Kawanan Kerbau 'Bule' keturunan Kerbau Pusaka Keraton Kyai Slamet memimpin kirab peringatan 1 Suro di kawasan Keraton Kasunanan Solo. MTVN/Pythag Kurniati
Kawanan Kerbau 'Bule' keturunan Kerbau Pusaka Keraton Kyai Slamet memimpin kirab peringatan 1 Suro di kawasan Keraton Kasunanan Solo. MTVN/Pythag Kurniati

Jadwal Kirab Pusaka Malam 1 Suro Solo 2026, Tradisi Sakral yang Selalu Dinanti

Arif Wicaksono • 15 Juni 2026 11:51
Solo: Malam 1 Suro atau tahun baru islam menjadi salah satu momen budaya paling sakral dalam tradisi masyarakat Jawa. 
 
Setiap tahunnya, ribuan warga dari berbagai daerah bersama wisatawan memadati Kota Solo untuk menyaksikan Kirab Pusaka yang digelar oleh Pura Mangkunegaran maupun Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
 
Tradisi yang berlangsung saat pergantian Tahun Baru Islam ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan juga menjadi simbol refleksi diri, doa keselamatan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah dijaga selama berabad-abad. 
 
Baca juga: Yuk Merapat! Festival Muharram 1448 H Digelar di Taman Bendera Pusaka 14-15 Juni        

Suasana khidmat yang menyelimuti jalannya kirab menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin merasakan langsung nuansa spiritual khas Jawa.

Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui akun Instagram resmi Mangkunegaran, Kirab
Pusaka Dalem 1 Suro tahun 2026 dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026. 
 
Prosesi akan dimulai dari Pura Mangkunegaran pada pukul 19.00 WIB yang diperkirakan kembali menarik perhatian ribuan peserta maupun penonton.
 
Salah satu ciri khas kirab di lingkungan Mangkunegaran adalah prosesi Laku Tapa Bisu. Dalam tradisi ini, peserta berjalan mengelilingi kawasan kota tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan tersebut dimaknai sebagai bentuk perenungan, introspeksi diri, serta pengendalian batin dalam menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa.
 
Selama prosesi berlangsung, sejumlah pusaka keraton akan dibawa oleh para abdi dalem dengan tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun. Iring-iringan yang berjalan dalam suasana hening menciptakan pemandangan yang unik sekaligus sarat makna spiritual.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti kirab, pihak Mangkunegaran juga menetapkan ketentuan busana yang harus dipatuhi. 
 
Peserta pria diwajibkan mengenakan blangkon gaya Mangkunegaran tanpa prada maupun bros, dipadukan dengan beskap krowok hitam berkancing polos. Keris berwarangka gayaman dikenakan di bagian belakang, sementara jarik yang digunakan harus bermotif sogan gaya Surakarta khas Mangkunegaran. Motif batik Parang dan Lereng tidak diperkenankan digunakan dalam prosesi ini.
 
Selain itu, peserta pria juga diwajibkan mengenakan alas kaki berwarna hitam tanpa ornamen mencolok. Namun, alas kaki tersebut harus dilepas saat kirab berlangsung sebagai bagian dari tata cara yang berlaku.
 
Sementara itu, peserta wanita diwajibkan mengenakan kebaya Kartini hitam polos berlengan panjang dengan bahan yang sederhana seperti katun, rayon, sifon, satin, atau linen. Rambut ditata menggunakan gelung Jawa tradisional atau ukel konde tanpa tambahan hiasan berlebihan. Riasan wajah juga dianjurkan tampil sederhana agar tetap selaras dengan nuansa khidmat yang menjadi ruh dari perayaan Malam 1 Suro.
 
Jarik yang dikenakan peserta wanita juga harus menggunakan motif sogan gaya Surakarta khas Mangkunegaran. Sama seperti peserta pria, motif Parang dan Lereng tidak diperbolehkan. Alas kaki berwarna hitam dapat digunakan saat persiapan, namun wajib dilepas ketika mengikuti jalannya kirab.
 
Sebagai salah satu agenda budaya terbesar di Solo, Kirab Pusaka Malam 1 Suro tidak hanya menjadi atraksi yang menarik wisatawan, tetapi juga menjadi wujud nyata pelestarian tradisi Jawa. Melalui prosesi yang berlangsung khidmat dan penuh makna, masyarakat diajak untuk merenungkan perjalanan hidup sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>