PENGIBARAN bendera Palestina di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, Rabu (30/9) waktu setempat, merupakan sejarah bagi Palestina. Ia menjadi simbol pengakuan resmi dunia akan eksistensi Palestina sebagai sebuah negara. Bagi rakyat Palestina, pengibaran bendera itu merupakan peneguhan identitas sebagai sebuah negara. "Dalam momen bersejarah ini, saya menyerukan kepada rakyat kami di mana pun kibarkan bendera milik rakyat Palestina tinggi-tinggi karena ini merupakan simbol dari identitas kami," kata Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pidatonya di prosesi pengibaran bendera Palestina itu.
Namun, kita menginginkan momentum itu dimaknai lebih dari peneguhan identitas semata karena ia justru bisa memantik konflik baru. Sejarah membuktikan penguatan identitas secara berlebihan sering kali diikuti perasaan bahwa diri kitalah yang paling hebat dan itu menyebabkan kita menegasikan yang lain. Kita sungguh tidak menginginkan pengibaran bendera Palestina di Markas PBB justru menghadirkan konflik baru yang boleh jadi lebih keras di antara kedua negara. Kita menghendaki pengibaran bendera Palestina itu bukan hanya sejarah bagi rakyat Palestina, melainkan juga bagi masyarakat internasional yang mendambakan tatanan dunia yang damai, adil, dan sejahtera.
Kita tahu konflik di Timur Tengah bahkan dunia dewasa ini seperti berpusat pada perseteruan Palestina-Israel. Itu artinya perdamaian di antara kedua negara menjadikan dunia relatif damai pula. Oleh karena itu, kita menghendaki pengibaran bendera Palestina di Markas PBB menjadi momentum besar mewujudkan perdamaian kedua negara. Itu sejalan dengan cita-cita PBB.
"Sekarang saatnya untuk menghadirkan kepercayaan bagi rakyat Israel dan Palestina untuk penyelesaian perdamaian dan pada akhirnya, realisasi dua negara untuk dua rakyat," kata Sekjen PBB Ban Ki moon. Kita mesti mengapresiasi PBB yang mengakui Palestina sebagai negara melalui prosesi pengibaran bendera tersebut. PBB telah menjalankan fungsinya sebagai penjaga perdamaian dan keamanan dunia. Peristiwa itu menunjukkan PBB tak selamanya takluk oleh pengaruh negara besar.
Amerika dan Israel serta enam negara lain menolak pengibaran bendera Palestina dalam pemungutan suara di sidang Majelis Umum PBB. Israel bahkan mendesak negara-negara anggota untuk tidak setuju dengan pengibaran bendera Palestina tersebut. Namun, 119 suara menyetujuinya sehingga bendera Palestina akhirnya bisa berkibar di Markas PBB. Kita berharap negara-negara yang menolak pengibaran bendera Palestina, terutama Israel, menerima realitas tersebut.
Akseptabilitas mereka akan berkontribusi pada terwujudnya perdamaian kedua negara. Perdamaian tak mungkin tercapai bila kedua pihak yang berseteru tetap saling menolak eksistensi yang lain. Perdamaian hanya akan terwujud bila pihak-pihak yang berkonflik menerima keberadaan masing-masing. Itu sesungguhnya pesan yang lebih ditujukan kepada para pemimpin. Rakyat Palestina dan Israel pasti sudah lelah berkonflik dan menginginkan perdamaian abadi di antara kedua negara.
Akan halnya Indonesia, kita jelas menyambut baik pengakuan resmi Palestina sebagai sebuah negara. Kita sejak dulu mendukung perjuangan Palestina dalam membebaskan diri dari pendudukan Israel. Kita berkeyakinan perdamaian tak akan terwujud bila masih ada penjajahan. Kita percaya perdamaian tak akan terealisasi tanpa kemerdekaan. Konstitusi menegaskan kita harus berkontribusi melaksanakan ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dukungan kepada Palestina merupakan bukti bahwa kita melaksanakan amanat konstitusi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
