Pontianak: Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Namun, operasi tersebut tidak bisa dilakukan setiap saat dan di sembarang wilayah.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, khususnya keberadaan awan konvektif yang dapat menjadi sasaran penyemaian.
"Karena, OMC itu bisa dilakukan di suatu wilayah kalau ada pertumbuhan awan konvektif. Kalau tidak ada, ya tidak bisa. Jadi sifatnya tentatif," kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).
Dengan kata lain, keberadaan wilayah yang sedang mengalami karhutla belum otomatis membuat OMC dapat langsung dilakukan. Tim harus menunggu kondisi awan yang memungkinkan untuk mendukung proses modifikasi cuaca.
Tidak Semua Wilayah Bisa Diguyur Hujan
Ketergantungan terhadap awan konvektif juga membuat hujan hasil OMC tidak selalu turun secara merata. Hujan yang terbentuk dapat bersifat lokal, bergantung pada lokasi dan perkembangan awan yang menjadi sasaran penyemaian.
Daniel menjelaskan kondisi tersebut dapat terjadi bahkan dalam satu kabupaten. Sebagian wilayah bisa mendapatkan hujan, sementara wilayah lain masih tetap kering.
"Belum tentu juga ini satu kabupaten Kapuas Hulu itu bisa hujan merata," ujarnya.
Dia mencontohkan posisi awan konvektif yang dapat berada di kecamatan tertentu. Ketika penyemaian dilakukan pada awan tersebut, hujan yang turun pun belum tentu menjangkau seluruh wilayah dalam satu kabupaten.
"Jadi awan konvektif itu tempatnya berada di kecamatan mana misalnya? Nah, jadi jangan heran jika misalnya di tempat tertentu tidak hujan, tempat lain malah hujan, seperti yang orang sebut hujan lokal begitu," jelas Daniel.
Kapuas Hulu hingga Sambas Berpotensi Tumbuh Awan
Berdasarkan prakiraan BMKG yang diterima BPBD Kalimantan Barat, pertumbuhan awan konvektif pada Senin, 7 September 2026, terdapat di sejumlah wilayah.
Daniel menyebut wilayah tersebut meliputi Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau, dan Sambas.
Keberadaan awan konvektif di wilayah-wilayah tersebut menjadi peluang untuk dilakukan penyemaian. Namun, hal itu tidak berarti seluruh wilayah kabupaten akan otomatis mendapatkan hujan.
Selain lokasi awan, pergerakan awan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kondisi atmosfer dapat berubah sehingga hasil penyemaian tidak selalu sesuai dengan wilayah yang menjadi target awal.
"Ini kan sudah bergerak nih, heli ke sana sudah menyemai ya, belum tentu juga ini satu kabupaten Kapuas Hulu itu bisa hujan merata," kata Daniel.
OMC Hanya Ikhtiar Tambahan
Daniel menegaskan OMC merupakan salah satu bentuk ikhtiar pemerintah untuk membantu mempercepat datangnya hujan. Namun, hujan alami dengan durasi panjang dan intensitas yang memadai tetap menjadi harapan utama dalam penanganan karhutla.
"Kalau OMC ini, ini hanya sekadar ikhtiar kita saja," ujarnya.
Menurut dia, hujan alami memiliki peran penting karena dapat membantu membasahi lahan secara lebih signifikan. Terlebih, satgas darat masih menghadapi keterbatasan sumber air dalam melakukan proses pendinginan di lokasi karhutla.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan OMC. Operasi darat tetap dilakukan untuk memadamkan api dan mendinginkan titik-titik yang masih menyimpan bara.
Mengapa Awan Konvektif Penting?
Secara sederhana, OMC membutuhkan awan yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi hujan. Awan konvektif menjadi salah satu sasaran karena di dalamnya terdapat proses pembentukan dan pertumbuhan butir air yang dapat didorong melalui penyemaian.
Tanpa awan yang sesuai, penyemaian tidak dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Karena itu, OMC bukan metode untuk menciptakan hujan dari kondisi langit yang sepenuhnya cerah.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa pelaksanaan OMC bersifat tentatif. Tim harus memantau perkembangan awan dan kondisi atmosfer sebelum menentukan lokasi yang dapat dilakukan penyemaian.
Di tengah penanganan karhutla Kalimantan Barat, OMC pun ditempatkan sebagai salah satu upaya pendukung. Operasi pemadaman dan pendinginan oleh satgas darat tetap menjadi bagian penting untuk memastikan api dan bara benar-benar padam.
Dengan demikian, keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi alam. Ketika awan konvektif tersedia, peluang penyemaian untuk memicu hujan dapat dimanfaatkan. Namun, ketika awan yang sesuai tidak terbentuk, operasi tersebut tidak dapat dipaksakan.
Pontianak: Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Namun, operasi tersebut tidak bisa dilakukan setiap saat dan di sembarang wilayah.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, khususnya keberadaan awan konvektif yang dapat menjadi sasaran penyemaian.
"Karena, OMC itu bisa dilakukan di suatu wilayah kalau ada pertumbuhan awan konvektif. Kalau tidak ada, ya tidak bisa. Jadi sifatnya tentatif," kata Daniel kepada Medcom.id, Senin (7/9/2026).
Dengan kata lain, keberadaan wilayah yang sedang mengalami karhutla belum otomatis membuat OMC dapat langsung dilakukan. Tim harus menunggu kondisi awan yang memungkinkan untuk mendukung proses modifikasi cuaca.
Tidak Semua Wilayah Bisa Diguyur Hujan
Ketergantungan terhadap awan konvektif juga membuat hujan hasil OMC tidak selalu turun secara merata. Hujan yang terbentuk dapat bersifat lokal, bergantung pada lokasi dan perkembangan awan yang menjadi sasaran penyemaian.
Daniel menjelaskan kondisi tersebut dapat terjadi bahkan dalam satu kabupaten. Sebagian wilayah bisa mendapatkan hujan, sementara wilayah lain masih tetap kering.
"Belum tentu juga ini satu kabupaten Kapuas Hulu itu bisa hujan merata," ujarnya.
Dia mencontohkan posisi awan konvektif yang dapat berada di kecamatan tertentu. Ketika penyemaian dilakukan pada awan tersebut, hujan yang turun pun belum tentu menjangkau seluruh wilayah dalam satu kabupaten.
"Jadi awan konvektif itu tempatnya berada di kecamatan mana misalnya? Nah, jadi jangan heran jika misalnya di tempat tertentu tidak hujan, tempat lain malah hujan, seperti yang orang sebut hujan lokal begitu," jelas Daniel.
Kapuas Hulu hingga Sambas Berpotensi Tumbuh Awan
Berdasarkan prakiraan BMKG yang diterima BPBD Kalimantan Barat, pertumbuhan awan konvektif pada Senin, 7 September 2026, terdapat di sejumlah wilayah.
Daniel menyebut wilayah tersebut meliputi Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau, dan Sambas.
Keberadaan awan konvektif di wilayah-wilayah tersebut menjadi peluang untuk dilakukan penyemaian. Namun, hal itu tidak berarti seluruh wilayah kabupaten akan otomatis mendapatkan hujan.
Selain lokasi awan, pergerakan awan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kondisi atmosfer dapat berubah sehingga hasil penyemaian tidak selalu sesuai dengan wilayah yang menjadi target awal.
"Ini kan sudah bergerak nih, heli ke sana sudah menyemai ya, belum tentu juga ini satu kabupaten Kapuas Hulu itu bisa hujan merata," kata Daniel.
OMC Hanya Ikhtiar Tambahan
Daniel menegaskan OMC merupakan salah satu bentuk ikhtiar pemerintah untuk membantu mempercepat datangnya hujan. Namun, hujan alami dengan durasi panjang dan intensitas yang memadai tetap menjadi harapan utama dalam penanganan karhutla.
"Kalau OMC ini, ini hanya sekadar ikhtiar kita saja," ujarnya.
Menurut dia, hujan alami memiliki peran penting karena dapat membantu membasahi lahan secara lebih signifikan. Terlebih, satgas darat masih menghadapi keterbatasan sumber air dalam melakukan proses pendinginan di lokasi karhutla.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan OMC. Operasi darat tetap dilakukan untuk memadamkan api dan mendinginkan titik-titik yang masih menyimpan bara.
Mengapa Awan Konvektif Penting?
Secara sederhana, OMC membutuhkan awan yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi hujan. Awan konvektif menjadi salah satu sasaran karena di dalamnya terdapat proses pembentukan dan pertumbuhan butir air yang dapat didorong melalui penyemaian.
Tanpa awan yang sesuai, penyemaian tidak dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Karena itu, OMC bukan metode untuk menciptakan hujan dari kondisi langit yang sepenuhnya cerah.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa pelaksanaan OMC bersifat tentatif. Tim harus memantau perkembangan awan dan kondisi atmosfer sebelum menentukan lokasi yang dapat dilakukan penyemaian.
Di tengah penanganan karhutla Kalimantan Barat, OMC pun ditempatkan sebagai salah satu upaya pendukung. Operasi pemadaman dan pendinginan oleh satgas darat tetap menjadi bagian penting untuk memastikan api dan bara benar-benar padam.
Dengan demikian, keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi alam. Ketika awan konvektif tersedia, peluang penyemaian untuk memicu hujan dapat dimanfaatkan. Namun, ketika awan yang sesuai tidak terbentuk, operasi tersebut tidak dapat dipaksakan.
(KAH)