Festival Jejak Pangan Lestari (FJPL) 2026 digelar di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026. dok kspl
Festival Jejak Pangan Lestari (FJPL) 2026 digelar di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026. dok kspl

Libatkan Berbagai Pihak, FJPL 2026 Dorong Transformasi Sistem Pangan

Adri Prima • 11 Oktober 2026 15:08
Ringkasnya gini..
  • KSPL menggelar FJPL 2026 di Lapangan Banteng untuk menyambut Hari Pangan Sedunia dan membahas sistem pangan Indonesia.
  • FJPL 2026 menyoroti peran keluarga, generasi muda, pemerintah, dan komunitas dalam mendorong sistem pangan berkelanjutan.
  • Festival menghadirkan diskusi, bedah buku sukun, edukasi lingkungan, serta sajian pangan lokal gratis bagi pengunjung.
Jakarta: Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) kembali menyelenggarakan Festival Jejak Pangan Lestari (FJPL) 2026 pada Sabtu, 10 Oktober 2026 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta. Gelaran ini bertujuan untuk menyambut Hari Pangan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober.

Festival tahunan ini mempertemukan berbagai pihak untuk membahas sistem pangan Indonesia dari hulu ke hilir serta mengajak masyarakat memahami peran pangan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tahunnya, festival ini terus berkembang berkat dukungan dan keterlibatan berbagai mitra, jejaring, komunitas, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Sekretariat KSPL, Gina Karina mengatakan bahwa salah satu hal yang membedakan FJPL tahun ini adalah keluarga dan kelompok keimanan menjadi bagian penting dari festival. Keluarga merupakan komunitas yang paling dekat dengan keseharian kita. 

“Banyak keputusan terkait pangan terjadi pertama kali di dalam keluarga: apa yang kita beli, masak, makan, simpan, hingga bagaimana kita memperlakukan pangan yang tersisa. Di sisi lain, keimanan juga memegang peranan penting dalam menentukan gaya hidup individu di Indonesia, termasuk pola makan,” kata Gina.

Festival ini juga menjadi ruang untuk memperkuat pesan bahwa perubahan dalam sistem pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan generasi muda. 

Jarot Indarto selaku Direktur Pangan dan Pertanian di Kementerian PPN/Bappenas menambahkan, isu pangan adalah isu sistemik, sehingga butuh kolaborasi berbagai pihak termasuk generasi muda.  “Masyarakat dapat menjadi bagian aktif dari perubahan melalui pola produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan, sementara generasi muda diharapkan dapat berperan sebagai agen perubahan melalui inovasi, kreativitas, kewirausahaan, dan gerakan komunitas dalam membangun sistem pangan Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” terangnya.
kspl 2


Keterlibatan pemerintah menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi sistem pangan Indonesia. Pasalnya, kedaulatan pangan adalah harga diri bangsa. 

"Pemerintah terus mengambil langkah-langkah strategis untuk mendukung transformasi sistem pangan Indonesia. Hal ini dilakukan melalui sinkronisasi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan pangan bersama kementerian dan badan di bidang pangan, sekaligus mengawal program-program prioritas nasional agar selaras dengan pilar sistem pangan yang sehat, lestari, beragam, adil, dan tangguh,” ujar Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Mochamad Saleh Nugrahadi.
 

Kolaborasi di level internasional


Upaya mendorong transformasi sistem pangan juga membutuhkan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak di tingkat internasional. Norwegia telah menjadi mitra jangka panjang Food and Land Use Coalition (FOLU) di tingkat global dan Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) melalui dukungan Norwegian International Climate and Forest Initiative (NICFI) dan Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD) sejak 2017.

Esben Marcussen, Counsellor Climate and Forest dari Kedutaan Besar Norwegia menjelaskan, kemitraan ini merupakan wujud komitmen Norwegia dalam mendukung transformasi sistem pangan tata guna lahan yang lebih berkelanjutan, terutama untuk mengatasi deforestasi.

“Transformasi sistem pangan merupakan hal yang penting, tidak hanya untuk menghadapi perubahan iklim dan melindungi alam, tetapi juga untuk memperkuat penghidupan masyarakat di Indonesia,” ungkap Marcussen.

Berbagai kegiatan di FJPL 2026 yakni menghadirkan diskusi interaktif, booth mitra KSPL, bedah buku tentang sukun, dan pemutaran film mengenai peran ayah dalam pemenuhan gizi keluarga. Festival ini juga menyediakan ruang bermain anak serta edukasi pemilahan sampah dan pertanian urban. Tak ketinggalan hiburan hingga sajian berbagai pangan lokal yang bisa dinikmati gratis oleh pengunjung.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>