Festival Indonesia Moscow 2019 di Moskow, Rusia, Minggu (4/8/2019). Ada berbagai macam kuliner Nusantara diperdagangkan di festival ini./Medcom/Iwan Jaconiah
Festival Indonesia Moscow 2019 di Moskow, Rusia, Minggu (4/8/2019). Ada berbagai macam kuliner Nusantara diperdagangkan di festival ini./Medcom/Iwan Jaconiah (Iwan Jaconiah)

Iwan Jaconiah

Penyair, esais, kandidat PhD Culturology di Universitas Negeri Sosial Rusia.

Nalar dan Daya: Yang Kurang dari Festival Indonesia di Rusia

Oase kesenian indonesia-rusia
Iwan Jaconiah • 13 Agustus 2019 11:15
HAKIKAT ilmu budaya yang berkembang di Indonesia tak bisa terlepas dari tujuh unsur pembentuk identitas kultural itu sendiri. Setiap mahasiswa humaniora pasti menghafal betul di luar kepala.
 
Ketujuh unsur tersebut meliputi bahasa, pengetahuan, sosial, teknologi, ekonomi, religi, dan kesenian. Semuanya perlu saling bersinergis untuk mencapai suatu keberlangsungan peradaban.
 
Budaya memang akan terus berkembang berdasarkan ruang, matra, dan waktu. Diaspora Indonesia di luar negeri pun mengalami akulturasi. Meminjam istilah seorang ilmuwan Selo Soemardjan, bahwasanya kebudayaan merupakan segala bentuk hasil dari karya, karsa, dan cipta masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Esensi budaya di era globalisasi ini mengindikasikan, setiap orang bisa menggunakan celana jin atau sepatu bermerek tertentu. Semuanya sama, hampir seragam, dan selalu mirip. Budaya global telah menuntut masyarakat untuk memiliki daya konsumtif sama. Adanya ekspansi paket budaya Indonesia ke luar negeri sebagai cermin globalisasi. Itu nyata lewat Festival Indonesia. Helatan ini jadi corong promosi yang tepat dan ampuh. Pasalnya, melibatkan kementerian terkait seperti dari Kementerian Pariwisata dan Kementerian Luar Negeri.
 
Pada awal Agustus 2019 ini, ada dua gelaran Festival Indonesia berlangsung di daratan Eropa. Festival Indonesia di Moskow, Rusia, pada 3-5 Agustus dan Festival Indonesia di Paira Daiza, Belgia, pada 2-4 Agustus.
 
Di Moskow, misalnya, sebagaimana tempat saya bermukim kini, Festival Indonesia menjadi cermin nyata keterbukaan Rusia menerima budaya luar. Ketika Uni Soviet eksis pada 1922-1991, negara ini membentengi budaya mereka.
 
Namun, saat menjelma jadi Federasi Rusia sebagai perpanjang tangan, maka keterbukaan pun terasa. Hingga kini, mayoritas generasi muda Rusia lebih mudah menerima budaya luar, terutama American culture style dalam gaya hidup mereka.
 
Nalar dan sejarah
 
Saya melihat dan merasakan betul, empat tahun berturut-turut, Festival Indonesia di Moskow. Pesta ini digelar pertama kali pada 2016 dan sangat sukses penyelenggaraannya. Saya juga mendapatkan undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow untuk tampil sebagai pembaca puisi pada 2018 lalu.
 
Setiap tahun hampir sama konsepnya. Perbedaan mencolok hanya pada peserta dan menu makanan. Umumnya, program acara masih sama. Ada pertunjukan budaya, perdagangan, dan bisnis.

Hal mengusik adalah mampukah budaya Indonesia membumi di Rusia? Jangan-jangan setelah festival ini selesai digelar, orang Rusia pun memalingkan kepala dan membalikkan bahu terhadap apa yang baru saja mereka lihat di festival.

Tentu saja, bisa ya, bisa tidak. Sebab, mengingat hubungan Indonesia-Rusia bukanlah hal baru. Sudah dirintis sejak zaman Soekarno dan Nikita Sergeyevich Khrushchev. Tokoh sentral Bung Karno begitu kuat pengaruhnya.
 
Dalam sejarahnya, Rusia sudah menerima budaya luar sejak dinasti Romanov. Ketika Tsaritsina Ekaterina I (berkuasa pada 1725-1727), misalnya, ia sangat mencintai seni dan budaya Eropa Barat. Kebudayaan Eropa Barat dipapah ke istana. Bahasa dan gaya busana kaum ningrat pun mengadopsi kultural Prancis sebagai identitas kultural.
 
Jadi, keterbukaan Rusia untuk menerima budaya asing memang bukanlah juga hal baru. Ini menjadi perhatian menarik sebab kita berharap agar Festival Indonesia di Moskow dapat mendatangkan dampak, bukan sekadar pengkultusan budaya semata.
 
Sedikitnya, ada tiga sorotan positif terhadap Festival Indonesia dari kacamata saya. Pertama, masyarakat Rusia lebih mengetahui lagi tentang khazanah budaya Indonesia. Dalam hal ini, yaitu adanya suguhan tari tradisional, pentas wayang kulit, pameran foto wisata, dan aneka kerajinan tangan.
 
Kedua, perdagangan lokal membaik. Pengunjung diajak mencoba, merasakan, dan mengonsumsi kuliner Nusantara. Dan ketiga, pengetahuan masyarakat setempat akan daerah destinasi wisata bertambah sehingga dapat menghadirkan nilai ke depan.
 
Namun, perlu diketahui bahwa mayoritas masyarakat Rusia menghabiskan perjalanan wisata mereka di Asia Tenggara adalah Thailand. Kenapa? Karena jalinan komunikasi antara Kekaisaran Rusia dan Siam (Thailand) telah dilakukan sebelum abad 19.
 
Kala itu, kapal-kapal Rusia berlayar di Pelabuhan Siamese. Kapten Petshurov yang menahkodai kapal Gaydamak mencatat bahwa ia berhasil mengunjungi Bangkok pada 1863.
 
Lalu berlanjut saat seorang etnografer Nikolai Miklukho-Maclay meneliti di sana. Semua pun berlanjut di tingkat penguasa antara hubungan baik Rusia-Siam pada masa Tsar Alexander III.
 
Menurut data Layanan Keamanan Federal Federasi Rusia, pada 2018 ada sekitar 45 juta perjalanan warga Rusia ke luar negeri. Sejumlah 6.1% lebih tinggi dari pada 2017. Setiap tahun meningkat.
 
Hampir sepertiga (30.8%, atau 13, 762 juta) perjalanan dilakukan ke negara-negara tetangga: Kazakhstan, Moldova, Georgia, Armenia, Azerbaijan, Tajikistan, Kyrgyzstan, Turkmenistan, Abkhazia, Ossetia Selatan, dan Ukraina. Ini secara tradisional, warga Rusia tidak pergi ke negara-negara CIS (bekas Uni Soviet) itu untuk tujuan pariwisata.
 
Sekitar 21 juta perjalanan dilakukan ke negara-negara non-CIS (tidak termasuk perbatasan) atau 45.7% dari jumlah total (10.8% lebih dari setahun sebelumnya). Mereka melakukan bisnis pariwisata.
 
Tujuan negara paling populer di 2018 adalah Turki (5.9 juta perjalanan, meningkat 26.64% dibandingkan 2017). Di tempat kedua adalah Jerman (1.4 juta perjalanan, ditambah 5.9%), dan Thailand berada di baris ketiga (1.2 juta perjalanan, ditambah 7.4%).
 
Berdasarkan data ini menunjukkan bahwa Indonesia belum menjadi destinasi utama masyarakat Rusia. Thailand telah jadi surga bagi para milyuner dan kaum borjuis untuk menikmati pantai-pantai di ‘Negeri Gajah Putih’ itu.
 
Daya Festival Indonesia di Moskow
 
Festival Indonesia di Moskow baru berumur empat tahun. Dirintis Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia Wahid Supriyadi. Tujuannya untuk membumikan potensi budaya dan pasar Indonesia.
 
Tentu, visi besar ke depan demi meningkatkan hubungan diplomasi. Apalagi, gelaran Festival Indonesia, yang juga diadakan di Belgia, pasti memiliki nilai tambah bagi republik.
 
Namun, perlu diperhatikan agar jangan sampai Indonesia terus mempertontonkan kebudayaan kepada bangsa lain, krisis identitas berbangsa kita terporak-poranda oleh karena rasa minder dan rendah diri.
 
Pertama, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di atas panggung Festival Indonesia masih kurang terasa. Bahasa pengantar Rusia dan Inggris lebih mendominasi. Ini juga terasa pada diskusi-diskusi yang digelar di beberapa tenda selama acara digelar.
 
Sebagaimana salah satu unsur pembentuk identitas suatu budaya adalah bahasa. Bagaimana Bahasa Indonesia bisa diperjuangkan agar menjadi bahasa resmi di PBB kelak, tapi orang Indonesia sendiri masih minder menggunakannya di panggung festival.
 
Hal ini berbeda sekali dengan helatan atau festival budaya negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan, Cina, Jepang, dan India di Moskow. Mereka bangga menggunakan bahasa nasionalnya masing-masing sebagai pengantar di panggung.
 
Kedua, masih adanya pejabat lebih ‘stel yakin’ menggunakan bahasa Inggris saat memberi pidato. Padahal, tidak semua lapisan masyarakat Rusia bisa memahami bahasa tersebut.
 
Ketiga, festival ini masih sekadar seremonial tahunan belaka. Tidak ada penelitian ilmiah yang dipublikasikan terkait dampak festival dari tahun ke tahun. Ratusan mahasiswa dilibatkan, sayang bukan untuk mengkaji kualitas dan kuantitas festival. Mereka malah disibukan sebagai penjaga stand, pemandu, dan penerjemah.
 
Dan terakhir, pihak penyelenggara perlu melibatkan tenaga kurator dan kulturolog ke depannya. Ini berguna agar setiap penampil dan peserta festival dapat melewati proses penyeleksian dan pengkurasian agar lebih profesional dan berkualitas.
 
Festival Indonesia di Moskow hanyalah sumbu dan percikan api kecil di negeri orang. Jalan panjang bagi bangsa untuk mengarungi rimba raya masih panjang. Hanya ada satu kata: menakar budaya yang bukan sekadar pesta instan.
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif