada momen jelang terakhir saya dapat beberapa poin beruntun tapi setelah itu tetap tidak kuat untuk menahannya. Pengembalian lobnya sangat dalam dan jauh dari jangkauan, itu membuat saya sangat kesulitan," ucap Dhinda.
Jadikan Kekalahan sebagai Evaluasi
Kekalahan di perempat final Korea Open menjadi bahan evaluasi penting bagi Dhinda. Ia menyadari masih membutuhkan peningkatan, terutama dari sisi ketahanan fisik, untuk bisa bersaing lebih kompetitif dengan pemain-pemain elite dunia.Menurutnya, menghadapi pemain sekaliber Akane Yamaguchi membutuhkan kondisi fisik yang prima. Pasalnya, pemain top memiliki kemampuan menjaga reli panjang dan tidak mudah melakukan kesalahan sendiri.
"Ke depan pasti harus lebih kuat lagi fisiknya, karena pasti kalau lawannya pemain top itu memang enggak gampang mati, bolanya juga susah-susah," beber Dhinda.
Bangga Tembus Perempat Final
Terlepas dari hasil pertandingan melawan Akane Yamaguchi, Dhinda tetap memiliki alasan untuk bangga dengan pencapaiannya di Korea Open. Menembus babak perempat final bukanlah perjalanan mudah.Terlebih, ia harus memulai perjuangannya dari babak kualifikasi dan melewati sejumlah lawan tangguh sebelum akhirnya berhasil menembus delapan besar. Pencapaian tersebut menjadi modal positif bagi Dhinda untuk meningkatkan kepercayaan diri sekaligus mematangkan kemampuannya menghadapi persaingan di level internasional.
Meski demikian, Dhinda mengaku belum sepenuhnya puas. Ia masih memiliki ambisi untuk meraih hasil yang lebih baik pada turnamen-turnamen berikutnya.
"Di luar hasil hari ini, saya pasti senang banget karena enggak mudah juga bisa mencapai babak delapan besar apalagi harus melewati kualifikasi dengan lawan-lawan yang tangguh. Hanya tentunya saya enggak puas juga, pasti ingin hasil yang lebih lagi," papar Dhinda.