Pemadaman Karhutla. Foto: AFP.
Pemadaman Karhutla. Foto: AFP.

Hotspot Nasional Turun 194 Titik, Sumsel dan Jambi Masih Jadi Perhatian

Arif Wicaksono • 30 September 2026 09:33
Ringkasnya gini..
  • Kabar baik dari pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun cukup signifikan.
  • Data SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) hingga Senin, 28 September 2026 pukul 21.00 WIB mencatat 365 hotspot high confidence. Angka ini turun 194 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 559 titik.
Jakarta: Kabar baik dari pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun cukup signifikan.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) hingga Senin, 28 September 2026 pukul 21.00 WIB mencatat 365 hotspot high confidence. Angka ini turun 194 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 559 titik.
 
Meski secara nasional trennya menurun, bukan berarti situasi karhutla sudah sepenuhnya aman. Aktivitas hotspot masih meningkat di sejumlah wilayah, terutama Sumatra Selatan dan Jambi.

Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot high confidence terbanyak di antara enam wilayah prioritas pengendalian karhutla. Jumlahnya mencapai 96 titik, naik tajam dari 29 titik pada hari sebelumnya.

Jambi juga mengalami kenaikan. Hotspot di provinsi tersebut bertambah dari lima menjadi 25 titik.

Sementara itu, beberapa wilayah justru mencatat penurunan cukup besar. Kalimantan Tengah turun dari 134 menjadi 37 titik, sedangkan Kalimantan Selatan turun dari 25 menjadi empat titik.

Kalimantan Barat juga tidak lagi mencatat hotspot high confidence. Sehari sebelumnya, provinsi tersebut masih memiliki 11 titik. Riau pun tetap nihil hotspot.

Jika digabungkan, enam provinsi prioritas mencatat penurunan hotspot dari 204 menjadi 162 titik.

Hotspot Bukan Berarti Ada 365 Kebakaran

Ada satu hal penting yang perlu dipahami. Jumlah hotspot tidak sama dengan jumlah kejadian kebakaran.

Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Dalam pemantauan ini, data berasal dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Satu lokasi kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik panas. Karena itu, setiap hotspot tetap perlu dicek langsung di lapangan melalui groundcheck untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran.

Kemenhut pun tetap memperkuat operasi pengendalian, terutama di daerah yang mengalami kenaikan aktivitas hotspot.

61 Armada Udara Disiagakan

Pengendalian karhutla dilakukan lewat operasi darat dan udara. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk water bombing.

Sebanyak 55 armada udara ditempatkan untuk mendukung penanganan di enam provinsi prioritas. Sementara enam unit water bombing lainnya disiapkan untuk wilayah terdampak di luar enam provinsi tersebut.

Di darat, Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dan dunia usaha terus melakukan patroli, pengecekan lapangan hingga pemadaman.
 
Tim juga melakukan penyekatan agar api tidak menjalar, pembasahan, mopping up, dan pendinginan.

Penanganan menjadi lebih menantang ketika api berada di kawasan gambut. Api di lahan gambut bisa bertahan di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah terlihat padam.

Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan api benar-benar mati.

Kualitas Udara Masih Dipantau

Dari sisi kualitas udara, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori baik hingga sedang berdasarkan pemantauan PM2.5. Namun, beberapa kantong wilayah masih masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Kondisi udara tersebut tidak hanya dipengaruhi karhutla. Faktor cuaca dan kondisi atmosfer juga bisa membuat kualitas udara berubah dalam waktu relatif cepat.

Pada malam 28 September, misalnya, pemantauan BMKG Aviation menunjukkan jarak pandang di sejumlah bandara utama masih bervariasi.

Bandara Supadio Pontianak memiliki jarak pandang sekitar dua kilometer dengan kondisi berasap. Di Pekanbaru sekitar delapan kilometer, Jambi tujuh kilometer, Palembang 10 kilometer atau lebih, dan Banjarmasin sekitar sembilan kilometer.

Kondisi ini terus dipantau karena kualitas udara dan jarak pandang juga berkaitan dengan keselamatan masyarakat maupun aktivitas penerbangan.

Kemenhut mengimbau masyarakat di wilayah dengan kualitas udara yang memburuk untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, masyarakat disarankan menggunakan masker.

Kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis juga diminta lebih waspada.

Masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Jika melihat asap, titik api, atau aktivitas pembakaran lahan, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada petugas agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>