Fatmawati Soekarno/Medcom/Nety Rita
Fatmawati Soekarno/Medcom/Nety Rita (Netty Rita Ariani Pasaribu)

Netty Rita Ariani Pasaribu

Pengolah Data Seksi Tata Kelola Persandian Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bengkulu

Di Balik Karya Besar Ibu Negara Pertama

Oase hut ri
Netty Rita Ariani Pasaribu • 27 Agustus 2019 11:48
"Sepanjang hayat dikandung badan, tak setitik desah napas pun kata menyerah demi Sang Merah Putih tetap berkibar di angkasa raya. Sepanjang darahku mengalir deras dan napasku berdesah keras menghentak kencang, memompa semangat syaraf di sekujur tubuhku, ku takkan pernah duduk terlena untuk menjaga kemuliaan bangsaku dan kehormatan negaraku."
 
TERIK matahari mulai terasa, seolah sang surya membakar kulit tubuhku. Angin sepoi-sepoi yang berembus lembut di wajah segera menghilangkan keringat juga lelahku. Kini, ku berada di pusat Kota Bengkulu, tepatnya di Simpang Lima Ratu Samban.
 
Perlahan kakiku melangkah menelusuri Jalan Fatmawati menuju rumah Nomor 10, rumah bersejarah Ibu Negara Republik Indonesia pertama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Kutatap rumah panggung yang berukuran tak terlalu besar itu terbuat dari kayu bercat cokelat dengan kaki-kaki penyangga yang terbuat dari beton bercat putih dan patung Fatmawati menghiasi halaman rumah, letaknya strategis di pinggir jalan, bersisian dengan masjid tampak sangat indah dan asri . Pintu dan jendela rumah bersejarah itu tampak terbuka lebar, menandakan siapa saja boleh datang berkunjung tanpa membayar. Di dalam ruangan koleksi-koleksi pribadi dan perabot rumah milik Ibu Fatmawati tertata rapi, lemari, ranjang besi, meja hias, kursi yang terawat baik.
 
Di bagian dinding terpajang foto-foto kenangan ibu Fatmawati sejak masa kecil hingga dewasa. Ada foto-foto kenangan bersama dengan Bung Karno beserta anak-anaknya dan foto Fatmawati ketika melakukan berbagai kunjungan kenegaraan.
 
Di Balik Karya Besar Ibu Negara Pertama
Museum Fatmawati Bengkulu, tampak muka/Medcom/Nety Rita
 
Langkahku terhenti, ketika melihat di sebelah pojok kanan ruang tamu ada hal yang menarik dan menyita perhatianku. Sesuatu yang langka yaitu benda bersejarah sebuah mesin jahit tua bermerk Singer bewarna merah buatan tahun 1941. Alat yang pernah digunakan untuk menjahit sebuah bendera Kebangsaan Indonesia bendera Sang Saka Merah Putih.
 
Aku merinding, aku membayangkan mesin jahit yang sudah terlihat usang dimakan usia itu pernah menyatukan dua helai kain merah dan putih menghasilkan Sang Saka Merah Putih menjadi sebuah bendera negara. Ternyata di balik semua itu ada sosok perempuan Indonesia yang bernama Fatmawati, sang istri dari Bapak Proklamator Indonesia, Ir Soekarno.
 
Peran penting
 
Perempuan hebat nan tangguh dengan nama asli Fatimah ternyata seorang putri Bengkulu lahir pada tanggal 5 Februari 1923 putri tunggal seorang tokoh asal kota yang sama, Hassan Din dan Siti Chadijah. Di usia 20 tahun Fatmawati menikah dengan Soekarno pada 1 Juni 1943 dan Fatmawati satu-satunya putri asli Bengkulu yang mendapat gelar Pahlawan Nasional.
 
Sejarah mencatat selama dua hari Fatmawati menyelesaikan jahitan bendera Merah Putih, tepat pada 17 Agustus 1945 bendera dikibarkan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Keesokan harinya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan rapat. Kala Soekarno dan Hatta ditunjuk sebagai Presiden dan Wakil Presiden, secara otomatis Fatmawati menjadi Ibu Negara Indonesia.
 
Menurut Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, sosok Fatmawati pantas menjadi figur yang menginspirasi bagi sejarah kemerdekaan Indonesia. Fatmawati memiliki peranan yang penting memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Keikutsertaan Fatmawati dalam membela tanah air sudah dia rintis sejak remaja, selain itu lingkungan dan keluarganya pun mendukung perkembangan jiwa patriot dalam diri Fatmawati.

"Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu,” kenang Fatmawati, seperti dikutip Bondan Winarno dalam Berkibarlah Benderaku, Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka.


"Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya paksakan diri menjahit bendera Merah Putih, jadi saya jahit berangsur-angsur dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja. Sebab, dokter melarang saya menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit," kata Fatmawati, masih dalam buku yang sama.
 
Seketika terlintas pikiranku saat membayangkan posisi tubuh dan stamina seorang ibu yang sedang hamil tua dalam melakukan aktifitas menjahit, tentunya berpengaruh pada kesehatan ibu dan juga janin yang berada dalam kandungan.
 
Bagaimana ibu Fatmawati yang sedang hamil tua melakukan pekerjaan menjahit di usia kandungannya sudah cukup bulan untuk melahirkan anak pertamanya?
 
Membayangkan adegan beliau dengan kondisi fisik yang cukup rentan menjahit sambil sesekali terisak menangis menyatukan dua helai merah dan putih ukuran besar dengan mesin jahit Singer yang dijalankan hanya dengan tangan bisa menjadi sebuah bendera negara.
 
Apakah saat itu ibu Fatmawati tidak percaya dengan mitos bahwa ibu hamil tidak boleh menjahit pakaian, karena percaya jika hal ini dilanggar akan menyebabkan terlahir bayi dengan bibir sumbing?
 
Sungguh luar biasa, sebuah karya besar dari seorang Ibu Negara yang tak ternilai harganya. Aku terkesima.
 
Berani dan suci
 
Fatmawati sungguh besar jasamu kepada negara sampai generasi saat ini. Engkau telah menjahit bendera negara dengan warna Merah Putih tanpa takut celaka ataupun dicelakai.
 
Tak bisa dipungkiri, Fatmawati merupakan ‘First Lady’ Indonesia pertama. Hanya Fatmawati yang dapat melakukannya, menjahit bendera Merah Putih sekaligus memiliki makna filosofis. Keberanian dan kesucian.
 
Merah melambangkan raga manusia, putih melambangkan jiwa manusia. Sebagai cerminan nilai-nilai budaya bangsa yang saling melengkapi dan menyempurnakan jiwa dan raga manusia untuk membangun Indonesia. Dia sosok perempuan yang semangat kemandiriannya kuat dan tangguh selalu berusaha dan tidak pernah mengeluh.
 
Setelah mengunjungi rumah fatmawati, saya merasakan ada manfaat juga pesan moral kudapatkan. Ada perjuangan, ada keberanian, ada kesetiaan, pantang menyerah dan sikap kepribadian serta jati diri yang matang dari seorang Fatmawati. Beliau menunjukkan bahwa perempuan bisa memberikan hal yang dapat berarti untuk negeri ini. Memberi pengaruh besar terhadap masyarakat terutama perempuan Indonesia tentunya.
 
Bulan Agustus sudah tiba, kita sebagai warga negara Indonesia yang baik mari mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumah, mengikuti upacara bendera dengan khidmat, juga aksi pengibaran bendera membentangkan Merah Putih merupakan salah satu bentuk cinta tanah air menunjukkan semangat nasionalisme, cinta serta bangga sebagai warga negara Indonesia.
 
Dan hendaknya dalam mengikuti upacara bendera bukanlah hanya kegiatan yang dilakukan sebagai rutinitas atau formalitas untuk menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa. Melainkan bertujuan untuk membentuk karakter cinta tanah air dan menjadikan bangsa yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, beradab berdasarkan Pancasila sehingga menjadikan bangsa yang berkarakter.
 
Di Balik Karya Besar Ibu Negara Pertama
Mesin jahit Ibu Negara Fatmawati/Medcom/Nety Rita
 
Bendera Merah Putih selalu menggetarkan hati, jangan biarkan bendera itu tercabik-cabik apalagi ketika dia dibawa dan dikibarkan oleh anak-anak muda yang penuh prestasi pastinya bisa membuat negara sangat merasa bangga.
 
"Sudah menjadi kehendak-Nya bahwa bangsa ini memang beragam, berbeda-beda. Dan aset penting untuk membangun sebuah negara yang maju dan besar adalah memperkokoh dan menjaga kerukunan, persatuan dan persaudaraan, coba kita lihat waktu badminton ada yang lihat agamanya apa, sukunya apa? Enggak ada, hanya untuk satu yaitu Merah Putih, Indonesia Raya, Negara kita tercinta. Inilah yang dibutuhkan negara ini, sebuah persatuan yang kuat, sebuah kerukunan yang kuat," kata Presiden Ir. Joko Widodo saat bersilaturahmi dengan para santri dan pengurus Pondok Pesantren Bugen Al Itqon Semarang, Jawa Tengah, Oktober tahun lalu.
 
"Indonesia, tanah air beta... Pusaka abadi nan jaya...
Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa...
Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda,
tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata..."

 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif