Fikri Bersyukur Kembali ke Final Bersama Fajar
Fikri mengungkapkan rasa syukurnya setelah berhasil mencapai final Denmark Open 2026 bersama Fajar. Ia mengakui bahwa perjalanan menuju partai puncak bukanlah perkara mudah."Alhamdulillah yang pasti saya sangat senang bisa kembali lagi ke final di pertandingan Denmark Open ini bersama a Fajar. Yang pasti ini bukan perjalanan yang mudah tapi ini belum berakhir, masih ada hari esok," kata Fikri.
Meski telah melewati tantangan berat di babak semifinal, Fikri menegaskan bahwa perjuangan mereka belum selesai. Fokus kini beralih ke pertandingan final yang akan mempertemukan mereka dengan pasangan Malaysia.
Fikri berharap dirinya dan Fajar dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik agar mampu menampilkan permainan maksimal pada laga penentuan gelar.
"Saya dan a Fajar akan lebih siap lagi menghadapi final melawan pasangan Malaysia. Semoga besok bisa mendapatkan hasil yang terbaik," beber Fikri.
Ungkap Penyebab Kehilangan Game Kedua
Fajar Alfian menjelaskan bahwa perubahan performa pada game kedua menjadi salah satu tantangan yang harus mereka atasi selama pertandingan semifinal. Menurut Fajar, strategi yang diterapkan pada game pertama berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, situasi berubah ketika mereka mulai kehilangan ketenangan saat melakukan serangan pada game kedua."Di game pertama kami menerapkan pola yang benar, strategi yang baik lalu masuk game game kedua terutama saya sempat hilang fokus. Posisi kami menang angin jadi saya sedikit ragu-ragu untuk melakukan serangan karena takut out, akhirnya banyak melakukan kesalahan," ujar Fajar.
Kondisi bermain dengan posisi menang angin membuat Fajar lebih berhati-hati ketika melancarkan serangan. Keraguan tersebut justru berujung pada sejumlah kesalahan yang memberikan kesempatan bagi Liang/Wang untuk menyamakan kedudukan.
Belajar dari situasi itu, Fajar/Fikri berusaha memperbaiki pendekatan permainan pada game ketiga. Mereka sepakat untuk tidak kehilangan momentum sejak awal dan terus menekan lawan.
"Di game ketiga kami tidak mau kalah start, kami saling mengingatkan untuk terus push dan bisa berhasil menekan mereka dari awal sampai akhir," papar Fajar.
Perubahan strategi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membantu pasangan Indonesia mengamankan kemenangan dan memastikan tiket final Denmark Open 2026.
Perbedaan Kondisi Shuttlecock Jadi Keuntungan
Selain faktor fokus dan strategi, Fajar juga menyoroti perbedaan kondisi lapangan serta kecepatan shuttlecock antara Denmark Open 2026 dan Asian Games sebelumnya di Nagoya.Menurutnya, shuttlecock yang bergerak lebih lambat pada Asian Games memberikan keuntungan bagi lawan yang mengandalkan pertahanan kuat dan serangan balik. Sebaliknya, kondisi shuttlecock yang relatif lebih cepat di Denmark membuat pola permainan tersebut tidak dapat diterapkan dengan senyaman sebelumnya.
"Di Asian Games kita tahu semua bahwa laju shuttlecock sangat pelan, sangat lambat jadi mereka sangat nyaman dengan pola permainan defense balik serang. Tapi di sini kondisi shuttlecock lumayan kencang dan itu membuat mereka melakukan defense-nya tidak bisa senyaman di Nagoya. Saya dan Fikri coba memanfaatkan kesempatan itu," ungkap Fajar.
Fajar/Fikri pun berusaha memaksimalkan situasi tersebut dengan menjaga tekanan dan memanfaatkan peluang untuk melancarkan serangan. Pendekatan itu membantu mereka mengatasi perlawanan Liang/Wang pada gim penentuan.
Perbedaan karakter permainan di setiap turnamen menjadi faktor yang perlu diperhitungkan para pemain, terutama ketika menghadapi pasangan dengan kekuatan utama pada sektor pertahanan.
Kritik Aturan Time Clock dan Kartu Merah
Di balik keberhasilan melangkah ke final, Fajar Alfian turut menyampaikan keberatannya terhadap penerapan aturan time clock dalam pertandingan. Ia mengaku belum terbiasa dengan penerapan aturan tersebut, terutama ketika situasi di lapangan berujung pada pemberian kartu merah.Fajar menjelaskan bahwa dirinya dan Fikri sebenarnya berusaha mengganti shuttlecock yang sudah rusak. Namun, ketika mereka kembali ke lapangan, hukuman kartu merah telah diberikan meskipun umpire sudah mengizinkan pergantian shuttlecock.
"Untuk kami berdua pasti belum terbiasa aja ya meskipun di Indonesia sempat ada peraturan time clock ini tapi kami belum ada peringatan dan belum ada kartu kuning atau penambahan poin lawan ya seperti tadi (kartu merah)," ucap Fajar.
Ia kemudian menjelaskan situasi yang dialami bersama Fikri saat pertandingan berlangsung. Menurut Fajar, penerapan aturan baru tersebut perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan kebingungan bagi pemain ketika menghadapi situasi pertandingan yang membutuhkan penanganan tertentu.
"Kami tidak mendelay tapi kami berusaha mencoba mengganti shuttlecock yang sudah rusak tapi pas kembali ke lapangan kami sudah dikasih kartu merah padahal umpire sudah mengizinkan untuk ganti," urai Fajar.
Ia juga menilai kombinasi aturan time clock dengan rencana perubahan sistem skor menjadi 15 poin pada tahun berikutnya berpotensi membuat pertandingan berlangsung semakin cepat dan menuntut pemain untuk segera kembali siap setelah reli berakhir.
"Menurut saya dengan peraturan baru ini harus ditinjau ulang karena di tahun depan pun sudah ganti jadi 15 poin yang akan lumayan cepat, ditambah lagi dengan time clock jadi pasti permainan itu terburu-buru. Langsung servis, langsung siap begitu padahal belum menghirup udara, belum cukup mengambil nafas sudah siap lagi," ulas Fajar.