Tertekan Variasi Serangan Lawan
Mengulas jalannya pertandingan, Febi Setianingrum mengakui bahwa mereka kesulitan keluar dari tekanan pasangan Tiongkok. Kualitas pengembalian bola yang kurang maksimal membuat lawan dengan mudah melancarkan serangan matang."Tadi kami lebih banyak tertekan. Pengembalian bolanya terlalu tanggung, jadi mereka enak buat menyerang kami," ujar Febi usai laga.
Senada dengan Febi, Rachel Allessya Rose menyoroti kondisi angin di lapangan yang dimanfaatkan dengan baik oleh lawan, terutama pada game pertama.
"Di game pertama posisi mereka kalah angin, tapi tekanan serangannya lumayan kencang. Padahal itu kesempatan kami untuk mengambil keuntungan. Ketika berbalik di gim kedua, tenaga mereka semakin kuat dan itu menyulitkan kami untuk membalikkan bola dengan bagus," jelas Rachel.
Modal Berharga dan Evaluasi
Baca juga: China Open 2026: Putri Ungkap Penyebab Kekalahannya
Meski harus terhenti, Rachel menggarisbawahi sisi positif dari rentetan pertandingan yang mereka jalani dalam dua pekan terakhir. Fleksibilitas strategi dan pola permainan yang kian beragam menjadi modal penting untuk perjalanan karier mereka ke depan."Banyak yang bisa diambil dari pertandingan-pertandingan di dua minggu ini. Dari beberapa kali main, cukup beda-beda pola yang bisa dimainkan, itu nilai positifnya. Cuma memang ada yang kebaca, ada yang lancar. Ini jadi modal untuk perbaikan ke depan," tambah Rachel.
Menatap Debut di Kejuaraan Dunia
Tidak ingin berlarut dalam kekecewaan, Rachel/Febi langsung mengalihkan fokus penuh pada agenda besar berikutnya: Kejuaraan Dunia yang akan menjadi penampilan perdana mereka.Febi menegaskan, sektor konsistensi dan kekuatan fisik menjadi fokus utama perbaikan dalam waktu dekat sebelum mereka tampil di panggung dunia.
"Setelah ini kami menatap Kejuaraan Dunia pertama kami. Harus meningkatkan lagi konsistennya dan ditambah tenaga pukulannya," tegas Febi penuh optimisme.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda