Pada edisi kali ini, Tim Thomas Indonesia tergabung di Grup D bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair. Persaingan di Grup D berlangsung ketat sejak pertandingan pertama, di mana setiap tim menunjukkan performa terbaiknya untuk mengamankan tiket ke babak perempat final.
Menjelang laga penentuan melawan Prancis, peluang Indonesia untuk lolos ke babak perempat final masih terbuka lebar dengan beberapa skenario. Indonesia dipastikan akan keluar sebagai juara grup apabila mampu menang dengan skor 3-2. Jika kalah tipis 2-3, Indonesia tetap berpeluang lolos sebagai runner-up grup. Namun, kekalahan dengan skor 1-4 atau 0-5 membuat Indonesia dipastikan gagal melaju ke babak perempat final.
Indonesia sendiri sebelumnya berhasil meraih satu kemenangan penting atas Thailand dengan skor 3-2. Namun demikian, langkah Indonesia harus terhenti di fase grup setelah mengalami kekalahan dari Prancis dengan skor 1-4. Hasil ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga klasemen akhir Grup D.
Sementara itu, Thailand keluar sebagai juara Grup D setelah mencatatkan kemenangan meyakinkan atas Prancis dengan skor 4-1. Prancis memastikan diri sebagai runner-up grup dan mendampingi Thailand melaju ke babak perempat final.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengakui keunggulan lawan.
“Atas nama PBSI, saya memohon maaf karena belum bisa memberikan hasil yang terbaik untuk Thomas Cup kali ini. Harus kami akui Prancis tampil lebih baik dari kita hari ini. Kami menerima hasil ini dan mengakui keunggulan tim Prancis yang mampu memanfaatkan peluang dengan sangat baik di setiap partai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Eng Hian menjelaskan bahwa secara strategi dan komposisi pemain, tim Prancis memiliki keuntungan tersendiri. Kehadiran Popov bersaudara yang bermain rangkap di sektor tunggal maupun ganda memberikan fleksibilitas dalam penyusunan line-up. Hal ini membuat tiga partai awal didominasi sektor tunggal, yang secara peringkat dunia maupun rekor pertemuan relatif berimbang dengan pemain Indonesia.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk mencuri poin, salah satunya melalui tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting. Namun dalam pertandingan tersebut, Ginting mengalami kendala fisik di penghujung gim ketiga setelah sempat terjatuh dan mengalami kram. Kondisi tersebut berdampak pada pergerakan yang tidak lagi optimal serta menurunnya akurasi pukulan, sehingga peluang untuk mengamankan poin tidak dapat dimaksimalkan. Ginting akhirnya harus mengakui keunggulan Toma Junior Popov dengan skor tipis 20-22 di gim penentuan.
Pada partai keempat, yang menjadi salah satu penentu peluang Indonesia untuk memperpanjang asa lolos ke perempat final, pasangan Sabar/Reza diharapkan mampu menyumbangkan poin. Terlebih, secara rekor pertemuan mereka unggul 2-0 atas pasangan Eloi Adam/Leo Rossi. Namun dalam pertandingan tersebut, Sabar/Reza belum mampu menampilkan performa terbaik. Permainan yang kurang lepas serta tekanan dari lawan membuat peluang tersebut tidak berhasil dikonversi menjadi kemenangan.
Satu-satunya poin bagi Indonesia dalam pertandingan melawan Prancis diraih oleh sektor ganda putra melalui pasangan Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri. Mereka berhasil mengalahkan Popov bersaudara melalui pertarungan rubber game.
Kapten tim Thomas Indonesia, Fajar Alfian, juga menyampaikan permohonan maaf dan refleksi atas hasil yang diraih tim.
“Saya atas nama tim Thomas Indonesia menyampaikan permohonan maaf atas kekalahan kami tadi malam. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, tetapi tim Prancis juga tampil sangat baik. Kami mengerti performa kami belum maksimal dan ini menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk menatap ke depan. Terima kasih untuk semua dukungan yang telah diberikan. Kami bertekad akan kembali lebih kuat,” kata Fajar.
Hasil ini menjadi bahan evaluasi penting bagi PP PBSI dalam melakukan pembinaan dan persiapan ke depan. Fokus ke depan akan diarahkan pada peningkatan konsistensi performa, kesiapan fisik, serta mental bertanding, khususnya dalam menghadapi tim-tim dengan fleksibilitas komposisi pemain seperti yang ditunjukkan oleh Prancis.
PP PBSI mengucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh atlet, pelatih, dan tim pendukung yang telah berjuang membawa nama Indonesia di Piala Thomas. Ke depan, PBSI berkomitmen untuk melakukan perbaikan menyeluruh guna meraih hasil yang lebih baik pada kejuaraan-kejuaraan berikutnya.
Kritik untuk PBSI
"Selamat untuk PBSI atas hari bersejarahnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Tim Indonesia tidak lolos fase grup," sindir salah satu netizen.“Gagal lolos ke QF Thomas Cup selevel Italy gagal lolos Piala Dunia ini kalau buat perspektif Badminton. Wajib evaluasi, atau ga jangan kaget thomas cup selanjutnya gagal lagi ke QF,” sindir netizen lainnya.
“Dulu puluhan tahun badminton jadi satu2 nya yg dibanggakan. Sekarang di era cabor lain bangkit bikin rekor (climbing, angkat besi, Tenis, Balapan LeMans 24 jam, moto3, futsal, sepakbola, panahan). Badminton malah redup,” timpal warganet lainnya.
“Asian Games gagal, olimpiade gagal, Thomas cup gugur fase grup, super 1000 jarang, all England kemarin tim hore haha. Berasa banget titik terbawah dalam beberapa tahun terakhir,” ucap netizen dengan nada kecewa.
“Udah datang nya ke denmark duluan , demi adaptasi cuaca dan lapangan, eh malah pulang duluan,” timpal warganet dalam kolom komentar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News