Asap karhutla. Foto: Istimewa.
Asap karhutla. Foto: Istimewa.

Asap Karhutla Kok Bisa “Jalan-Jalan” ke Negara Tetangga? Ini Penjelasannya

Arif Wicaksono • 07 September 2026 13:04
Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata punya dampak yang bisa jauh lebih luas dari lokasi munculnya api. Asap yang dihasilkan pembakaran dapat terbawa angin dan menyebar hingga ke wilayah lain, termasuk menyeberangi batas negara.

Fenomena tersebut kembali menjadi sorotan di Pulau Kalimantan. Asap dari kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia dilaporkan bergerak menuju Sarawak, Malaysia. Kondisi ini kemudian berdampak terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat di wilayah tersebut.

Pertanyaannya, kok bisa asap karhutla sampai ke negara tetangga? Jawabannya berkaitan erat dengan angin dan kondisi atmosfer. Ketika hutan atau lahan terbakar, proses pembakaran menghasilkan partikel halus dan berbagai gas yang kemudian bercampur dengan udara. Partikel tersebut bisa ikut terbawa ketika massa udara bergerak.
 
Baca juga:  BPBD Kalbar Ungkap Cara Atasi Api yang Masih Membara di Lahan Gambut

Semakin kuat angin bertiup dan semakin mendukung kondisi atmosfer, semakin jauh pula asap dapat berpindah. Itu sebabnya lokasi yang terdampak asap belum tentu berada dekat dengan sumber kebakaran.

Pulau Kalimantan punya kondisi geografis yang membuat persoalan ini semakin kompleks. Wilayah pulau tersebut terbagi antara Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Di bagian utara, Kalimantan Barat Indonesia berbatasan langsung dengan Sarawak.

Jika pola angin membawa asap ke arah utara, partikel hasil pembakaran dari wilayah Indonesia dapat bergerak menuju Sarawak. Artinya, asap tidak perlu "izin masuk" untuk melewati perbatasan karena pergerakannya mengikuti dinamika atmosfer.

BNPB melihat kabut asap lintas batas sebagai persoalan yang membutuhkan penanganan bersama. Plt Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Berton Pandjaitan mengatakan setiap negara perlu melakukan langkah maksimal di wilayahnya sekaligus membangun kerja sama untuk mengurangi dampaknya.

"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," kata Berton.

Di Indonesia, penanganan dilakukan dari berbagai sisi. Tim gabungan melakukan pemadaman di darat, patroli kawasan rawan, hingga operasi pemadaman melalui udara. Water bombing juga digunakan pada lokasi tertentu, sementara operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya tambahan untuk membantu penanganan karhutla.

Kalbar Perkuat Pengawasan

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena posisinya berhadapan langsung dengan Sarawak. Pemerintah daerah memperkuat koordinasi melalui sistem satu komando agar informasi mengenai kebakaran bisa segera diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan sistem tersebut diperlukan agar pemerintah dapat memperoleh gambaran faktual mengenai situasi karhutla.

"Ini langkah cepat kita untuk mengetahui kondisi riil di lapangan," kata Norsan saat meninjau penanganan karhutla di Kabupaten Kubu Raya.

Pemantauan dilakukan melalui Command Center Pusdalops BPBD Kalimantan Barat. Dari pusat kendali tersebut, pemerintah daerah dapat melihat perkembangan titik panas, kondisi cuaca, arah angin serta progres pemadaman berdasarkan informasi dan pantauan satelit.

Data tersebut penting karena situasi kebakaran dapat berubah dengan cepat. Ketika cuaca semakin panas dan lahan kehilangan kelembapan, potensi api meluas juga meningkat.

Norsan pun meminta seluruh unsur yang terlibat, mulai dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan hingga pemerintah kabupaten dan kota, memperkuat koordinasi. Respons yang cepat dinilai penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar.

Saat Asap Sampai ke Malaysia

Dampak karhutla Indonesia kemudian terasa di Sarawak. Malaysia menetapkan keadaan darurat di Distrik Serian pada Jumat, 4 September 2026, setelah kualitas udara di wilayah tersebut masuk kategori berbahaya.

Data pemerintah Malaysia menunjukkan angka Air Pollution Index (API) di Serian sempat mencapai 519. Angka itu melewati level 500 yang menjadi ambang penetapan keadaan darurat.

Keputusan tersebut dikeluarkan Raja Malaysia Sultan Ibrahim setelah mendapatkan nasihat dari Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan Premier Sarawak Abang Johari Openg. Pemerintah Malaysia menyatakan kondisi kabut asap telah menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Sebelumnya, kabut asap juga berdampak pada kegiatan belajar mengajar sehingga sekolah di sejumlah wilayah Sarawak harus ditutup.

Wakil Premier Sarawak sekaligus Ketua State Disaster Management Committee, Douglas Uggah Embas, menilai kabut asap lintas batas bukan persoalan yang bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, masalah tersebut perlu dibicarakan melalui kerja sama regional dan jalur diplomatik.

Malaysia juga menjalankan langkah mitigasi di dalam negeri. Pemerintah Sarawak melakukan operasi modifikasi cuaca atau cloud seeding selama tiga hari mulai 3 September 2026.

Operasi tersebut menyasar kawasan tangkapan air untuk tiga bendungan pembangkit listrik tenaga air, yakni Batang Ai, Bakun dan Murum. Selain membantu mengatasi kabut asap, kegiatan itu ditujukan untuk meningkatkan cadangan air menghadapi potensi cuaca lebih panas dan kering.

Douglas mengatakan persediaan air perlu ditingkatkan sebagai antisipasi terhadap kondisi cuaca pada Oktober.

“Kami perlu meningkatkan ketersediaan air di bendungan sebagai persiapan menghadapi kondisi cuaca yang lebih panas dan kering,” kata Douglas seperti diberitakan The Star.

Gambut Bisa Jadi “Bom Waktu”

Persoalan karhutla menjadi semakin rumit ketika kebakaran terjadi di lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran di permukaan tanah biasa, api di kawasan gambut dapat masuk ke lapisan bawah dan bertahan meski kobaran di permukaan sudah tidak terlihat.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, menjelaskan karakteristik gambut menjadi salah satu faktor yang membuat pemadaman lebih sulit.

“Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan,” ujarnya.

Ketika lapisan gambut sudah kering, material organik di dalamnya dapat menjadi bahan bakar. Bara yang tertinggal di bawah tanah pun dapat kembali memicu kebakaran ketika kondisi tetap kering.

“Kondisi gambut yang mengering akan menjadi bahan bakar yang sangat efektif untuk terjadinya kebakaran yang berkesinambungan,” katanya.

Menurut Bambang, masalah lain muncul ketika ketersediaan air untuk pemadaman semakin terbatas. Turunnya muka air membuat lahan gambut kehilangan kelembapan dan pada saat yang sama menyulitkan petugas memperoleh sumber air.

“Sumber air lain seperti sumur bor menjadi tidak berfungsi, begitu juga kanal-kanal yang sudah dibangun, tetapi air yang tersedia sangat terbatas,” ujar Prof Bambang.

Kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan, termasuk fenomena El Nino, juga dapat mempercepat pengeringan gambut. Karena itu, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan pasukan pemadam setelah api membesar.

Bambang menilai ketersediaan sarana dan prasarana, jumlah personel, serta kemampuan petugas dalam menangani kebakaran turut menentukan keberhasilan pengendalian karhutla.
Sistem peringatan dan deteksi dini juga perlu diperkuat. Jika keberadaan titik api terlambat diketahui, peluang kebakaran berkembang menjadi lebih besar akan semakin tinggi.

Bambang juga menyoroti pentingnya menjaga tinggi muka air gambut. Dalam PP Nomor 71 Tahun 2014, pemerintah menetapkan batas tinggi muka air gambut paling rendah 40 sentimeter dibawah permukaan tanah untuk menjaga kondisi lahan tetap lembap.

Selain pengelolaan tata air, kepatuhan terhadap aturan pemanfaatan lahan gambut juga menjadi bagian penting dalam pencegahan. Menurut Bambang, pengelolaan gambut harus dilakukan sesuai ketentuan agar risiko kebakaran dapat ditekan.

Sementara itu, Greenpeace mencatat terdapat 592 titik sumber asap di Kalimantan pada 11-16 Agustus 2026. Sebanyak 455 titik di antaranya berada di lanskap gambut. Pemantauan Greenpeace juga menunjukkan adanya pergerakan asap dari Kalimantan menuju Sarawak.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan satu hal penting: karhutla bukan cuma tentang seberapa besar api yang terlihat. Ada persoalan asap, cuaca, angin, kondisi gambut hingga dampak kesehatan yang bisa menjalar jauh dari titik kebakaran.

Karena itu, pencegahan menjadi langkah yang tidak kalah penting dibandingkan pemadaman. Menjaga gambut tetap basah, memperbaiki tata kelola lahan, memperkuat deteksi dini, meningkatkan patroli serta menindak praktik pembakaran menjadi bagian dari upaya memutus siklus karhutla.

Dan ketika asap sudah bergerak mengikuti angin, batas negara pun tidak lagi menjadi penghalang. Api mungkin punya titik lokasi, tetapi asap bisa punya perjalanan yang jauh lebih panjang.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>