Kubu Raya: Ada secercah harapan setelah 63 hari Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berjibaku menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kubu Raya sebelumnya menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi di Kalimantan Barat.
Data BMKG hingga 31 Agustus 2026 mencatat 42 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi ada di Kubu Raya, terbanyak kedua di Kalbar setelah Ketapang yang mencapai 111 titik.
Kondisi itu membuat penurunan titik kebakaran di Kubu Raya menjadi kabar penting. Jumlah klaster titik api yang sebelumnya disebut mencapai lebih dari 1.000 kini turun drastis. Berdasarkan pemantauan terbaru, tersisa sekitar 27 klaster yang masih terbakar.
Penurunan tersebut menjadi kabar baik di tengah musim kering yang masih berlangsung. Namun, pemerintah dan masyarakat tidak ingin lengah.
Pengalaman menghadapi karhutla selama lebih dari dua bulan justru mendorong Kubu Raya menyiapkan berbagai langkah agar penanganan bencana tidak berhenti pada pemadaman.
Kepala Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, mengatakan penurunan titik api merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla.
“Grafiknya kecil-kecil. Kemarin angkanya hampir seribuan titik. Di atas itu seribu. Sekarang sudah hanya menyentuh 27 saja, 27 titik kluster yang terbakar,” kata Syarif kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, penurunan itu dipengaruhi kerja tim di lapangan, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta hujan yang turun di sejumlah wilayah.
Gotong Royong Membuat Api Terus Menurun
Selama 63 hari penanganan, pemadaman karhutla di Kubu Raya melibatkan banyak pihak.
BPBD bekerja bersama TNI, Polri, Brimob, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Masyarakat Peduli Api (MPA), serta berbagai unsur lainnya. Tambahan personel dari pemerintah pusat juga dikerahkan untuk memperkuat penanganan di lapangan.
Mereka bergerak sejak pagi hingga malam untuk mencari dan memadamkan api yang muncul di berbagai lokasi.
Medan yang dihadapi tidak mudah. Ketersediaan air, angin, jarak pandang, hingga akses menuju lokasi menjadi tantangan. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan upaya pemadaman.
Dukungan juga datang melalui operasi udara. Ketika kondisi memungkinkan, water bombing digunakan untuk membantu menjangkau kebakaran yang sulit ditangani dari darat.
Sementara itu, OMC menjadi upaya lain untuk membantu menghadirkan hujan ketika terdapat potensi awan hujan yang memungkinkan.
Kerja bersama tersebut perlahan menunjukkan hasil. Penurunan jumlah klaster titik api menjadi salah satu tanda bahwa tekanan kebakaran mulai berkurang.
Belajar dari Api, Menyiapkan Sistem Peringatan Dini
Bagi Kubu Raya, pengalaman menghadapi karhutla tahun ini tidak berhenti pada upaya memadamkan api.
Pemerintah mulai memikirkan cara mendeteksi ancaman kebakaran sebelum api membesar. Salah satu gagasan yang disiapkan adalah sistem peringatan dini untuk memantau tinggi muka air tanah di lahan gambut.
Ketika permukaan air tanah turun dan lahan mulai mengering, sistem tersebut diharapkan dapat memberikan peringatan lebih awal. Dengan begitu, upaya pembasahan kembali atau rewetting bisa dilakukan sebelum lahan menjadi terlalu kering dan mudah terbakar.
Pengembangan sistem tersebut direncanakan melibatkan akademisi Universitas Tanjungpura. Instrumen yang dikembangkan nantinya diharapkan dapat dipantau secara daring sehingga kondisi lahan bisa diketahui dengan lebih cepat.
Bagi daerah yang memiliki banyak kawasan gambut, kemampuan mendeteksi kekeringan lebih awal menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran berulang.
Sumur Bor Perkuat Kesiapsiagaan
Selain sistem pemantauan, ketersediaan air juga menjadi perhatian.
Kemarau panjang membuat sejumlah sumber air menyusut dan masyarakat di beberapa wilayah Kubu Raya mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla karena air merupakan kebutuhan utama untuk pemadaman.
Karena itu, penyediaan sumber air menjadi bagian dari langkah mitigasi.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I membangun sumur bor di sejumlah wilayah Kubu Raya. Fasilitas tersebut dilengkapi tandon air berkapasitas 5.000 liter untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kekeringan.
Tidak hanya untuk kebutuhan warga, fasilitas itu juga dilengkapi hidran yang dapat mendukung pemadaman kebakaran di sekitar lokasi.
Langkah tersebut membuat infrastruktur air memiliki fungsi ganda, memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla.
Dari Memadamkan Api ke Mencegah Kebakaran
Karhutla tahun ini juga memberikan pelajaran bahwa pencegahan harus berjalan bersamaan dengan pemadaman.
Pemerintah Kubu Raya mendorong tiga pendekatan, yakni pencegahan, mitigasi, dan penegakan hukum.
Pencegahan dilakukan dengan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan pengelolaan lahan. Mitigasi diarahkan pada penyediaan sumber air, pemantauan kondisi gambut, serta kesiapan personel dan peralatan.
Sementara penegakan hukum tetap berjalan terhadap kasus yang memiliki bukti memadai.
Pemerintah juga berupaya melibatkan perusahaan pemegang konsesi agar ikut memastikan wilayahnya terbebas dari kebakaran.
Pendekatan tersebut penting karena kebakaran yang berulang di sejumlah lokasi menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengejar api ketika sudah muncul.
Kubu Raya Belum Boleh Lengah
Penurunan jumlah titik api tentu belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Musim kering masih berlangsung dan sejumlah lokasi tetap membutuhkan pemantauan. Namun, setelah 63 hari berjibaku melawan api, Kubu Raya mulai memiliki alasan untuk melihat ke depan dengan lebih optimistis.
Gotong royong membuat api perlahan berkurang. Pengalaman di lapangan mendorong pemerintah menyiapkan sumber air, memperkuat mitigasi, dan merancang sistem peringatan dini.
Bagi Kubu Raya, bangkit dari karhutla bukan berarti melupakan bencana yang telah terjadi. Justru dari pengalaman itu, daerah ini mulai menyiapkan cara agar ketika musim kering kembali datang, upaya pencegahan bisa dimulai lebih cepat.
Kubu Raya: Ada secercah harapan setelah 63 hari Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berjibaku menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kubu Raya sebelumnya menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi di Kalimantan Barat.
Data BMKG hingga 31 Agustus 2026 mencatat 42 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi ada di Kubu Raya, terbanyak kedua di Kalbar setelah Ketapang yang mencapai 111 titik.
Kondisi itu membuat penurunan titik kebakaran di Kubu Raya menjadi kabar penting. Jumlah klaster titik api yang sebelumnya disebut mencapai lebih dari 1.000 kini turun drastis. Berdasarkan pemantauan terbaru, tersisa sekitar 27 klaster yang masih terbakar.
Penurunan tersebut menjadi kabar baik di tengah musim kering yang masih berlangsung. Namun, pemerintah dan masyarakat tidak ingin lengah.
Pengalaman menghadapi karhutla selama lebih dari dua bulan justru mendorong Kubu Raya menyiapkan berbagai langkah agar penanganan bencana tidak berhenti pada pemadaman.
Kepala Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, mengatakan penurunan titik api merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla.
“Grafiknya kecil-kecil. Kemarin angkanya hampir seribuan titik. Di atas itu seribu. Sekarang sudah hanya menyentuh 27 saja, 27 titik kluster yang terbakar,” kata Syarif kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, penurunan itu dipengaruhi kerja tim di lapangan, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta hujan yang turun di sejumlah wilayah.
Gotong Royong Membuat Api Terus Menurun
Selama 63 hari penanganan, pemadaman karhutla di Kubu Raya melibatkan banyak pihak.
BPBD bekerja bersama TNI, Polri, Brimob, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Masyarakat Peduli Api (MPA), serta berbagai unsur lainnya. Tambahan personel dari pemerintah pusat juga dikerahkan untuk memperkuat penanganan di lapangan.
Mereka bergerak sejak pagi hingga malam untuk mencari dan memadamkan api yang muncul di berbagai lokasi.
Medan yang dihadapi tidak mudah. Ketersediaan air, angin, jarak pandang, hingga akses menuju lokasi menjadi tantangan. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan upaya pemadaman.
Dukungan juga datang melalui operasi udara. Ketika kondisi memungkinkan, water bombing digunakan untuk membantu menjangkau kebakaran yang sulit ditangani dari darat.
Sementara itu, OMC menjadi upaya lain untuk membantu menghadirkan hujan ketika terdapat potensi awan hujan yang memungkinkan.
Kerja bersama tersebut perlahan menunjukkan hasil. Penurunan jumlah klaster titik api menjadi salah satu tanda bahwa tekanan kebakaran mulai berkurang.
Belajar dari Api, Menyiapkan Sistem Peringatan Dini
Bagi Kubu Raya, pengalaman menghadapi karhutla tahun ini tidak berhenti pada upaya memadamkan api.
Pemerintah mulai memikirkan cara mendeteksi ancaman kebakaran sebelum api membesar. Salah satu gagasan yang disiapkan adalah sistem peringatan dini untuk memantau tinggi muka air tanah di lahan gambut.
Ketika permukaan air tanah turun dan lahan mulai mengering, sistem tersebut diharapkan dapat memberikan peringatan lebih awal. Dengan begitu, upaya pembasahan kembali atau rewetting bisa dilakukan sebelum lahan menjadi terlalu kering dan mudah terbakar.
Pengembangan sistem tersebut direncanakan melibatkan akademisi Universitas Tanjungpura. Instrumen yang dikembangkan nantinya diharapkan dapat dipantau secara daring sehingga kondisi lahan bisa diketahui dengan lebih cepat.
Bagi daerah yang memiliki banyak kawasan gambut, kemampuan mendeteksi kekeringan lebih awal menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran berulang.
Sumur Bor Perkuat Kesiapsiagaan
Selain sistem pemantauan, ketersediaan air juga menjadi perhatian.
Kemarau panjang membuat sejumlah sumber air menyusut dan masyarakat di beberapa wilayah Kubu Raya mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla karena air merupakan kebutuhan utama untuk pemadaman.
Karena itu, penyediaan sumber air menjadi bagian dari langkah mitigasi.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I membangun sumur bor di sejumlah wilayah Kubu Raya. Fasilitas tersebut dilengkapi tandon air berkapasitas 5.000 liter untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kekeringan.
Tidak hanya untuk kebutuhan warga, fasilitas itu juga dilengkapi hidran yang dapat mendukung pemadaman kebakaran di sekitar lokasi.
Langkah tersebut membuat infrastruktur air memiliki fungsi ganda, memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla.
Dari Memadamkan Api ke Mencegah Kebakaran
Karhutla tahun ini juga memberikan pelajaran bahwa pencegahan harus berjalan bersamaan dengan pemadaman.
Pemerintah Kubu Raya mendorong tiga pendekatan, yakni pencegahan, mitigasi, dan penegakan hukum.
Pencegahan dilakukan dengan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan pengelolaan lahan. Mitigasi diarahkan pada penyediaan sumber air, pemantauan kondisi gambut, serta kesiapan personel dan peralatan.
Sementara penegakan hukum tetap berjalan terhadap kasus yang memiliki bukti memadai.
Pemerintah juga berupaya melibatkan perusahaan pemegang konsesi agar ikut memastikan wilayahnya terbebas dari kebakaran.
Pendekatan tersebut penting karena kebakaran yang berulang di sejumlah lokasi menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengejar api ketika sudah muncul.
Kubu Raya Belum Boleh Lengah
Penurunan jumlah titik api tentu belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Musim kering masih berlangsung dan sejumlah lokasi tetap membutuhkan pemantauan. Namun, setelah 63 hari berjibaku melawan api, Kubu Raya mulai memiliki alasan untuk melihat ke depan dengan lebih optimistis.
Gotong royong membuat api perlahan berkurang. Pengalaman di lapangan mendorong pemerintah menyiapkan sumber air, memperkuat mitigasi, dan merancang sistem peringatan dini.
Bagi Kubu Raya, bangkit dari karhutla bukan berarti melupakan bencana yang telah terjadi. Justru dari pengalaman itu, daerah ini mulai menyiapkan cara agar ketika musim kering kembali datang, upaya pencegahan bisa dimulai lebih cepat.
(KAH)