Jakarta: Pemulihan masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, diperkuat melalui lima kegiatan ekonomi kreatif yang melibatkan tidak kurang dari 500 peserta. Program tersebut mencakup peningkatan keterampilan pelaku usaha, sertifikasi kompetensi, penguatan ketahanan bisnis, hingga pemulihan psikososial anak melalui seni dan permainan edukatif.
Rangkaian kegiatan bertajuk “Ekraf Peduli” itu berlangsung pada 10-13 September 2026 dan menjadi bagian dari Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera dengan semangat “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengatakan kreativitas dapat menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk melewati masa sulit sekaligus menumbuhkan kembali optimisme setelah bencana.
“Kreativitas adalah cahaya yang paling terang, bahkan di masa yang sulit sekalipun,” ujar Teuku Riefky saat menyaksikan anak-anak mengikuti kegiatan pemulihan berbasis ekonomi kreatif dikutip pada Sabtu, 12 Agustus 2026.
Baca Juga :
Pemulihan Ekonomi Aceh Timur Bergerak Signifikan, Penyaluran Bantuan Sosial Capai 99 Persen
Secara keseluruhan, Kementerian Ekonomi Kreatif telah menyiapkan 103 kegiatan PRRP dengan target 5.788 penerima manfaat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak 30 kegiatan yang memfasilitasi 2.216 peserta telah terlaksana, sedangkan 73 kegiatan lainnya dengan sasaran 3.572 peserta akan dijalankan secara bertahap hingga akhir 2026.
Di Aceh Tamiang, program dilaksanakan melalui peningkatan kualitas memasak bersama Master (MASAMO) bagi 100 peserta, Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih untuk 80 konten kreator dan pelaku usaha, sertifikasi kompetensi bagi 100 barista, Unjuk Karya Melukis yang diikuti 100 anak, serta permainan board game bagi siswa dari delapan sekolah tingkat SD dan SMP.
Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak terdampak banjir melalui program Creative Recovery for Children. Dalam kegiatan tersebut, para peserta menggunakan pigmen alami dari lumpur dan debu sisa banjir untuk menghasilkan karya seni. Pendekatan ini membantu anak-anak mengekspresikan pengalaman sekaligus membangun kembali rasa percaya diri dan harapan mereka.
“Hari ini, melalui seni lukis, kita tidak lagi bicara tentang sisa bencana. Kita bicara tentang Harapan Baru,” kata Teuku Riefky.
Pemulihan anak juga dilakukan melalui permainan papan Sekata dan Superfood. Selain menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, permainan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat interaksi sosial, mengasah keterampilan, serta membantu anak-anak pulih dari dampak psikologis bencana.
Sebagai tindak lanjut, Menteri Ekraf menginstruksikan agar 10 karya lukis paling inspiratif dari anak-anak Aceh Tamiang dibawa ke Jakarta untuk dipamerkan. Karya tersebut juga akan dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah, seperti art print dan merchandise, sehingga semangat kebangkitan anak-anak Tamiang dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Program ekonomi kreatif tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pemulihan sesaat. Penguatan keterampilan memasak, kompetensi barista, pembuatan konten, dan ketahanan bisnis diarahkan untuk membantu masyarakat kembali produktif serta membuka sumber penghidupan baru setelah bencana.
Jakarta: Pemulihan masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, diperkuat melalui lima kegiatan
ekonomi kreatif yang melibatkan tidak kurang dari 500 peserta. Program tersebut mencakup peningkatan keterampilan pelaku usaha, sertifikasi kompetensi, penguatan ketahanan bisnis, hingga pemulihan psikososial anak melalui seni dan permainan edukatif.
Rangkaian kegiatan bertajuk “Ekraf Peduli” itu berlangsung pada 10-13 September 2026 dan menjadi bagian dari Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera dengan semangat “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengatakan kreativitas dapat menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk melewati masa sulit sekaligus menumbuhkan kembali optimisme setelah bencana.
“Kreativitas adalah cahaya yang paling terang, bahkan di masa yang sulit sekalipun,” ujar Teuku Riefky saat menyaksikan anak-anak mengikuti kegiatan pemulihan berbasis ekonomi kreatif dikutip pada Sabtu, 12 Agustus 2026.
Secara keseluruhan, Kementerian Ekonomi Kreatif telah menyiapkan 103 kegiatan PRRP dengan target 5.788 penerima manfaat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak 30 kegiatan yang memfasilitasi 2.216 peserta telah terlaksana, sedangkan 73 kegiatan lainnya dengan sasaran 3.572 peserta akan dijalankan secara bertahap hingga akhir 2026.
Di Aceh Tamiang, program dilaksanakan melalui peningkatan kualitas memasak bersama Master (MASAMO) bagi 100 peserta, Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih untuk 80 konten kreator dan pelaku usaha, sertifikasi kompetensi bagi 100 barista, Unjuk Karya Melukis yang diikuti 100 anak, serta permainan board game bagi siswa dari delapan sekolah tingkat SD dan SMP.
Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak terdampak banjir melalui program Creative Recovery for Children. Dalam kegiatan tersebut, para peserta menggunakan pigmen alami dari lumpur dan debu sisa banjir untuk menghasilkan karya seni. Pendekatan ini membantu anak-anak mengekspresikan pengalaman sekaligus membangun kembali rasa percaya diri dan harapan mereka.
“Hari ini, melalui seni lukis, kita tidak lagi bicara tentang sisa bencana. Kita bicara tentang Harapan Baru,” kata Teuku Riefky.
Pemulihan anak juga dilakukan melalui permainan papan Sekata dan Superfood. Selain menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, permainan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat interaksi sosial, mengasah keterampilan, serta membantu anak-anak pulih dari dampak psikologis bencana.
Sebagai tindak lanjut, Menteri Ekraf menginstruksikan agar 10 karya lukis paling inspiratif dari anak-anak Aceh Tamiang dibawa ke Jakarta untuk dipamerkan. Karya tersebut juga akan dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah, seperti art print dan merchandise, sehingga semangat kebangkitan anak-anak Tamiang dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Program ekonomi kreatif tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pemulihan sesaat. Penguatan keterampilan memasak, kompetensi barista, pembuatan konten, dan ketahanan bisnis diarahkan untuk membantu masyarakat kembali produktif serta membuka sumber penghidupan baru setelah bencana.
(ANN)