Pontianak: Hujan alami dengan intensitas sedang dan durasi cukup lama dinilai menjadi salah satu cara paling efektif untuk membantu mengakhiri kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Bahkan, hujan selama sekitar lima jam dinilai sudah cukup signifikan untuk membantu proses pemadaman.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan hujan yang dibutuhkan bukan sekadar hujan dengan intensitas ringan dan berlangsung singkat. Karhutla membutuhkan curah hujan yang cukup untuk membasahi area terdampak secara menyeluruh.
"Jadi sebetulnya, hujan yang diharapkan bisa membantu proses pemadaman secara signifikan, itu adalah hujan yang terjadi secara alami dengan intensitas lebat dan lama," kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).
Menurut Daniel, hujan alami masih menjadi faktor yang paling efektif untuk membantu proses pemadaman. Pemerintah memang terus melakukan berbagai upaya, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), tetapi hasilnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer.
"Memang, yang lebih efektif dalam operasi pemadaman itu adalah kalau turun hujan. Nah, kita juga berharap ada turun hujan," ujarnya.
Bukan Hujan Sebentar
Daniel menjelaskan hujan dengan intensitas kecil yang hanya berlangsung dalam waktu singkat belum tentu mampu memadamkan api dan bara yang berada di lahan.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum otomatis mengakhiri persoalan karhutla. Bahkan, kondisi tersebut dapat membuat asap kembali terlihat karena bara atau titik panas yang berada di dalam lahan belum sepenuhnya padam.
Hujan yang diharapkan untuk membantu proses pemadaman adalah hujan dengan durasi cukup panjang dan intensitas yang memadai.
"Ya paling tidak, hujan itu sampai 5 jam dengan intensitas sedang, saya kira karhutla Kalimantan Barat beres," kata Daniel.
Dengan kondisi tersebut, Daniel menilai Kalimantan Barat tidak membutuhkan hujan dalam waktu berhari-hari untuk membantu mengakhiri karhutla.
"Cukup sehari saja hujannya. Enggak usah sampai seminggu," ujarnya.
Hujan Lebat Juga Bisa Picu Banjir
Meski hujan sangat dibutuhkan untuk membantu mengatasi karhutla, Daniel mengingatkan bahwa hujan deras dan berlangsung lama juga membawa tantangan lain.
Kalimantan Barat perlu mempersiapkan lingkungan agar mampu menerima curah hujan tinggi. Sebab, setelah menghadapi persoalan kebakaran dan kekeringan, masyarakat tidak ingin kembali berhadapan dengan bencana banjir.
"Kalau seminggu, nanti banjir pula. Jadi, hujan alami pun bisa menjadi tantangan tersendiri bagi kita di Kalimantan Barat," jelas Daniel.
Karena itu, hujan yang diharapkan bukan sekadar deras, tetapi juga cukup untuk membasahi lahan dan membantu memadamkan bara tanpa menimbulkan persoalan baru.
OMC Jadi Ikhtiar Tambahan
Selain mengandalkan hujan alami, pemerintah juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah terdampak.
Namun, Daniel menegaskan OMC tidak dapat dilakukan setiap saat. Operasi tersebut membutuhkan keberadaan awan konvektif yang dapat menjadi sasaran penyemaian.
"Karena, OMC itu bisa dilakukan di suatu wilayah kalau ada pertumbuhan awan konvektif. Kalau tidak ada, ya tidak bisa. Jadi sifatnya tentatif," katanya.
Hujan hasil OMC juga tidak selalu turun secara merata. Kondisi tersebut disebabkan pertumbuhan awan konvektif yang bersifat lokal dan dapat berada di wilayah tertentu saja.
Daniel mencontohkan, dalam satu kabupaten bisa saja terdapat wilayah yang diguyur hujan sementara wilayah lainnya tetap kering.
Karena itu, meski OMC terus diupayakan, hujan alami dengan durasi cukup lama dan intensitas memadai masih menjadi harapan utama untuk membantu mengakhiri karhutla di Kalimantan Barat.
Pontianak: Hujan alami dengan intensitas sedang dan durasi cukup lama dinilai menjadi salah satu cara paling efektif untuk membantu mengakhiri kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Bahkan, hujan selama sekitar lima jam dinilai sudah cukup signifikan untuk membantu proses pemadaman.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan hujan yang dibutuhkan bukan sekadar hujan dengan intensitas ringan dan berlangsung singkat. Karhutla membutuhkan curah hujan yang cukup untuk membasahi area terdampak secara menyeluruh.
"Jadi sebetulnya, hujan yang diharapkan bisa membantu proses pemadaman secara signifikan, itu adalah hujan yang terjadi secara alami dengan intensitas lebat dan lama," kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).
Menurut Daniel, hujan alami masih menjadi faktor yang paling efektif untuk membantu proses pemadaman. Pemerintah memang terus melakukan berbagai upaya, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), tetapi hasilnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer.
"Memang, yang lebih efektif dalam operasi pemadaman itu adalah kalau turun hujan. Nah, kita juga berharap ada turun hujan," ujarnya.
Bukan Hujan Sebentar
Daniel menjelaskan hujan dengan intensitas kecil yang hanya berlangsung dalam waktu singkat belum tentu mampu memadamkan api dan bara yang berada di lahan.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir belum otomatis mengakhiri persoalan karhutla. Bahkan, kondisi tersebut dapat membuat asap kembali terlihat karena bara atau titik panas yang berada di dalam lahan belum sepenuhnya padam.
Hujan yang diharapkan untuk membantu proses pemadaman adalah hujan dengan durasi cukup panjang dan intensitas yang memadai.
"Ya paling tidak, hujan itu sampai 5 jam dengan intensitas sedang, saya kira karhutla Kalimantan Barat beres," kata Daniel.
Dengan kondisi tersebut, Daniel menilai Kalimantan Barat tidak membutuhkan hujan dalam waktu berhari-hari untuk membantu mengakhiri karhutla.
"Cukup sehari saja hujannya. Enggak usah sampai seminggu," ujarnya.
Hujan Lebat Juga Bisa Picu Banjir
Meski hujan sangat dibutuhkan untuk membantu mengatasi karhutla, Daniel mengingatkan bahwa hujan deras dan berlangsung lama juga membawa tantangan lain.
Kalimantan Barat perlu mempersiapkan lingkungan agar mampu menerima curah hujan tinggi. Sebab, setelah menghadapi persoalan kebakaran dan kekeringan, masyarakat tidak ingin kembali berhadapan dengan bencana banjir.
"Kalau seminggu, nanti banjir pula. Jadi, hujan alami pun bisa menjadi tantangan tersendiri bagi kita di Kalimantan Barat," jelas Daniel.
Karena itu, hujan yang diharapkan bukan sekadar deras, tetapi juga cukup untuk membasahi lahan dan membantu memadamkan bara tanpa menimbulkan persoalan baru.
OMC Jadi Ikhtiar Tambahan
Selain mengandalkan hujan alami, pemerintah juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah terdampak.
Namun, Daniel menegaskan OMC tidak dapat dilakukan setiap saat. Operasi tersebut membutuhkan keberadaan awan konvektif yang dapat menjadi sasaran penyemaian.
"Karena, OMC itu bisa dilakukan di suatu wilayah kalau ada pertumbuhan awan konvektif. Kalau tidak ada, ya tidak bisa. Jadi sifatnya tentatif," katanya.
Hujan hasil OMC juga tidak selalu turun secara merata. Kondisi tersebut disebabkan pertumbuhan awan konvektif yang bersifat lokal dan dapat berada di wilayah tertentu saja.
Daniel mencontohkan, dalam satu kabupaten bisa saja terdapat wilayah yang diguyur hujan sementara wilayah lainnya tetap kering.
Karena itu, meski OMC terus diupayakan, hujan alami dengan durasi cukup lama dan intensitas memadai masih menjadi harapan utama untuk membantu mengakhiri karhutla di Kalimantan Barat.
(KAH)