Kubu Raya: Bagi Rita Yuni, berada di tengah asap dan api bukan alasan untuk memilih tinggal di rumah. Perempuan 46 tahun itu justru turun langsung membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar tempat tinggalnya.
“Lebih seru saja daripada di dapur,” kata Rita kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Rita merupakan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Kuala Dua, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Menariknya, ia tidak sendirian.
Suaminya, Ratno Timur, merupakan anggota BPBD Kubu Raya. Putra mereka, Kenzie, yang berusia 15 tahun, juga ikut bergabung dalam MPA. Ketiganya kerap turun bersama membantu memadamkan api yang muncul tidak jauh dari rumah mereka.
Dari Operator Mesin hingga Masuk Parit Gambut
Rita mengerjakan berbagai hal ketika berada di lokasi kebakaran.
“Segala macam, segalanya di lapangan. Kadang saya operator mesin air, kadang saya ikut menyiram,” ujarnya.
Ia sudah beberapa kali mengikuti suaminya melakukan pemadaman sejak Ratno bekerja di BPBD Kubu Raya. Tahun ini, keterlibatannya semakin aktif setelah resmi menjadi anggota MPA Kuala Dua.
Namun, pengalaman di lapangan juga memperlihatkan risiko yang harus dihadapi.
Suatu pagi, ketika api membesar dan menjalar ke pepohonan, Rita bersama suami dan anaknya berada di lokasi. Api disebut mencapai ketinggian sekitar 3 hingga 4 meter.
Saat berusaha memadamkan api, Rita masuk ke parit di kawasan gambut. Tanah yang diinjaknya tiba-tiba amblas hingga tubuhnya terperosok sedalam dada.
“Pakaian kotor semua. Personel lain juga sudah kewalahan,” kenangnya.
Laporan kebakaran kemudian diteruskan kepada Tim Alpha. Sekitar 15 menit setelah laporan diterima, bantuan datang dan penanganan dilanjutkan bersama.
Suami Mengajarkan, Anak Ikut Belajar
Ratno Timur sudah mengenal pekerjaan penanganan bencana sejak lama.
Sebelum bergabung dengan BPBD Kubu Raya pada 2017, Ratno pernah menjadi pengemudi pimpinan bupati selama sekitar 13 tahun. Setelah kembali ke kampung halamannya di Malang, ia bergabung dengan BPBD Kubu Raya dan mendapat pelatihan penanganan kebakaran.
Sejak itu, ia semakin sering turun ke lapangan.
“Kadang musim kemarau kita main api, musim hujan kita main air. Kalau banjir, turun juga,” ujar Ratno.
Pengetahuan tersebut kemudian ia bagikan kepada keluarganya.
Ketika ditanya apakah khawatir istri dan anaknya ikut dalam aktivitas berisiko, Ratno menjawab:
“Yang penting dibekali ilmunya saja. Itu kan saya ajarkan dan memang dia sudah biasa ikut sehari-hari,” katanya.
Kenzie pun ikut membantu ketika berada di lokasi. Ratno mengatakan putranya membawa selang dan menyiramkan air. Kenzie juga mengikuti latihan pencak silat.
Jalur Mancing Jadi Jalan Menuju Api
Hobi memancing yang dimiliki Rita dan Ratno ternyata ikut membantu aktivitas mereka di lapangan.
Saat mencari lokasi memancing, keduanya mengenal banyak jalur kecil menuju kawasan yang sulit dijangkau kendaraan.
“Sejak dulu kami ini suka mancing. Jadi cari spot mancing, tahu jalan-jalan tikus. Kalau pas ada kejadian kebakaran, lewat sini cepat,” kata Ratno.
Pengetahuan tentang jalur tersebut membuat mereka memiliki akses alternatif ketika harus menuju lokasi kebakaran.
Bukan Hanya Api yang Harus Diwaspadai
Karhutla di lahan gambut juga menyimpan ancaman lain.
Saat berjaga seorang diri pada malam hari, Rita pernah mendengar suara benda jatuh disusul suara seperti raungan dari arah depan. Ia menduga suara tersebut berasal dari beruang.
“Saya lari ke jalan cari aman,” ujarnya.
Selain satwa liar seperti beruang dan ular kobra, Ratno menyebut tawon vespa sebagai salah satu ancaman yang perlu diwaspadai.
“Kalau ular masih bisa dihindari karena menggunakan sepatu bot tinggi. Tapi kalau tawon vespa, sarangnya di bawah, di semak-semak. Mereka bisa terbang dan mengikuti kita,” kata Ratno.
Medan karhutla karena itu bukan hanya soal mencari sumber api dan menyemprotkan air. Tanah gambut dapat amblas, api bisa membesar, dan satwa liar dapat muncul sewaktu-waktu.
Tetap Bergerak Meski Dicemooh
Ratno mengaku tim pemadam kerap mendapat kritik ketika dianggap terlambat menangani kebakaran. Padahal, laporan titik api tidak selalu datang bersamaan, sementara jumlah personel dan mesin pemadam terbatas.
“Relawan-relawan pemadam ini tetap selalu dicemooh sama masyarakat,” katanya.
Ada pula komentar yang menganggap pemadaman dilakukan seperti bermain-main. Bagi Ratno dan timnya, setiap laporan tetap harus diperiksa dan ditentukan prioritasnya.
Jika api berada dekat permukiman, lokasi tersebut menjadi prioritas.
“Kalau ada satu kena pemukiman, biarpun kandang terbakar atau apa, pasti cepat (ditangani),” ujarnya.
Tim juga mempertimbangkan jarak lokasi, kondisi api, posisi mesin dan selang, serta jumlah personel sebelum memutuskan penanganan.
Jiwa yang Berbeda
Komentar negatif dari lingkungan sekitar tidak membuat Rita berhenti turun ke lapangan.
“Tetangga atau ibu-ibu lain juga suka ngomongin saya. Tapi dalam hati saya bilang, jiwa kita beda,” kata Rita.
Rita mengatakan tidak semua orang memiliki dorongan yang sama untuk membantu ketika terjadi kebakaran. Ia juga tidak memaksakan putri sulungnya untuk ikut turun ke lapangan.
“Kalau jiwa orang enggak punya rasa kemanusiaan sih begitu nanyanya. Ngapain sih ikut? Apa enggak capek? Enggak dibayar lagi? Oh, jiwa kita beda,” imbuhnya.
Bagi Rita, kegemarannya berada di lapangan juga tidak terlepas dari jiwa petualang yang sudah dimilikinya bersama Ratno sejak lama.
“Kita suka berpetualang dari dulu. Sebelumnya, kita berdua memang suka ke mana-mana. Pokoknya, keliling-keliling. Biasa pakai motor ke jalan yang belum pernah dilalui,” ujarnya.
Kebiasaan itu membantu mereka mengenali jalur-jalur kecil di sekitar Kuala Dua, termasuk akses menuju lokasi yang sulit dijangkau.
Keluarga yang Memilih Berada di Garis Depan
Rita mulai aktif membantu pemadaman sejak Januari 2026. Keterlibatannya kembali meningkat ketika musim karhutla memasuki Juli dan akhirnya ia resmi menjadi anggota MPA Kuala Dua.
Kisah Rita dan keluarganya berlangsung di tengah ancaman karhutla yang masih tinggi di Kubu Raya. Kabupaten ini menjadi salah satu wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak di Kalimantan Barat.
Berdasarkan data BMKG hingga 31 Agustus 2026, Kubu Raya mencatat 42 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, terbanyak kedua setelah Kabupaten Ketapang.
Kondisi tersebut membuat keterlibatan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran menjadi bagian penting dalam upaya penanganan karhutla.
Bagi Rita, turun ke lapangan bukan hanya soal memadamkan api. Ada rasa kemanusiaan dan kegemaran berpetualang yang membuatnya memilih tetap bergerak ketika kebakaran terjadi.
Dan ketika ada yang mempertanyakan pilihannya, Rita punya jawaban sederhana.
“Jiwa kita beda,” katanya.
Kubu Raya: Bagi Rita Yuni, berada di tengah asap dan api bukan alasan untuk memilih tinggal di rumah. Perempuan 46 tahun itu justru turun langsung membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar tempat tinggalnya.
“Lebih seru saja daripada di dapur,” kata Rita kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Rita merupakan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Kuala Dua, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Menariknya, ia tidak sendirian.
Suaminya, Ratno Timur, merupakan anggota BPBD Kubu Raya. Putra mereka, Kenzie, yang berusia 15 tahun, juga ikut bergabung dalam MPA. Ketiganya kerap turun bersama membantu memadamkan api yang muncul tidak jauh dari rumah mereka.
Dari Operator Mesin hingga Masuk Parit Gambut
Rita mengerjakan berbagai hal ketika berada di lokasi kebakaran.
“Segala macam, segalanya di lapangan. Kadang saya operator mesin air, kadang saya ikut menyiram,” ujarnya.
Ia sudah beberapa kali mengikuti suaminya melakukan pemadaman sejak Ratno bekerja di BPBD Kubu Raya. Tahun ini, keterlibatannya semakin aktif setelah resmi menjadi anggota MPA Kuala Dua.
Namun, pengalaman di lapangan juga memperlihatkan risiko yang harus dihadapi.
Suatu pagi, ketika api membesar dan menjalar ke pepohonan, Rita bersama suami dan anaknya berada di lokasi. Api disebut mencapai ketinggian sekitar 3 hingga 4 meter.
Saat berusaha memadamkan api, Rita masuk ke parit di kawasan gambut. Tanah yang diinjaknya tiba-tiba amblas hingga tubuhnya terperosok sedalam dada.
“Pakaian kotor semua. Personel lain juga sudah kewalahan,” kenangnya.
Laporan kebakaran kemudian diteruskan kepada Tim Alpha. Sekitar 15 menit setelah laporan diterima, bantuan datang dan penanganan dilanjutkan bersama.
Suami Mengajarkan, Anak Ikut Belajar
Ratno Timur sudah mengenal pekerjaan penanganan bencana sejak lama.
Sebelum bergabung dengan BPBD Kubu Raya pada 2017, Ratno pernah menjadi pengemudi pimpinan bupati selama sekitar 13 tahun. Setelah kembali ke kampung halamannya di Malang, ia bergabung dengan BPBD Kubu Raya dan mendapat pelatihan penanganan kebakaran.
Sejak itu, ia semakin sering turun ke lapangan.
“Kadang musim kemarau kita main api, musim hujan kita main air. Kalau banjir, turun juga,” ujar Ratno.
Pengetahuan tersebut kemudian ia bagikan kepada keluarganya.
Ketika ditanya apakah khawatir istri dan anaknya ikut dalam aktivitas berisiko, Ratno menjawab:
“Yang penting dibekali ilmunya saja. Itu kan saya ajarkan dan memang dia sudah biasa ikut sehari-hari,” katanya.
Kenzie pun ikut membantu ketika berada di lokasi. Ratno mengatakan putranya membawa selang dan menyiramkan air. Kenzie juga mengikuti latihan pencak silat.
Jalur Mancing Jadi Jalan Menuju Api
Hobi memancing yang dimiliki Rita dan Ratno ternyata ikut membantu aktivitas mereka di lapangan.
Saat mencari lokasi memancing, keduanya mengenal banyak jalur kecil menuju kawasan yang sulit dijangkau kendaraan.
“Sejak dulu kami ini suka mancing. Jadi cari spot mancing, tahu jalan-jalan tikus. Kalau pas ada kejadian kebakaran, lewat sini cepat,” kata Ratno.
Pengetahuan tentang jalur tersebut membuat mereka memiliki akses alternatif ketika harus menuju lokasi kebakaran.
Bukan Hanya Api yang Harus Diwaspadai
Karhutla di lahan gambut juga menyimpan ancaman lain.
Saat berjaga seorang diri pada malam hari, Rita pernah mendengar suara benda jatuh disusul suara seperti raungan dari arah depan. Ia menduga suara tersebut berasal dari beruang.
“Saya lari ke jalan cari aman,” ujarnya.
Selain satwa liar seperti beruang dan ular kobra, Ratno menyebut tawon vespa sebagai salah satu ancaman yang perlu diwaspadai.
“Kalau ular masih bisa dihindari karena menggunakan sepatu bot tinggi. Tapi kalau tawon vespa, sarangnya di bawah, di semak-semak. Mereka bisa terbang dan mengikuti kita,” kata Ratno.
Medan karhutla karena itu bukan hanya soal mencari sumber api dan menyemprotkan air. Tanah gambut dapat amblas, api bisa membesar, dan satwa liar dapat muncul sewaktu-waktu.
Tetap Bergerak Meski Dicemooh
Ratno mengaku tim pemadam kerap mendapat kritik ketika dianggap terlambat menangani kebakaran. Padahal, laporan titik api tidak selalu datang bersamaan, sementara jumlah personel dan mesin pemadam terbatas.
“Relawan-relawan pemadam ini tetap selalu dicemooh sama masyarakat,” katanya.
Ada pula komentar yang menganggap pemadaman dilakukan seperti bermain-main. Bagi Ratno dan timnya, setiap laporan tetap harus diperiksa dan ditentukan prioritasnya.
Jika api berada dekat permukiman, lokasi tersebut menjadi prioritas.
“Kalau ada satu kena pemukiman, biarpun kandang terbakar atau apa, pasti cepat (ditangani),” ujarnya.
Tim juga mempertimbangkan jarak lokasi, kondisi api, posisi mesin dan selang, serta jumlah personel sebelum memutuskan penanganan.
Jiwa yang Berbeda
Komentar negatif dari lingkungan sekitar tidak membuat Rita berhenti turun ke lapangan.
“Tetangga atau ibu-ibu lain juga suka ngomongin saya. Tapi dalam hati saya bilang, jiwa kita beda,” kata Rita.
Rita mengatakan tidak semua orang memiliki dorongan yang sama untuk membantu ketika terjadi kebakaran. Ia juga tidak memaksakan putri sulungnya untuk ikut turun ke lapangan.
“Kalau jiwa orang enggak punya rasa kemanusiaan sih begitu nanyanya. Ngapain sih ikut? Apa enggak capek? Enggak dibayar lagi? Oh, jiwa kita beda,” imbuhnya.
Bagi Rita, kegemarannya berada di lapangan juga tidak terlepas dari jiwa petualang yang sudah dimilikinya bersama Ratno sejak lama.
“Kita suka berpetualang dari dulu. Sebelumnya, kita berdua memang suka ke mana-mana. Pokoknya, keliling-keliling. Biasa pakai motor ke jalan yang belum pernah dilalui,” ujarnya.
Kebiasaan itu membantu mereka mengenali jalur-jalur kecil di sekitar Kuala Dua, termasuk akses menuju lokasi yang sulit dijangkau.
Keluarga yang Memilih Berada di Garis Depan
Rita mulai aktif membantu pemadaman sejak Januari 2026. Keterlibatannya kembali meningkat ketika musim karhutla memasuki Juli dan akhirnya ia resmi menjadi anggota MPA Kuala Dua.
Kisah Rita dan keluarganya berlangsung di tengah ancaman karhutla yang masih tinggi di Kubu Raya. Kabupaten ini menjadi salah satu wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak di Kalimantan Barat.
Berdasarkan data BMKG hingga 31 Agustus 2026, Kubu Raya mencatat 42 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, terbanyak kedua setelah Kabupaten Ketapang.
Kondisi tersebut membuat keterlibatan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran menjadi bagian penting dalam upaya penanganan karhutla.
Bagi Rita, turun ke lapangan bukan hanya soal memadamkan api. Ada rasa kemanusiaan dan kegemaran berpetualang yang membuatnya memilih tetap bergerak ketika kebakaran terjadi.
Dan ketika ada yang mempertanyakan pilihannya, Rita punya jawaban sederhana.
“Jiwa kita beda,” katanya.
(KAH)